Segera setelah World Health Organization (WHO) mendeklarasikan COVID-19 sebagai penyebab pandemik yang telah menyebar secara internasional dan tidak terkontrol, muncul keinginan dan harapan yang tinggi terhadap penemuan vaksin COVID-19 oleh masyarakat karena itulah satu-satunya hal yang dapat mencegah penyebaran virus tersebut saat ini. Sejak awal berkembangnya virus, sekitar 35 perusahaan dan institusi akademik mulai berlomba-lomba untuk menghasilkan vaksin tersebut dan setidaknya empat di antaranya telah menemukan kandidat vaksin yang telah mereka coba percobaan keamanan dan efektivitasnya pada hewan. Dengan kata lain, dalam waktu kurang lebih tiga bulan saja sejak awal ditemukannya COVID-19 di Tiongkok, telah terdapat titik cerah dalam pengembangan vaksinnya. Cepatnya pengembangan vaksin yang pada umumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tersebut disebabkan oleh Tiongkok yang mengumumkan dan menyebarkan kode genetik material dari Sars-Cov-2 yang menyebabkan COVID-19 pada bulan Januari untuk dipelajari oleh para ahli dan peneliti di seluruh dunia. Tindakan ini kemudian dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan para ahli untuk mempelajari pertumbuhan virus, bagaimana virus dapat memasuki sel-sel manusia hingga menyebabkan penyakit.

Virus Corona pada kenyataannya telah menyebabkan dua epidemik terbesar dalam beberapa tahun terakhir, yakni Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di Tiongkok pada tahun 2002-04 dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Arab Saudi pada tahun 2012. Dalam kedua kasus tersebut, vaksin baru dapat dikembangkan setelah outbreak selesai. Namun COVID-19 yang memiliki basis genetik yang sama dengan kedua virus tersebut kemudian memudahkan para peneliti karena dapat menjadi head start bagi pengembangan vaksin. Menurut Richard Harchett, CEO dari the Coalition for Epidemic Preparedness Innovation (CEPI), hal ini juga kemudian dapat menjadi sebuah investasi untuk memahami virus-virus Corona baru di masa depan.

Perkembangan terbaru dari vaksin COVID-19 ditunjukkan pada Hari Senin lalu, ketika terjadi pemberian dosis pertama untuk empat orang partisipan dalam percobaan vaksin di Seattle, Washington, Amerika Serikat  yang dibiayai oleh the National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) dan Kaiser Permanente Washington Health Research Institute yang berkolaborasi dengan Moderna. Salah satu partisipan pertama dalam percobaan tersebut, Jennifer Haller (usia 43 tahun) mengatakan bahwa ia senang bisa membantu pengembangan vaksin karena ia merasa saat ini situasi sangat mengkhawatirkan. Dalam konferensi persnya, Donald Trump, memuji perkembangan vaksin yang terlampau cepat yakni 65 hari setelah pemberian kode genetik virus oleh Tiongkok. Meski demikian, Annelies Wilder Smith, seorang professor di the London School of hygiene and Tropical Medicine, mengatakan bahwa proses pembuatan vaksin dari awal pengembangan hingga penyebaran ke masyarakat tetap membutuhkan waktu sekitar 12-18 bulan.

Secara keseluruhan, percobaan ini membutuhkan 45 partisipan yang terdiri atas orang-orang berusia 18-55 tahun yang berada dalam kondisi sehat. Tiga dosis yang berbeda akan disuntikkan ke 15 partisipan yang berbeda, lalu kemudian dipelajari hingga pada akhirnya ditentukan keamanannya dan apakah vaksin tersebut dapat merangsang sistem imun manusia untuk membuat antibodi yang dapat menghentikan penyebaran virus dalam sel-sel tubuh manusia. Tiap partisipan akan menerima dua injeksi dalam waktu satu bulan dan akan menerima uang sebesar 100 dolar dalam setiap kunjungan kliniknya. Selama satu tahun setelah percobaan, partisipan akan terus dimonitor perkembangannya. Meski demikian, hasil data hasil percobaan keamanan vaksin sudah dapat dikeluarkan setelah beberapa minggu. Jika sudah dinyatakan aman dan efektif, Moderna akan mengajukan izin ke Food and Drug Administration agar dapat melanjutkan percobaan ke fase berikutnya.

