Fenomena yang terdapat dalam Hubungan Internasional sebagai salah satu cabang ilmu sosial memiliki dinamika dan kompleksitas yang luas serta mencakup berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Hal tersebut menyebabkan penelitian sosial yang dilakukan untuk menganalisis fenomena internasional membutuhkan suatu alat analisis yang dapat memberikan penjelasan dan gambaran komprehensif fenomena secara keseluruhan sekaligus mendalam. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh para peneliti untuk menganalisis kebijakan luar negeri serta dinamika internasional adalah dengan menggunakan Level of Analysis (LoA) atau peringkat analisis. Meski terdapat perdebatan mengenai efisiensi dan tingkat akurasi dari hasil penelitian yang akan diperoleh, namun peringkat analisis masih menjadi salah satu cara yang mendominasi alur pemikiran para peneliti HI. Tulisan ini akan membahas lebih lanjut pengertian, cara penggunaan, manfaat, dan cara memilih peringkat analisis untuk menganalisis suatu fenomena internasional.

Untuk mendapatkan deskripsi fenomena yang akurat, penting untuk melihat gambaran keseluruhan dari fenomena beserta korelasinya dengan acuan empiris yang komprehensif. Namun sulit untuk melakukan penelitian yang dapat merepresentasikan fenomena internasional yang sangat luas dan kompleks, sehingga Singer (1961) menjelaskan bahwa fokus dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan yang cukup akurat dan berguna dalam eksplanasi tertentu. Menurut Singer (1961), peringkat analisis dapat dipahami sebagai sebuah cara yang dapat digunakan peneliti untuk menentukan fokus penelitiannya yang dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan. Sedangkan Temby (2015) mendefinisikan peringkat analisis sebagai struktur sosial yang dapat memengaruhi struktur sosial lainnya atau bahkan dalam struktur sosial yang sama sekalipun. Pada awalnya, peringkat analisis dicetuskan oleh Kenneth Waltz di tahun 1950-an melalui bukunya yang berjudul “Man, the State, and War”. Dalam tulisannya, Waltz menganggap perilaku negara sebagai variabel dependen dan tiga “gambar” variabel independen yakni individu, negara, dan sistem internasional. Istilah peringkat analisis kemudian diperkenalkan oleh Singer di tahun 1960, dengan argumen baru bahwa sistem bukanlah variabel kunci dalam suatu penelitian, melainkan bagaimana sistem tersebut dilihat, dievaluasi, dan direspon oleh para pembuat kebijakan (Temby, 2015).

Dijelaskan dalam Temby (2015) bahwa sekilas terdengar pandangan Singer sama dengan Waltz namun hanya mengeliminasi variabel individu. Namun, Singer memiliki konsep lain yakni tingkat mikro dan makro dalam analisis. Singer (1961) berpendapat bahwa dalam setiap sistem, terdapat tingkat mikro atau individualistik dan makro atau holistik. Terkait hal ini, peringkat analisis dilakukan dengan cara melihat mekanisme kausal antara tingkat mikro dan makro dalam sebuah sistem. Ray (2001) menambahkan bahwa perbedaan Waltz dan Singer terletak pada fokus Waltz pada faktor eksplanatori sedangkan Singer fokus pada entitas sosial atau agregasi terkait deskripsi, eksplanasi, atau prediksi yang ditawarkan oleh masing-masing penelitian. Singer membagi peringkat analisisnya menjadi dua tingkat yakni tingkat sistem internasional dan negara. Dalam sistem internasional, peneliti dapat melihat pola interaksi yang terdapat dalam sistem tersebut dan dapat melakukan generalisasi fenomena yang kemudian dapat menghasilkan hasil seperti penciptaan koalisi, durasi konfigurasi power, modifikasi stabilitas, dan respon terhadap perubahan institusi politik (Singer, 1961). Dengan kata lain, tingkat sistem internasional dapat melihat hubungan internasional secara keseluruhan, yang tidak dapat ditemui jika peneliti fokus pada tingkat yang lebih sempit. Namun, tingkat ini memiliki kelemahan yakni cenderung memiliki tingkat keseragaman yang tinggi dan mengabaikan keunikan dan perbedaan dalam setiap kasus.

Selanjutnya tingkat yang kedua adalah tingkat nasional atau negara, yang sering digunakan oleh peneliti tradisional dari Barat. Singer (1961) menjelaskan bahwa tingkat ini dapat menunjukkan perbedaan yang signifikan antar aktor dalam sistem internasional sehingga penelitian dapat memberi hasil yang detail dan mendalam. Namun, pendekatan ini juga dapat mengarahkan peneliti untuk melakukan penelitian yang terlalu membedakan aktor sehingga tidak dapat melihat pola dan tidak dapat merumuskan jawaban yang komprehensif. Lebih lanjut, dapat dilihat bahwa peringkat analisis dapat memberikan penjelasan yang terfokus dan mendalam dalam penelitian sosial HI. Namun, peringkat analisis tidak terlepas dari kekurangannya yakni harus terdapat hal-hal yang dikorbankan dalam penelitian karena peringkat analisis memberi batasan cakupan penelitian yang jelas dan sempit. Sehingga, penelitian yang dihasilkan tidak dapat memberikan representasi fenomena internasional secara keseluruhan karena peneliti harus memilih untuk melakukan penelitian secara holistik atau individual (Singer, 1961). Maka dari itu, peringkat analisis bersifat opsional bagi peneliti karena digunakan sebagai cara untuk mempertajam dan memfokuskan penelitiannya.

Kembali kepada fungsi dari peringkat analisis menurut Singer (1961) yakni untuk memberikan deskripsi, eksplanasi, dan prediksi terkait fenomena internasional, maka peringkat analisis memiliki kesesuaian dan ketidaksesuaian dalam penelitian tertentu. Seperti yang telah penulis ulas sebelumnya, setiap tingkat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti untuk memilih dan mempertimbangkan alat analisis yang akan digunakan dalam penelitiannya. Temby (2015) menjelaskan bahwa untuk memilih suatu peringkat analisis, penting bagi peneliti untuk menentukan unit analisis yang berperan sebagai variabel dependennya dan unit eksplanasi sebagai variabel independennya.

Dapat disimpulkan bahwa peringkat analisis merupakan salah satu cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan analisis sistematik dan terfokus dalam penelitiannya. Kompleksitas fenomena HI menyebabkan peringkat analisis menjadi salah satu perdebatan umum terkait keefektifan dan akurasinya. Hal ini dikarenakan terdapat kecenderungan untuk mendapatkan hasil yang terfokus dan tidak dapat menjadi representasional dari dinamika yang ada atau dengan kata lain, menghasilkan penelitian yang over simplistic. Penulis memandang bahwa peringkat analisis dapat memberikan hasil penelitian yang sistematis dan terfokus untuk menjelaskan fenomena HI. Namun, seiring dengan perkembangan dan dinamika studi HI, peringkat analisis juga harus menyesuaikan dengan perkembangan tersebut.

Referensi:

Singer, J David. 1961. “The Level of Analysis Problem in International Relations” dalam World Politics, 14(1), hal. 77-92

Ray, J Lee. 2001. “Integrating Levels of Analysis in World Politics” dalam Journal of Theoretical Politics, 13(4), hal. 355-388

Temby, Owen. 2015. “What are the Level of Analysis and what do They Contribute to International Relations Theory?” dalam Cambridge Review of International Affairs, 28(4), hal. 721-742