Pandemik virus corona telah menyebabkan tantangan-tantangan tersendiri bagi perekonomian dunia. Turunnya harga saham dan penurunan dalam proses produksi dan penjualan berbagai perusahaan kemudian mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk beradaptasi agar dapat tetap bertahan. Selain itu, para pekerja yang kini work from home atau bekerja dari rumah juga khawatir dengan situasi yang tidak pasti dan dampak jangka panjang yang dapat terjadi, mengingat selama pandemik telah terjadi sejumlah kebijakan pemecatan pekerja oleh perusahaan untuk meminimalisir kerugian. Dengan demikian, penggunaan teknologi dan sistem informasi-komunikasi modern kemudian menjadi semakin signifikan di tengah situasi pandemik. Menyadari hal ini, baik aktor negara maupun non-negara segera berlomba-lomba untuk menciptakan sistem baru yang efektif dan efisien, serta memudahkan kehidupan masyarakat.

Menurut Sir Martin Sorrell, virus corona akan mempercepat revolusi digital seiring dengan meningkatnya ketergantungan bisnis dan masyarakat terhadap teknologi. Ia mengatakan bahwa para pebisnis mungkin masih ragu untuk memasuki dunia digital secara keseluruhan karena ketidakpastian situasi di masa depan dan mereka tidak ingin mengacaukan segalanya jika pandemik berakhir dan aktivitas bisnis berjalan dengan normal kembali. Namun, ia berpendapat bahwa sejatinya transfromasi digital sangatlah penting bagi para pebisnis untuk mengurangi biaya, serta mengikuti gaya hidup konsumen yang tentu akan berubah pula dalam situasi ini. Sally Maitlis, seorang professor bisnis di Oxford University juga menyatakan bahwa cepat atau lambat, masyarakat akan menyadari bahwa mereka dapat bekerja dan berkomunikasi melalui cara yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya, hingga terdorong untuk menggunakan teknologi dalam kegiatan sehari-hari seperti bekerja dan aktivitas konsumsi.

Lebih lanjut, situasi pandemik sejatinya dapat dikatakan sebagai pisau bermata dua karena telah melahirkan tren-tren baru yang dapat menjadi keuntungan maupun kerugian bagi berbagai pihak. Pertama, penggunaan sistem informasi dan komunikasi secara digital memberi keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan besar. Selama pandemik, para pengusaha retail besar mengalami kenaikan permintaan seiring dengan program karantina masyarakat di rumah masing-masing. Contohnya, meski sempat mengalami penurunan, penjualan Walmart dan Amazon melonjak sebanyak 25% dalam pekan berikutnya. Sedangkan di sisi lain, para pengusaha independen kecil dan menengah justru mengalami kesulitan dengan metode ini. Hal ini terjadi di Jepang yang banyak terdiri dari pengusaha independen. Pada akhirnya mereka tetap menjalankan bisnis seperti biasa meski terdapat himbauan untuk tetap di rumah. Selanjutnya, program karantina juga mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang dapat mengurangi kebosanan seperti menonton film. Dalam hal ini, perusahaan streaming seperti Netflix dan Youtube mengalami peningkatan penonton yang cukup tajam. Sementara itu, para pengusaha bioskop dan produksi film itu sendiri justru mengalami penurunan dan terpaksa harus tutup sementara karena terhambat virus corona. Hal serupa juga terjadi dengan tempat olahraga seperti gym karena kini masyarakat lebih memilih untuk menonton video olahraga dari rumah atau home workout.

Situasi ini kemudian juga menguntungkan perusahaan-perusahaan di bidang teknologi yang terus bersaing dalam menciptakan inovasi-inovasi baru untuk mengatasi pandemik dan memudahkan kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, pada pekan lalu Apple dan Google bekerjasama untuk menciptakan software smartphone bernama “Contact Tracing” yang dapat memberitahu pemiliknya jika mereka telah berhubungan dengan penderita virus corona. Dituliskan bahwa teknologi ini akan dirilis dalam beberapa bulan ke depan hingga memasukkannya ke milyaran sistem operasi Android dan iPhone di seluruh dunia. Dalam situasi normal, Apple dan Google merupakan dua perusahaan besar yang saling berkompetisi satu sama lain, namun keduanya percaya bahwa kerjasama ini akan menunjukkan dampak signifikan dalam upaya mengatasi pandemik.

Sementara itu, perkembangan transformasi digital juga dapat dirasakan di tingkat nasional, salah satunya adalah Yunani. Marco Veremis, seorang pengusaha teknologi Upstream, mengatakan bahwa situasi ini akan meninggalkan jejak penting dalam sejarah masyarakat Yunani dengan banyaknya masyarakat yang akhirnya teredukasi untuk menggunakan platform digital untuk bekerja dan berkomunikasi. Salah satu titik penting dalam hal ini adalah supermarket karena program social distancing hanya memperbolehkan satu pelanggan setiap 15 meter persegi, sehingga masyarakat lebih memilih untuk berbelanja secara online. Selanjutnya, banyaknya pengusaha kecil di Yunani juga mendorong revolusi digital untuk berjalan dengan lebih cepat. Terkait hal ini, pemerintah merilis digitalsolidarity.gov.gr sebagai sebuah platform dimana perusahaan teknologi besar dapat memberikan pembelajaran pemasaran dan manajemen online secara gratis bagi para pengusaha kecil atau Small and Medium-sized Enterprises (SMEs). Tidak hanya itu, kegiatan pemerintahan juga mulai bergeser ke pemberitahuan secara online dengan merilis layanan gov.gr. Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis bahkan menyatakan pada rapat parlemen tanggal 2 April bahwa gov.gr adalah “the portal of the new, digital state”.

Referensi:

Bourke, India. 2020. “Private, Online and hi-Tech: The Coronavirus Economy” [online] tersedia dalam https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/23/private-online-and-hi-tech-the-coronavirus-economy.html [diakses 11 April 2020]

Nicas, Jack dan Wakabayashi, Daisuke. 2020. “Apple and Google Team Up to ‘Contact Trace’ the Coronavirus” [online] tersedia dalam https://www.nytimes.com/2020/04/10/technology/apple-google-coronavirus-contact-tracing.html [diakses 11 April 2020]

Psaropoulos, John. 2020. “Coronavirus Accelerates Greece’s Overdue Digital Revolution” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/ajimpact/coronavirus-accelerates-greece-overdue-digital-revolution-200409210606144.html [diakses 11 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti