Setidaknya terdapat 20 korban meninggal dalam pertempuran yang terjadi antara India dan Tiongkok di sebuah lembah berbatu di kawasan Galwan yang berada di antara Tiongkok dan wilayah Landakh, India. Pertempuran tersebut terjadi pada Senin lalu ketika seorang petugas patrol India berhadapan dengan pasukan Tiongkok hingga terjadi konfrontasi. Saat situasi memanas, seorang perwira India terdorong dan jatuh ke Sungai Gorge. Ratusan pasukan dari kedua belah pihak kemudian dipanggil dan terjadilah pertempuran dengan saling melempar pukulan dan batu. Beberapa media juga menyebutkan pasukan Tiongkok menggunakan tongkat dan pentungan berpaku untuk menyerang. Pertempuran berlangsung selama enam jam dan berakhir dengan kedua pihak saling menyalahkan.

Pada awalnya, pihak militer India melaporkan bahwa terdapat tiga korban tewas. Namun kemudian data tersebut diperbarui dan korban bertambah 17 dari para tentara yang meninggal akibat cedera kritis dan suhu udara yang ekstrim, sehingga total korban tewas berjumlah 20 tentara termasuk seorang perwira yang tewas dalam pertempuran tersebut. Selain baku hantam dan saling melempar batu, warga setempat juga menyebutkan bahwa beberapa tentara India dipukuli terlebih dahulu hingga tewas. Pihak militer India juga menyebutkan bahwa terdapat korban dari pihak Tiongkok, namun pemerintah Tiongkok sendiri menolak untuk melaporkan jumlah korban karena ingin menghindari konfrontasi publik yang dapat terjadi dengan perbandingan angka.

Meski tidak mempublikasikan jumlah korban, Beijing bersedia angkat bicara terkait penyebab konfrontasi dengan menuduh tentara militer India telah melintasi wilayah Tiongkok secara ilegal dan dengan sengaja melakukan provokasi terhadap tentara Tiongkok. Sedangkan Kementerian Eksternal India menuduh Tiongkok telah melanggar kesepakatan kedua negara untuk menghormati Garis Kendali Aktual (LAC) di lembah tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India Anurag Srivastava juga mengatakan bahwa Tiongkok ingin mengubah status quo secara sepihak di perbatasan tersebut.

Sengketa wilayah di perbatasan antara India dan Tiongkok sejatinya terjadi pertama kali di tahun 1962 yang ditutup dengan kekalahan telak India dan pembentukan garis perbatasan de facto yang disebut dengan Line of Actual Control (LAC). Namun perjanjian “damai” tersebut masih sangat rentan terhadap konfrontasi sebagaimana terjadi dalam tahun-tahun berikutnya. Wilayah yang diperebutkan merupakan dataran tinggi dengan jumlah penduduk yang jarang, berbatasan dengan Tibet dan ditinggali oleh masyarakat mayoritas beragama Buddha. LAC sendiri memiliki batas-batas yang tidak jelas dan masih dapat diperdebatkan hingga pasukan patrol kedua negara masih sering berhadapan langsung. Perebutan wilayah terus dilakukan baik oleh India maupun Tiongkok dengan meningkatkan peran militer serta membangun infrastruktur seperti jalan, jalur penerbangan, stasiun pengawasan, dan jaringan telepon. Pengawasan rutin khususnya di daerah perbatasan hampir selalu dilakukan. Sejauh ini, Tiongkok telah mengklaim lebih dari 90.000 kilometer per segi di bagian timur Himalaya dan 28.000 kilometer per segi di bagian barat – keduanya diperebutkan oleh India.

Pertempuran Senin lalu adalah pertempuran fatal pertama sejak tahun 1975 dan yang paling serius sejak 1967. Pada tahun 2017, kedua negara bentrok ketika Tiongkok berusaha memperluas jalan perbatasan melalui dataran tinggi yang diperebutkan, sedangkan India sendiri juga membangun jalan baru di wilayahnya hingga memicu kemarahan Beijing karena dipandang dapat meningkatkan kapabilitas Delhi untuk memobilisasi pasukan dan persenjataannya. Sementara itu, ketegangan pada tahun ini mulai terbentuk ketika pada bulan April, Tiongkok mengirim ribuan pasukannya ke wilayah LAC dengan membawa kendaraan militer dan artileri. Pada bulan lalu baku hantam juga terjadi di perbatasan kedua negara hingga menyebabkan tujuh tentara Tiongkok dan empat tentara India terluka.

Pemimpin kongres India telah mendesak pemerintah untuk mengadakan pertemuan semua partai untuk mendiskusikan langkah yang akan diambil terhadap Tiongkok. Ia mengatakan bahwa: “Tiongkok akan terus berusaha untuk melebarkan wilayahnya hingga memasuki India kecuali kita segera melakukan perlawanan yang sepadan. Mereka pasti akan terus berusaha mengembalikan Kerajaan Tengah yang telah hilang di tangan asing.” Selain itu, ia juga menyarankan pemerintah untuk segera membangun dan memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga utamanya Nepal sebagai strategi solidaritas serta mempertahankan persatuan internal.

Keseriusan pertempuran ini kemudian dapat menyebabkan konsekuensi geopolitik tersendiri, mengingat Tiongkok dan India adalah negara dengan populasi terpadat di dunia serta dipimpin oleh pemimpin yang sangat nasionalis. Keduanya juga menggunakan kekuatan militer sebagai simbol status nasional dan kebanggaannya. Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian mendorong keduanya untuk mengadakan diskusi damai dan berharap situasi dapat diselesaikan melalui resolusi damai. Hal serupa juga dinyatakan oleh juru bicara pemerintah Amerika Serikat yang mengatakan bahwa Amerika akan terus mengawasi dengan ketat perkembangan resolusi damai terkait isu ini.

Referensi:

BBC. 2020. “India-China Clash: Two Sides Blame Each Other for Deadly Fighting” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-asia-53073338 [diakses 17 Juni 2020]

Davidson, Helen dan Doherty, Ben. 2020. “Explainer: What is the Deadly India-China Border Dispute About?” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/jun/17/explainer-what-is-the-deadly-india-china-border-dispute-about [diakses 17 Juni 2020]

The Indian Express. 2020. “Explained: What the Clash in Ladakh Underlines, and What India Must Do in Face of the Chinese Challenge” [online] tersedia dalam https://indianexpress.com/article/explained/clash-in-ladakh-india-china-lac-6462651/ [diakses 17 Juni 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R