Berbeda dengan program studi eksakta yang menggunakan metode eksperimen untuk menguji hipotesis dan melakukan sebuah penelitian, studi Hubungan Internasional sebagai salah satu cabang ilmu sosial cenderung mengamati dan menganalisis fenomena yang ada. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian dalam studi HI adalah dengan menggunakan studi komparatif atau studi perbandingan. Seringkali peneliti menemukan kasus-kasus yang memiliki persamaan dan perbedaan tertentu, sehingga untuk menemukan relasi di antara kasus-kasus tersebut, peneliti dapat membandingkan dan melakukan analisis berdasarkan hubungan kausalitas di antara kasus-kasus yang ada sebagaimana menurut Collier (1993), bahwa perbandingan yang dilakukan dapat mempertajam hasil penelitian dengan memasukkan fokus persamaan dan perbedaan antar kasus. Dalam tulisan ini, penulis akan menjelaskan pengertian dasar dari studi komparatif, perbedaannya dengan studi kasus, kapan waktu penggunaan yang tepat, dan bagaimana cara menggunakannya.

Sejak awal diterapkannya di tahun 1960-an, penggunaan metode komparatif telah meluas hingga menjadi tradisi penelitian dalam ilmu sosial. Beberapa ahli memiliki pandangan dan definisi yang berbeda terkait studi komparatif. Menurut George dan Bennet (2005), metode komparatif adalah analisis perbandingan non-statistikal yang didasarkan pada sejumlah kasus yang berbeda. Lipjhart dalam Collier (1993) menjelaskan bahwa studi komparatif digunakan untuk menganalisis kasus tertentu dengan melibatkan setidaknya dua observasi dari kasus lain, namun cenderung tidak dapat menciptakan analisis statistikal yang konvensional. Sedangkan  menurut Collier (1993) sendiri, studi komparatif dalam ilmu sosial memiliki definisi yang lebih luas yakni serangkaian isu metodologis yang muncul dari analisis sistematik sejumlah kasus. Studi komparatif dapat digunakan untuk menguji hipotesis dan dapat berkontribusi dalam hasil yang induktif dan theory building (Collier, 1993). Lebih lanjut, tujuan utama dari studi komparatif adalah untuk menilai dan mempertimbangkan eksplanasi pesaing dengan melihat variabel-variabel dalam kasus. Hal ini dilakukan dengan melakukan konseptualisasi dan generalisasi pada fenomena-fenomena internasional. Dengan kata lain, studi komparatif cenderung lebih melihat variabel-variabel makro dari fenomena dan melihat kompleksitas fenomena secara keseluruhan.

Berdasarkan penjelasan di atas, studi komparatif tidak dapat disamakan dengan studi kasus. Collier (1993) menjelaskan bahwa studi kasus dapat menyediakan framework dimana peneliti hanya memiliki waktu dan sumber yang terbatas namun dapat menggeneralisasikan variabel-variabel yang dapat menjadi potensi data penting dalam kasus tertentu. Dalam hal ini, untuk melakukan studi kasus, seorang peneliti cenderung mencari kasus yang unik dan berbeda dengan kasus-kasus lainnya untuk dianalisis. Sedangkan dalam studi komparatif, peneliti cenderung mencari kasus dengan hasil yang sama namun penyebab yang berbeda karena melihat faktor persamaan dan perbedaan antar kasus. Collier (1993) menjelaskan lebih lanjut bahwa metode komparatif dapat menyediakan dasar yang lebih kuat untuk mengevaluasi hipotesis jika dibandingkan dengan studi kasus. Hal ini dikarenakan studi komparatif melihat variabel-variabel dari sejumlah fenomena dan melihat hubungan kausalitas di antaranya sehingga dapat memberikan hasil yang lebih komprehensif. Studi komparatif dapat menyediakan perbandingan sistemik yang dapat berkontribusi untuk melakukan penilaian terhadap penjelasan lainnya (Collier, 1993). Dengan demikian, beberapa jenis studi kasus dapat dianggap secara implisit sebagai bagian dari studi komparatif namun dibutuhkan penyaringan dan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Menurut George dan Bennet (2005), pada umumnya studi komparatif melakukan perbandingan yang terkontrol, yang dapat dipahami sebagai keadaan dua kasus yang pada dasarnya memiliki hasil yang sama kecuali satu aspek atau alasan tertentu. Namun, kasus seperti ini sulit ditemukan secara spesifik sehingga dibutuhkan alternatif-alternatif untuk mencari kasus yang tepat. George dan Bennet (2005) menjelaskan lebih lanjut bahwa untuk memilih kasus yang tepat, dapat digunakan metode agreement atau perbandingan positif dan difference atau perbandingan negatif yang dicetuskan oleh Mill. Metode agreement melakukan perbandingan kasus dengan melihat faktor-faktor persamaan yang dimiliki kasus dan metode difference memilih kasus dengan melihat perbedaan-perbedaan yang dimiliki kasus. Lebih lanjut, hal ini didukung oleh Skocpol (1976) yang menyatakan bahwa untuk melakukan studi komparatif, penting bagi peneliti untuk mencari concomitant variations dalam kasus dan kasus-kasus yang saling berkontradiksi satu sama lain untuk bisa menemukan variabel-variabel positif dan negatif yang ada. Dengan kata lain, keberhasilan penelitian didasarkan pada kemampuan peneliti untuk mengontrol variabel-variabel dalam kasus dan kemampuan untuk membuat kesimpulan teoritis dari penelitian tersebut.

Untuk melakukan studi komparatif, Mahoney (1999) menjelaskan bahwa terdapat tiga strategi yang dapat digunakan yakni nominal, ordinal, dan naratif. Pertama, metode nominal melibatkan penggunaan kategori yang ekslusif dan menyeluruh. Pemilihan variabel dilakukan dengan mengeliminasi variabel yang tidak mencakup atau tidak dapat menjelaskan semua kasus yang digunakan. Teknik ini menghasilkan penelitian yang deterministik dan kesimpulan yang parsimonious. Kedua, metode ordinal mengurutkan kasus ke dalam tiga atau lebih kategori yang didasarkan pada derajat fenomena tersebut. Peneliti kemudian mengeksplorasi sub-variasi antara nilai ordinal dari kasus. Teknik ini kemudian menghasilkan penelitian yang lebih luas dan tidak terlalu deterministik karena tidak membutuhkan hubungan kausalitas yang setepat teknik nominal. Sedangkan metode naratif melihat fenomena secara unik dan memiliki kelebihan untuk menunjukkan sensitivitas terkait proses dan detail dari kompleksitas kausal dalam kasus. Ketiga strategi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga Mahoney (1999) berargumen bahwa kombinasi ketiganya dapat menghasilkan penelitian yang komprehensif dan menyeluruh.

Berdasarkan pemaparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa studi komparatif merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antar kasus dengan melihat variabel-variabel makro baik positif maupun negatif sebagai subjek analisis. Hasil dari penelitian tersebut adalah penjelasan sistematik yang bersifat terbatas karena belum tentu dapat diaplikasikan ke dalam kasus lain. Selain itu, dengan melakukan perbandingan kasus, studi komparatif dapat memberi hasil yang lebih luas dan umum jika dibandingkan dengan studi kasus karena lebih menggunakan sudut pandang makro. Penulis beropini bahwa hasil dari studi komparatif bergantung pada kemampuan peneliti untuk mengontrol kasus-kasus yang ada dengan melihat variabel-variabel yang relevan. Pemilihan strategi dan teknik studi komparatif kemudian juga bergantung pada hasil atau outcome yang diinginkan peneliti dalam suatu penelitian sehingga studi komparatif memiliki hasil yang luas dan bervariatif.

Referensi:

Collier, David. 1993. “The Comparative Method” dalam Ada W. Finifter, ed., Political Science: The State of the Discipline II. Washington D.C: American Political Science Association

George, Alexander L., dan Bennett, Andrew. 2005. Case Studies and Theory Development in the Social Sciences. Cambridge, MA: MIT Press. Ch. 8

Mahoney, James. 1999. “Nominal, Ordinal, and Narrative Appraisal in Macrocausal Analysis” dalam American Journal of Sociology, Vol. 104, No. 4, pp. 1154-1196

Skocpol, Theda. 1976. “France, Russia, China: A Structural Analysis of Social Revolutions” dalam Comparative Studies in Society and History, Vol. 18, No.. 2, pp. 175-210