Meski berbatasan langsung dengan Tiongkok – lokasi awal pandemi – dan memiliki jumlah populasi penduduk kurang lebih 97 juta orang, Vietnam sejauh ini hanya mencatat 268 kasus positif dan tidak ada kematian akibat COVID-19. Setelah melewati sejumlah kebijakan ketat untuk mencegah penyebaran virus dan tidak mencatat adanya kasus positif baru dalam beberapa hari terakhir, kemudian negara tersebut memutuskan untuk melonggarkan kebijakan social distancing di masyarakat pada hari Kamis lalu. Menurut Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc, tidak ada provinsi wilayah di Vietnam yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap COVID-19, sehingga pembatasan dapat dilonggarkan – meski sejumlah bisnis yang tidak esensial masih belum diperbolehkan beroperasi.

Vietnam termasuk negara yang memenangkan pertarungan dengan COVID-19 terlepas dari tingkat perekonomian yang tidak sebesar negara-negara sukses lainnya seperti Korea Selatan dan Taiwan. Dengan menggunakan kombinasi kebijakan karantina massal, penelusuran kontak, dan melakukan tes massal, negara tersebut berhasil menahan outbreak COVID-19. Menelusuri kilas balik dalam pandemik COVID-19 di Vietnam, sejatinya negara tersebut telah mempersiapkan diri lebih awal dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, bahkan sebelum kasus positif pertamanya terdeteksi pada tanggal 23 Januari. Sebelumnya, kementerian kesehatan Vietnam telah menghimbau badan-badan pemerintahan untuk mencegah masuknya virus pada tanggal 16 Januari dan meneruskannya pada rumah sakit dan klinik di tingkat nasional pada tanggal 21 Januari.

Kemudian, beberapa hari setelah kasus pertamanya ditemukan, Vietnam segera menutup jalur penerbangannya dengan Tiongkok hingga menjadi salah satu negara pertama di dunia yang melakukan hal itu di awal Februari. Menyadari bahwa hampir semua kasusnya berasal dari luar negeri, pemerintah memerintahkan untuk mengecek suhu tubuh orang-orang di bandara dan mengkarantina siapapun yang baru datang dari Tiongkok selama 14 hari. Pada akhir Maret, pemerintah juga melarang masuk semua warga asing, termasuk orang-orang Vietnam yang berada di luar negeri.

Sementara itu, pemerintah juga melakukan penelusuran kontak dengan ketat dan menghimbau warga untuk melakukan social distancing dan karantina. Pemerintah kemudian menunjuk beberapa orang ditugaskan untuk menghentikan penyebaran kasus, menelusuri rumah-rumah warga dan mengawasi orang-orang yang baru saja bepergian atau berhubungan langsung dengan pasien. Namun sebagai negara berkembang dengan sumber daya yang terbatas, sulit untuk melakukan skema tes massal seperti Korea Selatan dan Jerman. Alih-alih, mereka mengandalkan “pendekatan rendah biaya” yang fokus pada pelacakan virus secara agresif dan mengisolasi orang-orang yang terinfeksi.

Menilik lebih dalam, sejatinya kesuksesan Vietnam dalam melawan COVID-19 terletak pada kesungguhan dan kerjasama dari masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah Vietnam berhasil melakukan mobilisasi nasionalisme dengan membingkai COVID-19 sebagai musuh bersama dan menanamkan persatuan masyarakat untuk melawannya. Sejak awal terjadinya pandemi, pemerintah Vietnam telah menggaungkan slogan bahwa “melawan COVID-19 sama dengan melawan musuh”. Pemerintah juga meluncurkan kampanye informasi di seluruh negeri dengan menggunakan video-video yang menarik dan poster-poster yang mengingatkan masyarakat pada gaya heroik di masa Perang Vietnam. Menurut Takeshi Kasai, Direktur WHO untuk Wilayah Pasifik Barat, kesuksesan Vietnam terletak pada keberhasilannya untuk meyakinkan publik bekerjasama dan berpartisipasi. Kini hampir tidak ada penerbangan internasional yang masuk ke Vietnam dan lockdown telah dilaksanakan sejak awal April. Jalanan Hanoi yang umumnya dipenuhi sepeda motor, turis, dan pedagang, kini menjadi sunyi.

Sebagai negara berbasis komunis, Vietnam dapat memerintahkan masyarakatnya untuk karantina, berbeda dengan negara-negara lain yang harus menghadapi protes dan demonstrasi masyarakat. Namun, hal tersebut juga diimbangi dengan bukti kesungguhan pemerintah dalam membasmi COVID-19. Sejak awal, pemerintah Vietnam telah memposisikan dirinya sebagai sumber kepemimpinan yang efektif dengan memberikan informasi secara transparan pada masyarakatnya. Kementerian kesehatan mengambil inisiatif untuk meluncurkan website dan aplikasi yang tidak hanya ditujukan untuk meringankan proses medis namun juga untuk menyediakan informasi dengan cepat. Peralatan digital membantu untuk menghentikan penyebaran rumor dan hoax, juga ditambah dengan pelarangan dan penangkapan bagi orang-orang yang menyebarkan informasi palsu di media sosial. Media kenegaraan juga menyiarkan situasi terkini dari negara-negara krusial COVID-19 seperti Tiongkok, Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya partisipasi mereka dan intervensi pemerintah. Dengan demikian, pemerintah berhasil memperoleh kepercayaan masyarakat dan menerapkan kebijakannya dengan efektif, sehingga kini tidak ada kasus baru di Vietnam dalam enam hari terakhir dan kebijakan pembatasan dapat dilonggarkan.

Referensi:

Bengali, Shashank. 2020. “Without a Single COVID-19 Death, Vietnam Starts Easing its Coronavirus lockdown” [online] tersedia dalam https://www.latimes.com/world-nation/story/2020-04-23/vietnam-eases-coronavirus-lockdown [diakses 24 April 2020]

Reuters. 2020. “Vietnam to Ease Nationwide Coronavirus lockdown” [online] tersedia dalam https://www.nytimes.com/reuters/2020/04/22/world/asia/22reuters-health-coronavirus-vietnam.html [diakses 24 April 2020]

Vu, minh dan Tran, bich T. 2020. “The Secret to Vietnam’s COVID-19 Response Success” [online] tersedia dalam https://thediplomat.com/2020/04/the-secret-to-vietnams-covid-19-response-success/ [diakses 24 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti