Situasi Pandemik yang disebabkan oleh virus COVID-19 saat ini menuntut adanya perhatian serta upaya pencegahan dan penanganan serius dari pemerintah masing-masing negara, termasuk di antaranya melakukan lockdown dan menyiapkan dana untuk membangun rumah sakit serta menyediakan obat-obatan dan peralatan medis untuk masyarakat. Dengan kata lain, situasi pandemik telah menguji sistem kesehatan dan penanganan medis negara-negara di seluruh dunia. Dapat dilihat kemudian bahwa negara-negara maju cenderung lebih siap dan mampu untuk menangani penyebaran virus, namun sebaliknya, hal ini merupakan tantangan berat bagi negara-negara berkembang, utamanya negara-negara yang sedang terlibat dalam konflik besar seperti Suriah, Libya, dan Yaman. Lantas dibutuhkan langkah-langkah dan bantuan yang lebih agar negara-negara tersebut dapat tetap bertahan.

Pada 29 Maret lalu, Suriah menyaksikan kematian pertama warga negaranya akibat COVID-19. Media pemerintahan menyatakan bahwa korban adalah seorang wanita yang meninggal ketika sedang dalam perjalanan menuju ruangan UGD, sehingga ia belum sempat mengatakan kapan dan dimana kemungkinan dirinya terjangkit virus tersebut. Setelah diuji, ternyata ia memiliki virus carrier corona yang menjadi penyebab kematiannya. Saat ini, Suriah melaporkan bahwa hanya terdapat 9 kasus positif corona di seluruh Suriah, meski beberapa petugas medis dan saksi meragukan hal tersebut karena kesiapan medis yang kurang memadai di Suriah. Meski belum dapat dipastikan, masuknya virus corona di Suriah sendiri diperkirakan berpusat pada pertemuan Damascus dengan Iran. Beberapa pendapat lain mengatakan bahwa virus disebarkan oleh para tentara Iran yang berperang bersama tentara Suriah dan para peziarah yang berkunjung ke kuil di Damascus.

Dalam menghadapi pandemik, pemerintah Suriah telah berupaya menutup sekolah, universitas, restoran, café, kantor pemerintahan, masjid, dan tempat-tempat publik lainnya, serta melakukan pemberhentian transportasi publik sementara. Jam malam juga diterapkan mulai pukul 6 malam hingga pukul 6 pagi, melarang seluruh aktivitas bisnis dan perdagangan untuk beroperasi. Hal ini cukup mengkhawatirkan masyarakat, ditunjukkan dalam aktivitas panic buying di sejumlah kota dan naiknya harga barang akibat tingginya permintaan. Selain itu, pemerintah kemudian juga menutup jalur lintas provinsi hingga 16 April mendatang dan melarang aktivitas selain kendaraan distribusi di sekitar perbatasan hingga batas waktu yang belum ditentukan. Bandar Udara Damascus yang telah dibatasi penerbangan komersialnya sejak bulan lalu juga diperintahkan untuk tutup dan menghentikan penerbangan dengan negara tetangga.

Masyarakat Suriah yang sedang berada dalam konflik beberapa tahun terakhir ini kemudian mengalami situasi yang sulit dan mengkhawatirkan, khususnya terkait kurangnya kesiapan tenaga kesehatan, makanan, dan air bersih. UN Special Envoy untuk Suriah pada pekan lalu mengumumkan desakan untuk gencatan senjata yang segera dan menyeluruh dalam skala nasional. Situasi di zona konflik tentu akan menjadi sangat berbahaya dan rentan terhadap penyebaran virus. Sejumlah relawan humanitarianisme juga khawatir terkait masyarakat yang berada di Idlib – wilayah kekuasaan kelompok pemberontak –, dimana peperangan sebelumnya telah menghancurkan berbagai infrastruktur sipil dan menghasilkan sekitar 900.000 displaced people. Pada pekan lalu, WHO mengatakan akan melakukan pengujian corona di Idlib karena hanya sekitar 64% rumah sakit yang dibangun sebelum 2011 yang dapat beroperasi dan sekitar 70% pekerja medis telah hilang atau tidak bertugas.

Sedangkan di Libya, kasus positif corona pertama kali dilaporkan oleh menteri kesehatan Libya pada Hari Selasa lalu. Pasien tersebut adalah seorang pria berusia 73 tahun yang baru saja kembali dari Arab Saudi dan melalui Tunisia pada tanggal 5 Maret. Saat ini ia sedang menerima pengobatan medis dan isolasi di Tripoli. Situasi pandemik tentu menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Libya yang telah terlibat dalam konflik sejak penggulingan Muammar Gaddafi tahun 2011. Pemerintahan Libya kemudian terpecah menjadi Government of National Accord (GNA) dan the Libyan National Army (LNA) di bawah komandi Khalifa Haftar.

Menurut Liam Kelly, salah satu pekerja humanitarianisme di Libya mengatakan bahwa negara tersebut merupakan salah satu negara di dunia dengan kualitas dan kesiapan medis yang terburuk, khususnya dalam hal pengawasan dan kemampuan untuk mendeteksi kasus. Hal ini menyebabkan terdapat kemungkinan banyak kasus yang tidak terdeteksi dan suatu saat akan menimbulkan outbreak yang besar. Dalam data yang dikeluarkan the Global Health Security Index 2019, Libya berada dalam posisi 109 dari 195 terkait kapabilitasnya dalam merespon pandemik melalui rencana darurat nasional serta kurangnya jumlah dokter di wilayah-wilayah rural. Hal tersebut semakin diperparah dengan adanya blokade minyak sebagai hasil penyerangan kelompok pendukung Haftar pada Januari lalu, yang menyebabkan penurunan ekonomi Libya dan kurangnya alokasi dana untuk investasi di bidang kesehatan.

Dalam menghadapi pandemik, pemerintah telah melakukan beberapa upaya seperti penerapan jam malam yang telah diperpanjang menjadi sejak pukul 2 siang hingga pukul 7 pagi mulai 30 Maret dan penutupan kota Misurata selama satu minggu sejak 29 Maret. Langkah besar lainnya diumumkan oleh kementerian pengadilan Libya bahwa pemerintah telah membebaskan sekitar 450 tawanan dari penjara-penjara Libya untuk mengurangi jumlah penghuni penjara dan mencegah penyebaran virus corona. Tawanan-tawanan tersebut adalah yang sedang berada dalam masa pretrial detention atau yang telah memenuhi ketentuan untuk pembebasan bersyarat. Human Rights Watch memandang kebijakan ini sebagai langkah yang positif namun tetap terus mendorong pemerintah untuk melakukan langkah konkret lainnya, termasuk memberikan pelayanan khusus untuk para lanjut usia dan disabilitas, anak-anak dan wanita, imigran dan pengungsi. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga telah menekan pemerintah untuk menghentikan serangan-serangan dan peperangan yang terjadi karena jika tidak, maka upaya-upaya di atas tidak akan dapat berjalan maksimal. Sedangkan UN Mission di Libya sendiri telah melakukan humanitarian pause untuk memberi waktu bagi pemerintah untuk merespon pandemik.

Lebih lanjut, wilayah yang tengah mengalami salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini menurut PBB yakni Yaman, hingga kini belum melaporkan adanya pasien yang terjangkit virus corona. Meski demikian, menteri kesehatan untuk the Houthis’ National Salvation Government, Taha Al-Mutawakel, menyampaikan kegelisahannya dalam konferensi pada tanggal 21 Maret lalu bahwa 93% dari peralatan medis di Yaman tidak dapat digunakan akibat kerusakan perang sipil. Dalam upayanya mencegah penyebaran virus, pemerintah Houthi telah menutup institusi pendidikan, café, dan aula pernikahan, serta menunda sejumlah acara lain. Ia juga telah menutup Bandar Udara Sanaa dan mengupayakan penutupan akses wilayah GNA dan Houthi. Begitu pula terjadi di wilayah GNA yang menurut Perdana Menterinya, Maeed Abdulmalik, telah menutup sekolah-sekolah di wilayah pemerintahannya dan memeriksa masyarakat yang telah bepergian. Pemerintah GNA juga telah menganggarkan sekitar 4 juta dollar untuk mengatasi penyebaran virus.

