Sekitar 850.000 rakyat Taiwan menetap, separuhnya memiliki pekerjaan tetap di daratan Tiongkok, dan jarak terdekatnya dengan Tiongkok hanyalah sekitar 130 km. Maka, Taiwan diprediksi sebagai salah satu wilayah dengan resiko penyebaran virus tertinggi dan diperkirakan akan mengalami outbreak yang besar. Namun pada kenyataannya hal tersebut tidak terjadi karena hingga kini, Taiwan yang terdiri dari sekitar 24 juta penduduk tersebut hanya memiliki 324 kasus positif dan 5 orang meninggal dunia. Dengan kata lain, Taiwan adalah salah satu wilayah pertama yang terkena paparan COVID-19 sekaligus memiliki tingkat infeksi paling rendah di dunia.

Kesuksesan tersebut sejatinya berasal dari pembelajaran yang diambil Taiwan pasca outbreak SARS pada tahun 2003. Segera setelah Tiongkok mengumumkan adanya penyebaran virus dengan gejala seperti Pneumonia pada tanggal 31 Desember lalu, Taiwan segera menghubungi World Health Organization (WHO) untuk meminta informasi lebih lanjut, meski kemudian berakhir sia-sia karena faktor konflik perbatasan yang dimilikinya dengan Tiongkok. Terlepas dari kurangnya informasi resmi yang didapatnya, pemerintah segera melakukan inspeksi kesehatan dan mengecek suhu tubuh para penumpang penerbangan yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Dua minggu kemudian – terlepas dari keyakinan WHO bahwa virus ini tidak berbahaya pada saat itu – Taiwan mengirim dua tenaga ahlinya ke Provinsi Hubei untuk mempelajari virus ini lebih lanjut hingga menemukan bahwa COVID-19 dapat disebarkan melalui transmisi manusia ke manusia pada tanggal 16 Januari – empat hari sebelum pasien pertama Tiongkok terdeteksi. Masa itu bertepatan dengan perayaan Imlek khususnya di Wuhan, yang mengadakan 40.000 makan malam bersama dan diikuti dengan jutaan orang meninggalkan kota untuk liburan, hingga penyebaran semakin luas.

Taiwan sendiri mendeteksi pasien pertamanya pada tanggal 21 Januari. Pemerintah kemudian membatasi akses penerbangan dan melakukan pengecekan suhu tubuh di bandara. Screening awal diterapkan untuk mendeteksi 26 virus termasuk SARS dan MERS. Pendatang yang menunjukkan gejala virus-virus tersebut kemudian dikarantina di rumah dan terus dipantau. Secara lebih luas, pemerintah pun mengaktifkan Central Epidemic Command Center, cabang dari National Health Command Center yang didirikan untuk menghadapi outbreak SARS – dan melakukan kerjasama dengan pihak-pihak lain. Aksi-aksi tersebut antara lain melakukan kontrol perbatasan udara dan laut, mendeteksi kasus, mengkarantina pasien, mengatur alokasi sumber daya, mengidentifikasi informasi palsu, memformulasikan kebijakan untuk melindungi ekonomi dan bisnis, dan sebagainya. Hingga kini, setidaknya pemerintah telah melaksanakan 124 kebijakan terkait pencegahan penyebaran COVID-19.

Menilik lebih dalam, sejatinya terdapat beberapa poin penting yang dapat dicontoh dari kebijakan pemerintah Taiwan. Pertama, menggunakan data dan teknologi untuk mendeteksi pasien. Taipei memiliki real-time database dalam kerangka National Health Insurance (NHI) yang dapat melihat jejak rekam orang-orang yang pernah mengunjungi Tiongkok dalam beberapa minggu belakangan, serta mendata orang-orang dengan resiko tinggi dan memberikan kesempatan bagi para ahli medis untuk mengidentifikasi pola baru dari gejala dan wilayah penyebaran virus. Di Taiwan, asuransi kesehatan memang bukanlah sesuatu yang mewah, namun justru sangat terjangkau sehingga sekitar 99% penduduk Taiwan terdaftar dalam data asuransi pemerintah. Pemerintah berharap dengan demikian masyarakat tidak takut pergi ke rumah sakit jika merasa kurang sehat karena tes corona beserta pengobatan dan biaya isolasi telah ditanggung pemerintah.