Kandidat vaksin yang diberi nama mRNA-2173 tersebut sejatinya dibentuk dari ekstraksi protein “spike” yang berada di permukaan virus dan dapat memasuki sel manusia. Secara sederhana, vaksin kemudian dibentuk agar sistem imun manusia dapat menghalangi masuknya protein tersebut dan manusia tidak dapat terinfeksi virus atau dengan kata lain, sel-sel tubuh manusia akan berperan sebagai “pabrik mini” yang akan memproduksi protein tidak berbahaya, sehingga ketika terdapat protein asing yang masuk dari COVID-19 dan virus lain maka ia akan membangun antibodi untuk melawannya. Maka dari itu, partisipan percobaan vaksin juga tidak dapat terinfeksi COVID-19 secara langsung akibat percobaan ini karena vaksin yang diberikan tidak mengandung elemen-elemen dari virus corona itu sendiri.

Lebih lanjut, dapat dilihat bahwa proses pembuatan vaksin memang bukanlah hal yang mudah dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dalam clinical trial terdapat setidaknya tiga fase yang harus dilalui. Pertama, vaksin dicek keamanannya dan partisipan diawasi untuk efek-efek samping yang disebabkannya. Kedua, percobaan dilakukan ke beberapa ratus partisipan, umumnya dilakukan di tempat yang paling banyak terinfeksi virus, kemudian dilihat efektivitasnya. Pada tahap terakhir, hal yang sama dilakukan ke beberapa ribu partisipan. Resiko bahwa vaksin yang diberikan tidak aman dan tidak efektif kemudian menyebabkan tahapan-tahapan percobaan ini penting dan tidak dapat diabaikan. Dengan alasan-alasan tersebut, proses pembuatan vaksin secara keseluruhan dapat membutuhkan waktu sekitar 10 tahun atau lebih.

Sementara itu, masalah lain yang dapat muncul setelah vaksin tersebut disetujui dan melewati tahap percobaan adalah kebutuhan akan kapasitas produksi yang besar. Hal ini belum tentu dapat dengan mudah dilakukan karena membutuhkan biaya dan komoditas yang cukup. Selain itu, juga terdapat hambatan untuk memastikan bahwa vaksin benar-benar tersebar dengan rata dan tepat sasaran. Seringkali terjadi ketidakseimbangan antara negara-negara yang memang membutuhkan vaksin tersebut dan negara-negara yang memiliki daya beli yang tinggi. Oleh karenanya, COVID-19 yang telah menyebabkan pandemik saat ini mendorong semua pihak untuk membangun mekanisme penemuan vaksin dan upaya pencegahan yang efektif, bukan untuk bisnis dan politik, namun untuk kebaikan dan keselamatan bersama.

Referensi:

Grady, Denise. 2020. “Trial of Coronavirus Vaccine Made by Moderna Begins in Seattle” [online] https://www.nytimes.com/2020/03/16/health/coronavirus-vaccine.html [diakses 17 Maret 2020]

Neergaard, Lauran dan Johnson, Carla K. 2020. “AP Exclusive: Coronavirus Vaccine Test Opens with 1st Doses” [online] tersedia dalam https://abcnews.go.com/Business/wireStory/coronavirus-vaccine-test-opens-us-volunteer-1st-shot-69624041 [diakses 17 Maret 2020]

Spinney, Laura. 2020. “When Will Coronavirus Vaccine be Ready?| [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/mar/16/when-will-a-coronavirus-covid-19-vaccine-be-ready-human-trials-global-immunisation [diakses 17 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com