Demonstrasi dan aksi protes terkait diskriminasi rasial kembali terjadi di Amerika Serikat selama beberapa hari belakangan akibat kematian sejumlah warga kulit hitam dalam beberapa waktu terakhir yang disebabkan oleh aksi kekerasan dari pihak kepolisian. Demonstrasi tersebut dipicu oleh kematian seorang warga kulit hitam asal Minneapolis, George Floyd. Floyd meninggal dunia karena kehabisan napas setelah seorang polisi kulit putih menekan tengkuk pria tak bersenjata tersebut dengan lutut. Demonstrasi pertama kali pecah di Minneapolis, Minnesota sehari setelah kematian Floyd pada Senin (25/5). Aksi unjuk rasa serupa kemudian juga terjadi di beberapa wilayah lain di Amerika Serikat antara lain New York, Oakland, Danver, hingga Washington DC dan sempat menyebabkan Gedung Putih harus tutup untuk sementara. Dalam aksi-aksi di sejumlah wilayah tersebut, para demonstran menggaungkan seruan “no justice, no peace” dan “say his name. George Floyd” tanpa henti.

Demonstrasi sejatinya berjalan dengan damai, namun kemudian mulai terjadi kerusuhan di sejumlah daerah, utamanya setelah diadakan pengadilan Derek Chauvin, anggota polisi yang ditangkap atas kematian George Floyd,  dan pada akhirnya ia dijatuhi hukuman untuk pembunuhan tingkat tiga – tidak disengaja dan merupakan kecelakaan. Berdasarkan rekaman video yang menunjukkan peristiwa terbunuhnya George Floyd, nampak Chauvin dengan sengaja menekan lututnya meski Floyd telah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak bisa bernapas, sementara masyarakat di sekitarnya juga telah memohon anggota polisi tersebut untuk membiarkannya bangun. Video ini kemudian menjadi bukti dan bahan pemicu amarah yang sejatinya telah lama terdapat di tengah-tengah masyarakat Minneapolis yang merasakan adanya bias rasis di sistem pengadilan kriminal Amerika Serikat dan kematian para warga kulit hitam di tangan polisi lokal. Selain itu, para demonstran menuntut keadilan terhadap tiga polisi lain yakni Thomas Lane, Tou Thao, dan J Alexander Kueng yang juga terlibat dalam pembunuhan Floyd. Keempat polisi tersebut kemudian dipecat dari kepolisian, satu hari setelah video pembunuhan Floyd tersebar di media sosial.

Meski Walikota Jacob Frey telah menetapkan jam 8 malam sebagai batas akhir demonstrasi, namun justru semakin banyak demonstran yang turun ke jalanan pada malam keempat unjuk rasa. Akibatnya, banyak anggota petugas keamanan nasional dan tentara kenegaraan datang untuk menertibkan massa, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Kerusuhan telah menyebabkan api melahap beberapa mobil di sekitar kawasan tersebut serta beberapa restoran dan kantor Wells Fargo.

Di Atlanta, demonstrasi yang telah berjalan damai setelah beberapa jam kemudian berubah menjadi rusuh dengan para demonstran yang menghancurkan mobil-mobil milik polisi, membakar satu di antaranya, menyemprotkan cat di kantor CNN, dan membobol restoran. Gubernur Georgia, Brian Kemp telah berupaya menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang mempermalukan kota. Namun upaya tersebut tidak berhasil hingga ia terpaksa mengumumkan keadaan darurat yang bertujuan untuk “melindungi masyarakat dan properti Atlanta”. Sementara itu unjuk rasa juga terjadi di depan Gedung Putih dengan Trump masih berada di dalamnya. Beberapa demonstran mencoba untuk menerobos batas depan keamanan yang telah disiapkan oleh US Secret Service hingga menyebabkan Gedung Putih harus tutup untuk sementara. Serangkaian demonstrasi tersebut merupakan yang terburuk dalam sejarah Amerika beberapa tahun terakhir. Kantor Berita AP News menuliskan bahwa Pentagon telah memerintahkan unit militer untuk bersiap berangkat ke Minneapolis atas perintah Trump.

Menelusuri kembali kasus rasisme di Amerika Serikat, kematian Floyd sejatinya bukan satu-satunya pemicu amarah warga Amerika yang sesungguhnya. Bahkan, insiden Floyd terjadi tak lama setelah dua warga kulit hitam Amerika lainnya tewas. Ahmaud Barbery tewas pada 23 Februari lalu setelah ditembak oleh dua pria kulit putih ketika tengah lari pagi di lingkungan rumahnya di Brunswick, Georgia. Kemudian beberapa pekan setelah kematian Barbery, perempuan kulit hitam bernama Breonna Taylor tewas tertembak saat sedang tertidur oleh seorang anggota keamanan yang sedang merazia gedung apartemennya pada Maret lalu. Oleh karenanya, demonstrasi dan unjuk rasa yang terjadi di Amerika Serikat saat ini sejatinya telah berakar dari kasus-kasus seputar rasisme yang telah terjadi berulang kali. Kini amarah dan rasa sakit yang dirasakan oleh masyarakat kulit hitam di Amerika semakin terbuka dan pecah di jalanan tempat demonstrasi berlangsung.

Referensi:

Holcombe, Madeline. 2020. “Americans Wake Up to Another Day of Uncertainty After a Night of Fire and Outrage” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/05/30/us/george-floyd-protests-saturday/index.html [diakses 30 Mei 2020]

Aljazeera. 2020. “Protests Across US as Cop Charged with Murder of George Floyd” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/05/protests-cop-charged-murder-george-floyd-200530074749991.html [diakses 30 Mei 2020]

Holmes, Oliver. 2020. “George Floyd Killing Sparks Protests Across US: at a Glance Guide” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/us-news/2020/may/30/george-floyd-protests-latest-at-a-glance-white-house [diakses 30 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti