Permasalahan dan fenomena yang terdapat di dunia, memiliki kompleksitas dan detil yang tidak ada habisnya. Terdapat banyak aktor-aktor yang terdiri dari lapisan-lapisan yang saling tumpang tindih seperti individu atau kelompok, yang berada dalam suatu lingkungan tertentu dengan kondisi tertentu pula. Rosenau dan Duffee (2000) memandang bahwa terdapat dua cara atau mekanisme yang dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia yakni yang pertama adalah dengan memahami bahwa kondisi dunia adalah kompleks dan tidak dapat disederhanakan sehingga terjadi pengakuan terdapat kompleksitas tersebut dan cenderung menerima dunia sebagaimana adanya. Sedangkan cara yang kedua adalah menggunakan teori yang melihat pola-pola sehingga dapat menyederhanakan detil yang ada. Tulisan ini akan menjelaskan pengertian dan cara penggunaan teori dalam penelitian ilmiah yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang ada.

Isaac (1981) menjelaskan bahwa dalam ilmu sosial dan politik, dibutuhkan adanya generalisasi. Alasan pertama dibutuhkannya generalisasi dalam ilmu sosial agar dapat menciptakan penelitian dan penjelasan yang sistematis terkait suatu fenomena dan kedua, generalisasi dibutuhkan agar peneliti dapat menyusun penjelasan sekaligus prediksi terkait kemungkinan apa yang dapat terjadi di masa depan. Generalisasi yang baik memiliki ciri-ciri berdasarkan tiga faktor utama yakni kondisi, empiris, dan cakupannya (Isaac, 1981). Dari segi kondisi, generalisasi menyatakan hubungan empiris antar konsep sehingga membentuk kondisi yang telah digeneralisasi. Pada umumnya mengandung pernyataan dengan istilah “jika” dan “maka” atau dengan kata lain, generalisasi memandang hubungan dalam dua atau lebih kondisi. Tidak hanya kondisional, generalisasi yang baik harus memiliki unsur empiris atau berdasarkan pada observasi atau pengalaman. Sifat empiris yang dimaksud adalah fenomena nyata yang masuk akal, dapat diuji, dan cocok jika dikombinasikan (Isaac, 1981). Untuk menghindari ketidakcocokan atau absurdity, maka konsep yang digunakan harus dapat didefinisikan secara independen dan memiliki definisi tidak analitik.  Kemudian, selain kondisional dan empiris, generalisasi yang baik harus infinite jangkauannya, dan tidak hanya terbatas pada entitas atau kondisi tertentu saja.

Setelah mengetahui penjelasan dasar dari generalisasi, maka teori dapat dibentuk. Dijelaskan dalam Mainheim dan Rich (1995), teori merupakan serangkaian simbol yang berhubungan secara logis dan dapat merepresentasikan pemikiran para analis mengenai fenomena-fenomena yang terjadi di dunia. Dengan kata lain, teori digunakan sebagai alat bagi para peneliti untuk dapat menjelaskan suatu fenomena. Maka teori tidak mengenal istilah benar atau salah, melainkan dapat dibedakan menjadi teori yang cocok untuk menjelaskan suatu fenomena atau tidak. Akan tetapi, teori berbeda dengan konsep karena teori tersusun atas dua atau lebih konsep yang saling berhubungan dan saling mengisi untuk dapat memberi penjelasan yang lebih komprehensif terkait suatu fenomena (). Teori menggunakan serangkaian konsep yang masing-masing memiliki definisi yang jelas dan merupakan abstraksi dari suatu kompleksitas tertentu. Mainheim dan Rich (2000) memaparkan bahwa penciptaan dan pengembangan teori merupakan usaha untuk menyederhanakan realita yang ada dan mendapat pemahaman sistematis yang dapat menjelaskan penelitian dan mendapat hasil yang ilmiah. Maka dari itu, theory building adalah tahap pertama dalam suatu proses penelitian.

