Film berjudul La Teta Asustada atau The Milk of Sorrow ini mengisahkan tentang Fausta, seorang wanita muda dari Peru, yang memiliki masa lalu kelam. Fausta adalah anak dari seorang bernama Perpetua yang merupakan korban kekerasan dan pemerkosaan pada era terorisme di Peru. Sehari-harinya, Fausta dan Perpetua berkomunikasi melalui nyanyian yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya.

Dalam kebudayaan Andean Peru, korban pemerkosaan akan selalu hidup dalam ketakutan dan keresahan, selain itu dianggap bahwa ketakutan itu dapat ditularkan melalui payudara dan air susunya yang disebut sebagai la teta asustada atau the milk of sorrow. Fausta termasuk salah satu orang yang dianggap memiliki kutukan ini sehingga sifat paranoidnya dan ibunya membuat mereka memasukkan kentang ke dalam alat kelaminnya. Kentang ini nanti akan tumbuh sebagai alat kontrasepsi dan menakut-nakuti orang yang ingin memperkosa mereka.

Saat Perpetua meninggal, Fausta yang berasal dari keluarga miskin harus bekerja untuk membiayai pemakaman ibunya. Fausta yang selama ini takut untuk hidup mandiri akibat kutukan la teta asustada tersebut bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Aida. Di pekerjaan ini, Fausta berkenalan dengan Noe, seorang tukang kebun, yang membantu Fausta dalam beberapa kesulitan. Hingga pada akhirnya, Fausta dikhianati oleh Aida dengan membuatnya berjalan sendirian di malam hari di tengah jalan dan tidak membayar upahnya bekerja selama ini. Di tengah situasi depresi karena tidak dapat membiayai pemakaman Perpetua, Fausta mencuri kalung mutiara yang sebelumnya telah dijanjikan di rumah Aida. Fausta kemudian memutuskan untuk mengeluarkan kentang di dalam kemaluannya karena ingin terlepas dari masa lalu kelamnya. Di akhir cerita, Fausta mengubur Perpetua di tepi pantai sebagai perwujudan lepasnya dengan kutukan la teta asustada.

Film The Milk of Sorrow yang distrudarai oleh Claudia Llosa sarat akan nilai-nilai sosial yang berlaku pada masyarakat Peru khususnya pada masa pasca berlangsungnya aktivitas terorisme dan paramiliter di negara tersebut pada dekade 1980-an. Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana Fausta yang dianggap memiliki penyakit aneh yang diturunkan oleh ibunya harus hidup dalam ketakutan dan kecurigaan khususnya terhadap kaum pria yang ia anggap dapat memerkosa dirinya kapanpun dan juga perjuangannya menguburkan jenazah ibunya dengan layak ditengah kondisi perekonomian keluarganya yang sulit hingga dirinya terpaksa bekerja di kota sebagai seorang asisten rumah tangga.

Ketakutan dan kecurigaan Fausta terhadap kaum pria dengan apik ditampilkan dalam film pada banyak adegan. Salah satu adegan tersebut adalah ketika para petugas pria mengangkut piano baru milik majikannya ke dalam rumah. Dalam adegan tersebut, Fausta terlihat berjalan mundur dan menatap mereka dengan penuh kewaspadaan sebagai perwujudan rasa tidak aman berada di dekat kaum pria oleh karena ketakutannya akan diperkosa. Selain itu, contoh lain ada ketika tukang kebun majikannya yang meminta air kepada Fausta, ia memilih bersandar pada sebuah meja di dapur agar sang tukang kebun tidak berada dibelakangnya.

Hal lain yang dicoba ditampilkan oleh Llosa, sutradara film, dalam The Milk of Sorrow adalah budaya masyarakat Amerika Latin yang sangat kental. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya referensi kehidupan masyarakat Amerika Latin yang ditampilkan sepanjang film, seperti ikon kegamaan – utamanya kekristenan, musik mariachi dan bahasa Spanyol yang notabene merupakan lingua franca masayarakat Amerika Latin. Selain itu, dalam adegan pesta pernikahan sepupu Fausta – yaitu Máxima – sarat akan kebudayaan masyarakat Amerika Latin. Dalam pesta pernikahan tersebut, banyak tamu undangan yang memberikan hadiah unik kepada pengantin seperti kursi hingga kasur.

Hubungan antara Film dengan Sejarah Amerika Latin

 Film The Milk of Sorrow memberikan sedikit gambaran mengenai sejarah Amerika Latin, khususnya dinamika kehidupan politik dan sosial Peru di sekitar tahun 1980-1992. Di tahun 1980, politik di Peru mengalami perubahan besar, yakni diadakannya pemilihan umum untuk menentukan presiden. Akan tetapi, perubahan pada perpolitikan di Peru ini tidak disetujui oleh seluruh masyarakat Peru. Suatu organisasi komunis Peru yang dikenal dengan nama “Shining Path” melontarkan protes terhadap keputusan pemerintah ini dengan membakar kertas balot di kota Ayacucho pada 17 Mei 1980 (Peru Support Group t.t). “Shining Path” yang telah dibentuk oleh Abimael Guzman pada tahun 1960-an ini sedikit berbeda dari organisasi komunis di Peru lainnya dan menjunjung ajaran Maoisme milik Mao Zedong.