Sebagai wilayah konflik dan krisis kemanusiaan yang terbesar di dunia, keadaan di Yaman juga mengundang bantuan internasional. Saat ini, sekitar 70% warga Yaman bergantung pada bantuan internasional, bahkan sebelum pandemik. Anak-anak di Yaman juga banyak yang menderita penyakit Kolera, difteri, dan malnutrisi. Di tengah kondisi pandemic kemudian dinyatakan oleh Yemen’s Minister of Planning and International Cooperation, Nagib Al-Aweg, bahwa World Bank dan International Finance Cooperation telah mengalokasikan sekitar 26,7 juta dollar untuk membantu Yemen. Selain itu, Arab Saudi juga telah mengirimkan sejumlah bantuan darurat untuk Yemen, segera setelah organisasi humanitarianisme milik Raja Salman, Humanitarian Aid and Relief Centre bertemu dengan representatif WHO terkait kebutuhan kesehatan dan peralatan medis untuk negara konflik.

Sedangkan terkait konflik yang tengah berlangsung antara pemerintah Yaman dan kelompok Houthi, keduanya sepakat untuk melakukan gencatan senjata pertama dalam lima tahun belakangan ini. Kesepakatan tersebut merupakan hasil dari permintaan PBB pada tanggal 25 maret untuk menghentikan semua aktivitas serangan. Gencatan senjata ini dipandang cukup menguntungkan pula bagi Arab Saudi yang tengah mengalami penurunan ekonomi akibat turunnya harga minyak, sehingga alokasi dana untuk Yaman juga menurun. Meski demikian, hal ini tidak mudah dilakukan karena beberapa hari sebelumnya, kekerasan masih terjadi. Arab Saudi menyatakan telah menghancurkan drone-drone yang dikirimkan oleh kelompok Houthi yang mentarget masyarakat sipil di Kota Abha dan Khamis Mushait. Selain itu, kelompok Houthi juga sempat menyerang Marib – wilayah pertahanan dan pusat ekonomi GNA -, yang kemudian mendapat peringatan dari the International Crisis Group bahwa jika sampai terjadi pertempuran besar-besaran di Marib, maka akan menyebabkan kerusakan humanitarian yang sangat besar dan merugikan.

Referensi:

Al-Khalidi, Suleiman. 2020. “Syria Reports First Coronavirus  Death as Fear Grow of major Outbreak” [online] tersedia dalam https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/30/syria-reports-first-coronavirus-death-as-fear-grow-of-major-outbreak.html [diakses 30 Maret 2020]

Gillon, Jihad. 2020. “Coronavirus in War-Torn Libya Fuels Worst-Case Scenario Fears” [online] tersedia dalam https://www.theafricareport.com/25287/coronavirus-in-war-torn-libya-fuels-worst-case-scenario-fears/ [diakses 30 Maret 2020]

Human Rights Watch. 2020. “Libya: Detainees at Risk of Coronavirus Spread” [online] tersedia dalam https://www.hrw.org/news/2020/03/29/libya-detainees-risk-coronavirus-spread [diakses 30 Maret 2020]

Shaker, Naseh. 2020. “WHO Warns Yemen of Pending ‘Explosion’ of COVID-19 Cases” [online] tersedia dalam https://www.al-monitor.com/pulse/originals/2020/03/yemen-women-face-masks-coronavirus-houthi-measures.html [diakses 30 Maret 2020]

Zaman, Amberin. 2020. “Coronavirus Cease-Fire Offers pause in yemen War” [online] tersedia dalam https://www.al-monitor.com/pulse/originals/2020/03/coronavirus-ceasefire-yemen-war-covid19-who-saudi-houthis.html [diakses 30 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti