Lebih dari 30% pilot sipil asal Pakistan diduga memiliki lisensi palsu yang didapat melalui kecurangan dalam ujian dan tidak layak untuk terbang. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Menteri Penerbangan Pakistan, Ghulam Sarwar Khan dalam Rapat Kenegaraan bulan Juni lalu. Ia mengatakan bahwa hal tersebut ia temukan setelah melakukan penyelidikan terhadap jatuhnya armada Pakistan International Airline (PIA) Airbus A320 pada (22/5) lalu. Kecelakaan tersebut telah menewaskan setidaknya 97 orang.

Pernyataan tersebut lantas membuat para anggota parlemen dan keluarga korban terkejut. Ghulam mengungkap bahwa setidaknya 262 dari 860 pilot di Pakistan memiliki lisensi terbang palsu. Sejatinya Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan (PCAA) membantah tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa semua pilot Pakistan memiliki lisensi yang sah, namun tetap mengambil langkah untuk menghentikan izin terbang ratusan pilot tersebut untuk melakukan pengecekan dan verifikasi lisensi.

Dilansir dari Gulf News, kini 161 dari 262 pilot yang diduga memiliki lisensi terbang palsu telah dihukum dan dilarang terbang hingga waktu yang belum ditentukan. Salah satu pihak yang paling dirugikan dari skandal ini adalah maskapai nasional Pakistan International Airlines (PIA) yang telah menghukum 101 dari 452 pilotnya. Juru Bicara PIA, Abdullah Khan mengatakan bahwa, “kami akan memastikan pilot-pilot yang tidak memiliki cukup kualifikasi untuk terbang lagi.”

Didirikan pada tahun 1955, PIA merupakan pelopor dalam bidang penerbangan komersial asal Pakistan sebagai maskapai penerbangan Asia pertama yang mengoperasikan pesawat jet dan membantu mendirikan maskapai penerbangan lain termasuk Emirates. Ketika persaingan di sektor ini meningkat, PIA dibebani dengan biaya tinggi dan pendapatan menurun. Maskapai terbesar di Pakistan tersebut kemudian mulai mengalami kesulitan mengikuti perubahan standar perjalanan komersial. Hingga pada dalam beberapa tahun terakhir pemerintah akhirnya sejumlah kali mengubah kepemimpinan teratas PIA. Akibatnya, terjadi serangkaian restrukturisasi, rebrand, dan upaya ekspansi armada.

Pada kenyataannya, perubahan-perubahan tersebut juga berpengaruh terhadap performa PIA. Dalam sepuluh tahun terakhir, PIA telah mengalami lima kecelakaan besar. Yang terbaru terjadi pada 22 Mei lalu, jatuhnya pesawat Airbus A320 di dekat Bandara Internasional Jinnah, menewaskan 97 dari 99 penumpang. Pada Desember 2016, pesawat PIA ATR-42 dari Chitral ke Havelian juga terjatuh dan menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 47 orang. Tercatat sejak tahun 1965, PIA telah mengalami sepuluh kecelakaan besar dan menewaskan setidaknya 757 penumpangnya, sebagaimana dituliskan dalam Al Jazeera.

Skandal lisensi terbang palsu dari pilot-pilot Pakistan kemudian mengundang tanggapan dari berbagai pihak. Sejumlah negara seperti Malaysia, Ethiopia, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Vietnam, Bahrain, dan Turki melarang masuknya pilot Pakistan hingga dapat memastikan keaslian lisensi mereka.

Agensi Keselamatan Penerbangan Uni Eropa memutuskan untuk melarang penerbangan dari maskapai Pakistan ke Eropa dalam setidaknya enam bulan mendatang. Dilansir dari Euro News, pihak Uni Eropa “khawatir terhadap validitas dari pilot-pilot asal Pakistan karena tidak dapat memeriksa secara langsung apakah lisensi mereka sudah memenuhi standar internasional atau belum”.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) juga menyatakan keprihatinannya atas kegagalan serius dalam perizinan dan pengawasan keselamatan oleh regulator penerbangan Pakistan. Sedangkan Departemen Perhubungan Amerika Serikat juga telah mencabut izin PIA untuk terbang ke Amerika, serta menurunkan peringkat keamanan udara Pakistan akibat skandal ini.

Merespon hal tersebut, pihak PIA mengatakan bahwa PIA bukanlah pihak yang patut disalahkan sdalam kejadian ini. “Dari 262 pilot, 101 diantaranya berasal dari PIA, sedangkan sisanya berasal dari maskapai lain. Orang-orang banyak salah mengartikan, sejatinya permasalahan ini bukan berasal dari PIA”, ujar Khan.

Meski demikian, dituliskan dalam Al Jazeera bahwa saat ini peringkat inspeksi EASA yang juga dikenal sebagai Penilaian Keselamatan Pesawat Asing (SAFA) untuk PIA adalah 0,66. Sementara di tahun 2018, peringkat PIA adalah 2,38. Setelah skandal ini muncul dan ditambah dengan munculnya pandemi COVID-19, PIA juga telah mengurangi jumlah penerbangan luar negerinya dari 110 menjadi hanya 8 per harinya.

Referensi:

Ahmed, Ashfaq. 2020. “Pakistan Suspends 68 More Pilots on Charges of ‘Dubious’ Flying Licenses” [online] tersedia dalam https://gulfnews.com/world/asia/pakistan/pakistan-suspends-68-more-pilots-on-charges-of-dubious-flying-licences-1.72712313 [diakses 24 Juli 2020]

Chugtai, Alia. 2020. “Pakistani Pilot License Scandal: The Fallout” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2020/07/pakistani-pilot-licence-scandal-fallout-200717183127351.html [diakses 24 Juli 2020]

Mian, Tahir Imran. 2020. “Pakistan Wrestles with Pilots Scandal in Wake of European Flight Ban” [online] tersedia dalam https://www.euronews.com/2020/07/09/pakistan-wrestles-with-pilots-scandal-in-wake-of-european-flight-ban [diakses 24 Juli 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R