Menurut Mainheim dan Rich (2000), theory building adalah sebuah proses interaksi konstan antara komparasi dan pembuktian antara analisis dan penelitian yang membutuhkan kreativitas dan empirisisme. Dengan kata lain, theory building adalah proses penyusunan teori yang tepat dan dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena. Pertama, sebelum menyusun teori, penting untuk melakukan penelitian eksplanatori baik dengan melihat realita yang ada secara langsung, atau melihat data dan penelitian yang sebelumnya. Penelitian awal ini digunakan untuk menyediakan fakta-fakta dalam sebuah kasus sehingga dari fakta tersebut, dapat ditarik pola-pola umum. Pola-pola tersebut kemudian menunjukkan situasi-situasi yang terjadi berulang kali dan dapat membentuk sebuah asumsi dan eksplanasi logis dari fenomena yang ada. Proses yang demikian disebut juga proses induktif karena didasarkan pada fenomena nyata yang kemudian diabstraksikan dan ditarik asumsi-asumsi yang berkaitan (Mainheim dan Rich, 1995). Langkah selanjutnya adalah melakukan proses deduktif yang berawal dari pernyataan abstrak yang menyebabkan teori dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena tertentu. Peran deduksi kemudian adalah untuk menggabungkan teori yang sudah terbentuk dengan observasi di fenomena nyata.

Namun dalam theory building, dapat terjadi beberapa kesalahan seperti yang disebutkan dalam Hoffman (1969) yakni permasalahan dalam konseptualisasi karena dapat terjadi pemahaman dobel dan hanya valid dalam waktu tertentu saja, kemudian adanya kesalahan dalam lever abstraksi yang didapat dari skematisasi dalam model deduktif, kesalahan dalam faktor determinan, isu kardinal dalam hubungan antar teori empiris, dan ambiguitas dalam hubungan teori empiris dan teori filosofis. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah theoritical framework atau kerangka teori yang dapat dimaknai sebagai formulasi hipotesis yang saling berkaitan (Hoffman, 1969). Mengingat bahwa penting bagi sebuah teori untuk dapat diuji dan dibuktikan secara ilmiah, maka kombinasi hipotesis yang ada menjadi hal yang esensial. Maka Hoffman (1969) memaparkan lebih lanjut bahwa cara yang dapat digunakan untuk mempermudah proses penyusunan teori dalam suatu penelitian adalah dengan membangun pemikiran teoritis.

Dapat disimpulkan bahwa teori merupakan hal yang krusial dalam penelitian ilmiah. Dalam ilmu sosial, teori digunakan untuk menyederhanakan fenomena yang ada dengan menggunakan serangkaian istilah-istilah abstrak atau konsep. Juga digunakan sebagai alat untuk menjelaskan sekaligus memprediksi suatu fenomena dengan melihat pola yang didasarkan pada geneeralisasi, sehingga suatu teori dinilai dari berguna atau tidaknya teori tersebut dalam menjelaskan suatu fenomena. Penyusunan teori meliputi langkah induktif dengan melihat kasus spesifik hingga menyimpulkan generalisasi darinya, dan langkah deduktif yang diawali oleh konsep abstrak yang dapat diaplikasikan ke dalam fenomena nyata. Penulis beropini bahwa untuk dapat menyusun suatu teori yang efisien dan useful, maka diperlukan pemahaman mendalam terkait konsep yang digunakan di dalam teori tersebut agar tidak terjadi ambiguitas dan pemahaman yang tumpang tindih atau overlap.

Referensi:

Hoffmann, Stanley. 1965. “Theory and International Relations” dalam Rossenau, James N, International Politics and Foreign Policy. New York: The Free Press, hal. 30-40

Isaak, Allan C. 1981. “Generalisation in Political Science” dalam Scope and Methods of Political Science: An Introduction to the Methodology of Political Inquiry. Illinois: The Dorsey Press, hal. 105-132

Manheim, Jarol B. dan Rich, Richard C. 1995. “Theory Building: Concepts and Hypotheses in Political Science” dalam Empirical Political Analysis: Research Methods in Political Science. London: Longman Publisher, hal. 19-38

Rosenau, James N. & M. Dufree, 2000. Thinking Theory Thoroughly: Coherent Approaches to an Incoherent World. Boulder, CO: Westview Press. Chapter 1 & 9.