Penggunaan masker sekali pakai yang dikenakan untuk mencegah penyebaran virus corona saat ini berpotensi besar dapat mengancam kelestarian alam. Para kelompok-kelompok environmentalis di dunia mulai mengkhawatirkan sampah masker yang semakin meningkat dan menganggap bahwa penggunaan masker sekali pakai meski dibutuhkan untuk mencegah penyebaran virus, namun di sisi lain juga dapat menjadi “polusi baru” bagi lingkungan. Sampah masker yang menumpuk tidak hanya menyebabkan isu kesehatan karena dapat mengandung virus yang menempel, namun juga isu lingkungan karena dapat mengandung bahan yang tidak dapat didaur ulang. Masker sekali pakai sendiri umumnya menggunakan bahan kain yang mengandung plastik polypropylene, sedangkan tali pengikatnya dapat terbuat dari plastik atau alumunium – semuanya tidak ramah lingkungan. Oleh karenanya, hal ini menjadi penting dan jika tidak segera ditindaklanjuti kemudian hal ini dapat menjadi permasalahan baru bagi pemerintah karena isu lingkungan termasuk isu global atau lintas batas, sehingga membutuhkan kerjasama dari negara-negara.

Utamanya setelah pandemik berlangsung, penggunaan masker semakin meningkat dengan pesat. Masker yang sebelumnya hanya digunakan oleh para tenaga medis saja, kini juga digunakan oleh masyarakat umum untuk kegiatan sehari-hari. Berbagai negara di dunia juga telah menghimbau rakyatnya untuk menggunakan masker di ruang publik agar tidak tertular virus. Akibatnya, jumlah sampah masker meningkat dengan pesat pula. Contohnya di Thailand, untuk bulan April saja telah memproduksi 1,56 juta masker setiap harinya dan sekitar 0,8 juta di antaranya dialokasikan untuk rumah sakit sedangkan sisanya dijual untuk publik. Dengan jumlah itu pun, pada kenyataannya pemerintah Thailand masih memeroleh keluhan kurangnya masker di masyarakat. Dengan asumsi bahwa jumlah tersebut habis digunakan setiap harinya, maka angka tersebut juga sebanding dengan jumlah sampah yang diproduksi. Positifnya, tingginya penggunaan masker menunjukkan tingginya minat dan kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker dan menjaga kesehatan. Namun di sisi lain, kurang terdapat sosialisasi terkait tempat pembuangan dan cara pengolahan masker yang tepat. Akibatnya, banyak ditemukan masker-masker bekas yang terbuang dan tertiup angin hingga akhirnya jatuh di selokan hingga sampai ke pesisir pantai dan laut. Masker-masker inilah yang kemudian berubah menjadi sampah yang dapat membahayakan kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Menurut para kelompok environmentalis tersebut, kerusakan lingkungan akibat masker telah terjadi di Hong Kong dan Tiongkok. Di Hong Kong, masker bekas telah memenuhi pantai di Kepulauan Soko selama pandemik berlangsung, memicu adanya polusi baru. Gary Stokes, pendiri OceanAsia sendiri mengatakan bahwa mereka telah menemukan sekurang-kurangnya 70 masker setiap 100 meter di daerah tersebut dan tambahan 30 masker ketika mereka kembali kesana pada pekan berikutnya. Seiring berjalannya waktu mereka telah banyak menemukan masker sekali pakai yang mengotori lingkungan utamanya setelah pandemik COVID-19 dimulai. Ia berkata: “jika daerah dengan tujuh juta penduduk menggunakan satu hingga dua masker setiap harinya, maka jumlah sampah yang menumpuk akan mengalami peningkatan yang sangat signifikan dan berbahaya. Bahkan beberapa masker terlihat masih baru, tandanya belum berada di air untuk waktu yang lama.”

Lebih lanjut, operasi pembersihan sampah masker juga dilakukan di Prancis oleh yakni Operation mer proper (operasi pembersihan laut) terlihat telah dilaksanakan di pesisir dekat Cote d’Azur akibat banyaknya sampah masker dan sarung tangan yang mengotori laut. Mereka berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat atas sampah-sampah masker yang dapat membahayakan lingkungan dan kehidupan hewan maritim. Sampah-sampah tersebut akan terurai menjadi plastik mikro yang kemudian dapat dikonsumsi secara tidak sengaja oleh hewan-hewan laut hingga dapat memengaruhi sistem pencernaannya. Sementara itu, sampah masker juga berpengaruh bagi kehidupan manusia sendiri karena dapat menyebarkan virus yang menempel pada masker-masker tersebut. Penanganan yang tidak tepat dengan hanya menumpuk masker-masker tersebut di tempat terbuka juga dapat menyebabkan virus berkumpul dan menyebar.

Sementara itu, Tiongkok telah mengeluarkan kebijakan terkait penggunaan dan pembuangan masker yang tepat. Di Shanghai contohnya, mereka yang membuang sampah di tempat sampah yang salah akan dikenai denda sebesar 200 yuan. Meski demikian Tiongkok tetap menemui permasalahan besar karena jumlah masker bekas yang melebihi kapasitas penanganan dari negara tersebut. Selama pandemic k berlangsung, Wuhan telah memproduksi lebih dari 200 ton sampah medis – empat kali lebih banyak dari situasi normal.

Dengan demikian, permasalahan ini tidak dapat dianggap sepele oleh para pemerintah. Pertama, badan-badan pemerintah harus bekerjasama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pembuangan sampah masker yang tepat sekaligus menyediakan tong sampah khusus untuk masker di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Selain itu, pemerintah juga harus memperhatikan pengiriman dan penanganan sampah-sampah tersebut. Dengan kata lain, produksi masker juga harus seimbang dengan kapasitas negara untuk mengolah. Jika produksi tidak dapat diturunkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, maka pemerintah harus mencari cara untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah agar tetap terkendali.

Referensi:

BBC, 2020. “Coronavirus: French Alarm at Covid-linked Med Pollution” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-europe-52807526 [diakses 27 Mei 2020]

Boyle, Louise. 2020. “Discarded Coronavirus Face Masks and Gloves Rising Threat to Ocean Life, Conservationists Warn” [online] tersedia dalam https://www.independent.co.uk/news/coronavirus-masks-gloves-oceans-pollution-waste-a9469471.html [diakses 27 Mei 2020]

Thampanishvong, Kannika dan Wibulpolprasert, Wichsinee. 2020. “Face Mask Crisis of Another Design” [online] tersedia dalam https://www.bangkokpost.com/opinion/opinion/1924908/face-mask-crisis-of-another-design [diakses 27 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R