Konflik Nagorno-Karabakh merupakan konflik terpanjang yang melanda negara bekas Uni Soviet pasca keruntuhannya pada tahun 1991. Konflik tersebut melibatkan Armenia dan Azerbaijan yang memperebutkan wilayah republik de facto yang secara internasional dikenal sebagai Republik Nagorno-Karabakh. Nagorno-Karabakh memiliki mayoritas etnis Armenia dan terafiliasi dengan Republik Armenia. Namun secara internasional, Nagorno-Karabakh masuk ke dalam wilayah Republik Azerbaijan. Dalam tulisan ini, tim penulis akan menjelaskan tentang konflik yang terjadi di Nagorno-Karabakh serta upaya apa yang telah dilakukan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelesaikan masalah ini.

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa konflik Nagorno-Karabakh merupakan konflik bersenjata yang terjadi di Nagorno-Karabakh, Azerbaijan barat daya, dari Februari 1988 sampai Mei 1994. Perang ini terjadi antara etnis Armenia di Nagorno-Karabakh yang dibantu oleh Armenia melawan Azerbaijan. Perang ini merupakan konflik etnis paling destruktif setelah jatuhnya Uni Soviet pada Desember 1991 (Ozkan, 2006). Akar dari konflik ini sesungguhnya berasal dari kompetisi antara Kristen Armenia dan Muslim Turki serta pengaruh dari Persia yang sudah berlangsung lebih dari satu abad yang lalu. Wilayah tersebut telah dihuni lama oleh etnis-etnis tersebut dan pada abad ke-19 menjadi bagian dari Kekaisaran Russia (BBC, 2016). Kedua etnis ini pada era tersebut hidup dalam damai. Akan tetapi, setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama dan terjadinya Revolusi Bolshevik di Rusia, pemimpin Uni Soviet pada saat itu membuat kebijakan untuk membagi daerah kekuasaan yang ada. Oleh karena itu, didirikanlah wilayah otonomi Nagorno-Karabakh dengan mayoritas etnis Armenia akan tetapi berada di dalam kekuasaan Soviet Socialist Republic of Azerbaijan di awal tahun 1920-an. Longgarnya kontrol Uni Soviet akibat keruntuhannya ketika Perang Dingin berakhir menimbulkan bibit-bibit konflik antara Armenia dan Azerbaijan. Hal tersebut disebabkan oleh keinginan dari parlemen Nagorno-Karabakh yang menginginkan untuk bergabung dengan Armenia (BBC, 2016).

Selama pertempuran tersebut, setidaknya sekitar 20.000 hingga 30.000 orang diperkirakan telah menjadi korban. Etnis Armenia berhasil menguasai wilayah Nagorno-Karabakh yang diiringi dengan upaya etnis Armenia tersebut untuk mendorong dan menduduki wilayah Azerbaijan di luar wilayah Nagorno-Karabakh itu sendiri. Kondisi seperti ini menyebabkan terciptanya buffer zone yang menghubungkan Nagorno-Karabakh dan Armenia (BBC, 2016). Runtuhnya Uni Soviet di penghujung tahun 1991 membuat Karabakh semakin yakin dan memutuskan untuk mendeklarasikan diri sebagai republik yang independen sehingga memicu terjadinya konflik yang lebih besar. Secara de facto, self claim yang dilakukan oleh Nagorno-Karabakh belum diakui. Armenia sendiri tidak mengakui secara resmi pengakuan kemerdekaan dari Nagorno-Karabakh walaupun sebelumnya Armenia bertindak sebagai pendukung keuangan dan bantuan militer bagi Nagorno-Karabakh selama konflik ini berlangsung.  Pada tahun 1994, sebuah perjanjian gencatan senjata ditandatangani dan menetapkan Nagorno-Karabakh sebagai bagian wilayah Azeri, Armenia (BBC, 2016).

Konflik ini secara garis besar terbagi menjadi dua fase yaitu fase pertama di tahun 1988-1991 dan fase kedua di tahun 1992 hingga 1994 (Cornel, 1999). Pada fase satu bisa dikatakan sebagai awal mula konflik antar etnis di wilayah Armenia, Azerbaijan dan Nagorno-Karabakh masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Menyusul kebijakan glasnost atau keterbukaan politik yang diberlakukan oleh Uni Soviet sejak pertengahan tahun 1980-an, sengketa atas Nagorno-Karabakh pun berubah menjadi konflik terbuka antar etnis. Konflik fase ini sendiri umumnya berupa kontak senjata yang intensitas dan ruang lingkupnya masih terbatas. Sedangkan fase kadua, bisa dikatakan sebagai konflik antar negara ketika Uni Soviet pecah sehingga willayah Armenia dan Azerbaijan sama-sama berubah menjadi negara merdeka, namun status wilayah Nagorno-Karabakh masih tetap mengambang. Bisa dikatakan fase ini emrupakan fase tersengit dalam perang karena pada fase ini, masing-masing pihak mulai menerjunkan persenjataan beratnya seperti tank dan pesawat tempur. Perang akhirnya berakhir dua tahun 1994 dengan kemenangan berada di kubu Armenia, namun persengketaan atas status Nagorno-Karabakh tetap berlanjut hingga sekarang di meja perundingan (Cornell, 1999).

Konflik di Kaukasus Selatan tersebut dikategorikan sebagai konflik berkepanjangan atau protracted conflict. Konflik berkepanjangan merupakan konflik yang tidak kunjung menemukan solusi perdamaian permanen dan masuk ke dalam jenis konflik sosial. Hingga saat ini, konflik berkepanjangan dianggap sebagai tantangan utama bagi para ahli dibidang perdamaian dan resolusi konflik (Lederach, 1997). Namun sama seperti Perang Korea, perjanjian damai tak pernah dibuat oleh kedua belah pihak baik Azerbaijan maupun Nagorno-Karabakh itu sendiri. Karena itu, masih ada pertempuran yang pecah di perbatasan Nagorno-Karabakh dan Azerbaijan, sehingga sempat menimbulkan ketegangan antara pemerintah Azerbaijan beberapa waktu lalu.

Sejak tahun 1994 hingga tahun 2013, keadaan konflik tidak mengalami perubahan yang signifikan. Bahkan dari tahun 2010 hingga tahun 2013, konflik Nagorno-Karabakh mengalami deadlock dalam mencari solusi damai. Keadaan antara Azerbaijan dan Armenia digambarkan dengan no war, no peace situation. Negosiasi perdamaian kedua negara diarahkan oleh OSCE Minsk Grup, sedangkan mediasi dilakukan oleh co-chairmen yaitu Amerika Serikat, Rusia, dan Prancis. Sedangkan PBB tidak terlibat secara langsung dalam proses conflict settlement dikarenakan adanya dilema yang dihadapi PBB untuk menyelesaikan konflik Nagorno-Karabakh. Kehadiran PBB dalam rangka menciptakan peacekeeping di wilayah ini dipastikan sulit untuk terwujud. Pasalnya, terdapat Rusia yang menaruh kepentingan nasionalnya di kedua negara tersebut. Hal ini dipersulit dengan fakta bahwa Rusia adalah salah satu anggota permanen utama dari Security Council PBB, bersama dengan AS dan Prancis. Tidak hanya itu, upaya menciptakan peacekeeping yang dilakukan oleh PBB juga dianggap tidak selalu memberikan jangkauan perdamaian dalam skala global. Dapat dikatakan bahwa upaya damai yang diusulkan oleh PBB cenderung hanya bersifat jangka pendek atau bahkan berujung pada kegagalan. Meskipun begitu, PBB telah berperan memberikan beberapa resolusi untuk menyelesaikan konflik, seperti Security Council mengadopsi empat resolusi pada tahun 1993 yaitu Resolusi 822, 853, 874, dan 884. Selain itu, General Assembly mengadopsi 62/243 pada tahun 2008, yang berisi adanya penghormatan atas wilayah Azerbaijan dan menuntut pasukan Armenia keluar dari wilayah tersebut (Klever, 2013).

Dari penjelasan di atas, tim penulis mengambil kesimpulan bahwa konflik Nagorno-Karabakh merupakan konflik berkepanjangan yang terjadi di kawasan Armenia-Azerbaijan. Konflik ini didasari oleh faktor etnisitas, namun juga terdapat unsur-unsur politik antara Armenia, Azerbaijan, dan Nagorno-Karabakh itu sendiri. Tim penulis juga merasa bahwa resolusi konflik yang dilakukan oleh PBB kurang efektif karena hingga saat ini. Tidak ada langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah ini juga menjadi penyebab bagi keberlangsungan konflik ini. Tim penulis berpendapat bahwa perlu ada langkah-langkah solutif dari kedua pihak berkonflik disertai bantuan dari PBB.

Referensi:

BBC, 2016. Nagorno-Karabakh Profile. [online] Tersedia dalam http://www.bbc.com/news/world-europe-18270325 [Diakses pada 13 November 2016].

Cornell, S.E., 1999. The Nagorno-Karabakh Conflict. Inst. för Östeuropastudier.

Klever, Emma, 2013. The Nagorno-Karabakh conflict between Armenia and Azerbaijan: An overview of the curent situation. Brussels: EMI.

Lederach, J.P., 1997. Building Peace: Sustainable Reconciliation in Divided Societies. Washington: United States Institut of Peace Press.

Özkan, G., 2006. Nagorno-Karabakh Problem: Claims, Counterclaims and Impasse. Orta Asya ve Kafkasya Araştırmaları, (01), hal.118-142.

Ditulis oleh:
Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com,
Garnis Yoga,
Bella Fokker Andini,
Ni Komang Yulia