Dalam artikel yang berjudul “El Nino and Civil Confict in Peru” (t.t) disebutkan bahwa organisasi sayap kiri ini tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki “Tupac Amaru” sebagai pesaingnya. Meskipun kedunya bertujuan tidak ingin menjadikan Peru sebagai negara yang condong terhadap demokrasi, namun kedua organisasi ini enggan bekerjasama kemudian berkonflik sehingga merugikan masyarakat sipil. “Shining Path” terus menunjukkan eksistensinya sebagai gerakan insurjen melalui berbagai aksi kekerasan. Untuk menangani hal ini, Presiden Peru Belaunde Terry mengerahkan pasukan militer untuk menghadapi kekerasan yang dilakukan oleh “Shining Path” sekaligus melindungi warga sipil. Namun pada kenyataannya, pasukan militer dari negara tidak dapat menanganinya, justru menjadi pelaku kekerasan pula. Banyak ditemukan bahwa pasukan militer Peru banyak melakukan pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan di Lima. Zona-zona militer di Lima yang dibuat oleh pemerintah semakin memberikan ketakutan kepada masyarakat.

Situasi ini menimbulkan permasalahan serius bagi pemerintahan Peru, khususnya dalam hal ekonomi maupun sosial. Menurut tulisan milik Russell W. Switzer, Jr. (2007: 25), mayoritas negara-negara Amerika Latin mengalami kesulitan dalam hal perekonomian pada era tahun 1980-an, termasuk Peru. Adanya kondisi ini membuat permasalahan perekonomian yang dirasakan oleh Peru bukan menemukan penyelesaian, namun justru semakin rumit.

Hal ini yang kemudian mengarah kepada permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Pasukan militer yang seharusnya melindungi masyarakat justru melakukan hal sebaliknya, dimana mereka melakukan tindakan pemerkosaan terhadap masyarakat (Switzer Jr., 2007: 25). Tindakan ini selain berdampak pada fisik para korban juga berdampak kepada aspek psikologi masyarakat. Perasaan trauma terus tumbuh di dalam diri masing korban pemerkosaan. Tidak hanya sampai disitu, para masyarakat percaya bahwa perasaan trauma itu diteruskan kepada anak cucu mereka melalui ASI yang diberikan.

Kondisi ini sama halnya dengan apa yang ditampilkan di dalam film The Milk of Sorrow. Dalam film tersebut, Fausta yang diperankan oleh Magaly Solier mengalami perasaan trauma setiap kali bertemu dengan pria. Fausta sendiri memang bukan korban pemerkosaan, melainkan ibu dari Fausta lah yang menjadi korban pemerkosaan pada konflik tersebut. Adanya kepercayaan penyaluran perasaan trauma melalui ASI membuat Fausta akhirnya ikut merasakan trauma seperti yang dirasakan oleh Ibunya.

Kesimpulan dan Opini

Film The Milk of Sorrow adalah film dengan konteks kehidupan di Peru ketika tahun 1980 dan akibat-akibat yang terjadi di tahun-tahun setelahnya. Film yang mengisahkan Fausta dan perjuangannya untuk menguburkan ibunya ini dapat memberikan gambaran tentang trauma akibat pemerkosaan pada sang ibu pada tahun 1980-an yang diturunkan kepada anaknya melalui air susu yang dianggap terkutuk. Hal ini merupakan potret dari kenyataan yang terjadi di Peru pada tahun-tahun tersebut yang sedang mengalami konflik dengan penuh kekerasan baik dari pihak yang setuju dengan ide komunis seperti Shining Path dan Tupac Amaru hingga militer pemerintah Peru sendiri. Fenomena ini merupakan salah satu dinamika sosial yang menjadi bagian dan membentuk sejarah Amerika Latin.

Referensi:

Anon. t.t. El Nino and Civil Confict in Peru (online). Dalam http://www1.american.edu/ted/ICE/peruelnino.html [Diakses pada 6 Maret 2017]

Peru Support Group. t.t. Peru Historical Overview: Internal Armed Conflict (online). Dalam http://www.perusupportgroup.org.uk/peru-history-armed-conflict.html [Diakses pada 6 Maret 2017]

Switzer Jr., Russel W., 2007. Sendero Luminoso and Peruvian Counterinsurgency. University of the State of New York.

Ditulis oleh:
Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com,
Baskoro Aris Sansoko,
Harini Lukika Dhini,
Matius Chavin,
Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.