Kedua, pentingnya alokasi sumber daya. Untuk menghadapi COVID-19, pemerintah menghentikan ekspor kebutuhan medis dan meningkatkan produksi. Meski masker telah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat Taiwan, namun situasi pandemik semakin meningkatkan kebutuhan sehingga penting untuk meningkatkan produksi. Pada akhir bulan Januari, Taiwan berhasil memproduksi 44 juta masker, 1,9 juta masker N95, dan 1.100 ruang isolasi. Sedangkan pada akhir Februari, Taipei telah memberikan sekitar 6,5 juta masker untuk sekolah-sekolah, 84.000 liter hand sanitizer, dan 25.000 termometer.

Terlebih, Taiwan juga berhasil menghasilkan surplus masker dalam jumlah besar dan berencana akan mengirimkan sumbangan 10 juta masker untuk negara-negara lain di dunia yang terkena dampak pandemik COVID-19 termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan sejumlah negara aliansi lain. Donasi ini merupakan bantuan humanitarianisme dalam skala besar pertama yang diberikan Taiwan dan diharapkan dapat meningkatkan eksistensi Taiwan dalam skala internasional. Meski jika dibandingkan dengan Tiongkok, masih terdapat jarak yang sangat jauh, namun diplomasi medis yang dilakukan patut untuk dicoba, mengingat Taiwan memang telah berhasil mengatasi pandemik dengan baik.

Selanjutnya, Taiwan memberikan akses yang mudah terhadap informasi. Dalam hal ini, pemerintah menyiarkan pengumuman layanan publik setiap jam nya terkait perkembangan COVID-19 termasuk alur penyebaran dan cara untuk mencegah infeksi di siaran televisi dan radio. Mereka menganggap bahwa transparansi informasi akan mengedukasi masyarakat dan dapat meminimalisir ketakutan. Sebagai timbal balik, masyarakat bersedia untuk mempraktikkan instruksi-instruksi yang diedarkan. Contohnya, para orangtua mengecek suhu tubuh anak-anaknya dan melaporkannya sebelum berangkat sekolah. Gedung-gedung perkantoran juga melakukan pengecekan suhu tubuh dan menyediakan hand sanitizer di dalam dan di luar lift. Dengan demikian, terlepas dari kebijakan pemerintah, masyarakat juga harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi terkait hal ini.

Penjelasan tersebut mengarah pada poin berikutnya yakni kesuksesan penanganan COVID-19 juga membutuhkan kerjasama antar departemen dan partisipasi dari semua pihak. Salah satunya dapat dilihat dari kerjasama pemerintah dengan badan kepolisian terkait orang-orang yang telah berhubungan dengan pasien positif sebagai bagian dari data besar yang dimiliki pemerintah. Pemerintah Taiwan mengatakan bahwa kekuatan Taiwan adalah persatuan dan ketahanan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta adalah kunci dari kesuksesan yang telah dicapai. Bahkan, kedua partai politik yakni Republikan dan Demokrat juga turut bertindak bersama, mengabaikan birokrasi, dan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Referensi:

Chen, Stacy. 2020. “Taiwan to Donate 10 million Masks to Countries hit Hardest by Coronavirus” [online] tersedia dalam: https://abcnews.go.com/Health/taiwan-donate-10-million-masks-countries-hit-hardest/story?id=69918187 [diakses 4 April 2020]

Jennings, Ralph. 2020. “Taiwan Competes with China through World Medical Diplomacy” [online] tersedia dalam: https://www.voanews.com/science-health/coronavirus-outbreak/taiwan-competes-china-through-world-medical-diplomacy [diakses 4 April 2020]

Rasmussen, Anders F. 2020. “Taiwan Has Been Shut Out of Global Health Discussions. Its Participation Could Have Saved Lives” [online] tersedia dalam: https://time.com/5805629/coronavirus-taiwan/ [diakses 4 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti