Jorge Larrain dalam karyanya yang berjudul Theories of Development: Capitalism, Colonialism, and Dependency yang diterbitkan pada tahun 1991 kemudian memberikan gambaran yang cukup mendetail mengenai teori dependensi, yang menjadi diskursus utama bagi berbagai macam penjelasan tentang kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di berbagai negara berkembang. Dalam penjelasannya, terdapat dua macam teori dependensi yang dapat menjadi explanan bagi ketertinggalan negara-negara berkembang tersebut. Teori dependensi yang pertama berbicara mengenai sistem internasional yang terintegrasi ke dalam sebuah jaringan kapitalisme global dimana terdapat polarisasi negara-negara inti dan periferi. Perbedaan keduanya terjadi akibat adanya ketidakseimbangan pola pertukaran sumber daya sehingga menimbulkan sebuah hubungan yang eksploitatif. Sedangkan pandangan yang kedua berfokus tidak pada sistem internasionalnya melainkan berfokus pada sistem ekonomi domestik dan berbagai proses sosial yang terjadi di dalam negara-negara yang mengalami kemiskinan serta keterbelakangan. Pada kesempatan kali ini, penulis berusaha mengarahkan fokusnya menuju ke teori dependensi yang kedua dimana teori tersebut berusaha untuk menjelaskan kemiskinan dan keterbelakangan yang terjadi di berbagai negara berkembang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi domestik negara yang bersangkutan.

Terdapat tiga tokoh yang kemudian memberikan sumbangsih pemikirannya terkait teori dependensi aliran yang kedua ini yakni Furtado, Pinto, dan Sunkel dimana ketiganya dijuluki sebagai kelompok strukturalis. Pinto, Furtado, dan Sunkel mendasarkan asumsi dan teori mereka berdasarkan dengan apa yang mereka amati di beberapa negara Amerika Latin. Perlu dicermati pula bahwa ketiganya merupakan pemikir-pemikir dependensi yang berbasis pada tradisi berpikir aliran ECLA. Pinto mendasarkan pemikirannya kepada apa yang ia amati di Chile dimana tesis utamanya menyatakan adanya kontradiksi diantara pertumbuhan pesat bidang sosial dan politik dengan pertumbuhan ekonomi yang cenderung lambat (Larrain, 1991). Hal tersebut dipengaruhi oleh besarnya pengaruh dan kontrol perusahaan-perusahaan asing terhadap salah satu komoditas utama Chile yakni nitrat dan copper. Keadaan tersebut diperparah dengan struktur properti yang cenderung bersifat tradisional dan juga kemunduran sektor agrikultural di Chile. Hal-hal tersebut pada akhirnya menimbulkan sebuah krisis di Chile yang kemudian berusaha dijawab melalui strategi breaking up dengan kebijakan industri substitusi impor (Larrain, 1991).

Penerapan ISI melalui upaya modernisasi dan industrialisasi di Chile ternyata tidak membawa hasil yang memuaskan. Pinto berpendapat bahwa kegagalan tersebut dipengaruhi oleh struktur ekonomi domestik Chile yang memang memiliki berbagai kelemahan seperti tidak jelasnya peraturan mengenai investasi asing, tingginya angka inflasi, kemunduran sektor agrikultur, dan seterusnya (Larrain, 1991). Sejalan dengan pendapat Pinto, Sunkel menyatakan bahwa kegagalan proses industrialisasi di Chile disebabkan oleh permasalahan terhadap ekonomi domestik dimana adanya konsentrasi sumber daya di tangan para pihak minoritas sehingga konsentrasi terhadap distribusi sumber daya agrikultur tidak seimbang serta semakin miskinnya masyarakat Chile (Larrain, 1991). Terkait proses industrialisasi dan berkembangnya ISI di Amerika Latin, Furtado kemudian menyatakan bahwa pengembangan ISI pada akhirnya menciptakan sebuah heterogenitas struktural dimana struktur produksi Amerika Latin terbagi menjadi tiga kelas utama yakni primitif, modern, dan intermediate. Dalam hal ini, Furtado mengambil contoh Brazil dimana menurut data, sekitar 35 hingga 40% masyarakat Brazil bekerja di sektor primitif sedangkan hanya 13% dari populasi yang bekerja di sektor modern (Larrain, 1991). Hal tersebut membuat Brazil dan negara Amerika Latin lainnya menjadi termarjinalisasi oleh sektor-sektor modern yang dianggap akan membawa kesejahteraan sosial dan ekonomi. Pada akhirnya, keterbelakangan dan kemiskinan yang terjadi di berbagai negara Amerika Latin tidak dapat dilepaskan dari kuatnya pengaruh investasi asing terhadap industri-industri di negara-negara tersebut dimana negara-negara besar di balik investasi tersebut menjadi semakin leluasa mengeksploitasi negara-negara Amerika Latin serta semakin menenggelamkan mereka dalam predikat negara dunia ketiga.

Selain itu, pada dasarnya, setelah krisis tahun 1930an, ISI nyatanya menimbulkan problem baru. Pinto mengkategorikan penyebab permasalahan tersebut diantaranya adalah, kurangnya kejelasan dan konsistensi kebijakan serta investasi; inflasi yang tinggi; keterbelakangan agraria; ketergantungan terhadap ekspor yang terbatas; perluasan jasa yang justru merugikan sektor produksi barang konsumsi public; inefisiensi birokratik; pola yang justru mundur dalam persebaran pendapatan. Sunkel juga merasa kan adanya pesimisme terhadap proses industrialisasi di Chile yang bertujuan pada ekonomi dinamis dan ‘self sustained’. Hal tersebut dikarenakan sejak tahun 1954, ekonomi Chile mengalami stagnansi. Adapun faktor yang menyebabkan adalah minoritas yang menguasai konsentrasi pemasukan dan kesejahteraan. Dengan kata lain, adanya suatu oligarki ekonomi, dan bahkan di media pun juga terjadi.

Munculnya keterbelakangan ekonomi dan marjinalisasi yang ada, mendorong perkembangan teori untuk menjelaskan fenomena tersebut. Teori modernisasi muncul, berusaha untuk menjelaskan proses pembangunan sebagai transisi antara dua jenis model yang ideal, antara masyarakat tradisional dan masyarakat modern atau industri. Selama proses transisi, perubahan terjadi di berbagai sektor dan struktur masyarakat yang tidak sinkron, dan karena adanya campuran lembaga dan nilai-nilai tradisional dan modern yang diharapkan yang menjadi ciri masyarakat berkembang atau modernisasi. Transisi ini dilakukan pertama oleh negara-negara maju, dan negara-negara berkembang seharusnya mengikuti pola yang sama perubahan. Teori-teori modernisasi, berusaha untuk mengidentifikasi daerah-daerah dan variabel sosial yang harus mengalami beberapa perubahan tertentu dalam rangka memfasilitasi proses transisi dari pendatang baru. Konsekuensi dari imperialisme untuk ekonomi perifer (Larrain, 1991 : 61). Dalam banyak hal, Marx mengantisipasi tren utama dan fitur yang mencirikan dari tumbuhnya imperialisme. Konsentrasi dan sentralisasi modal, penciptaan monopoli, ekspor modal, proses kolonisasi dan konstitusi dari pasar dunia yang semua kecenderunganyang menjadikan ciri khas dari teori dari karl marx ini. Ekspansi modal keuangan, percepatan proses monopoli dan gelora dari annexationism imperialis membawa kontradiksi baru dan ketegangan, baik di tingkat nasional dan internasional. Ini adalah masalah baru dari teori imperialisme yang muncul dalam dua dekade pertama dari Abad ke dua puluh (Larrain, 1991 : 62).

Salah satu fitur yang paling penting dari teori klasik imperialisme adalah bahwa meskipun berbicara tentang ekspansi kapitalisme untuk pra-kapitalis daerah, annexationism dan pembagian dunia. Teori klasik ini mengkritik ras untuk menaklukkan wilayah asing dan bahaya korupsi dan perang, teori ini masih merasa bahwa proses ini tidak hanya bisa dihindari tetapi sebenarnya diperlukan untuk pengembangan daerah perifer. Paradoksnya, itu adalah proses dari perifer pembangunan, yang diterima begitu saja, bahwa teori imperialis melihat sebagai masalah utama bagi kapitalisme pusat, nilai-menjadi tidak mungkin atau investasi dan ekspansi untuk kepentingan pinggiran.  Seperti contohnya Imperialisme buruk untuk Eropa tapi akhirnya baik untuk orang-orang terjajah. Hobson misalnya, ia mengkritik ekspansi Inggris tidak begitu banyak karena itu buruk untuk negara-negara terjajah karena merupakan beban dan tidak untuk kepentingan Inggris. Dia berpendapat bahwa jika perlu bahwa Western industri peradaban mengembangkan negara-negara asing untuk ‘kebaikan umum’, maka Inggris telah melakukan bagiannya. Hobson berpendapat bahwa otonomi negara-negara terbelakang tidak dapat diganggu gugat. Alasannya adalah ekspansi kapitalisme (Larrain, 1991: 95). Meskipun tidak secara moral benar untuk memaksa masyarakat asing untuk mengembangkan sumber daya mereka sendiri, itu adalah sah bagi negara-negara maju untuk memanfaatkan sumber daya alam yang berkembang dan untuk memastikan kemajuan peradaban dunia. Tapi ini tidak harus dibiarkan di tangan swasta dan pencari keuntungan setiap tindakan ImperiaIism (Larrain, 1991: 96).

Selain itu, Jorge Larrain juga menjelaskan sebuah teori yang dinamakan dengan associated dependent development. Teori ini dikemukakan oleh Fernando Henrique Cardoso dalam karya tulisnya berjudul Associated-Dependent Development: Theoretical and Practical Implications pada tahun 1973. Teori dari Cardoso ini merupakan salah satu pemikiran yang berusaha untuk menjelaskan mengapa beberapa negara periphery yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi dengan negara-negara core berhasil meraih pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Padahal jika menggunakan teori-teori ketergantungan ekstrimis, negara periphery tidak mungkin mengalami pertumbuhan ataupun perkembangan ekonomi. Maka dari itu, teori associated dependent development disebut sebagai salah satu teori yang termasuk dalam gelombang New Dependency perspectives, sebuah konsep yang dikemukakan oleh Alvin So pada tahun 1990, yang berupaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori-teori ketergantungan ekstrimis.

Selain teori tersebut, terdapat teori associated dependent development. Sebagaimana teori dependensi pada umumnya, teori associated dependent development juga berpendapat bahwa negara-negara core memiliki pengaruh yang tinggi dalam aspek sosial-ekonomi di negara-negara periphery. Terdapat beberapa cara bagi negara core untuk memberikan pengaruh ke negara periphery. Pertama, terdapat relasi historis antara negara core dengan negara periphery, yang umumnya merupakan relasi di era kolonialisme. Negara-negara core dapat menanamkan nilai-nilai serta fondasi sosial-ekonomi di negara periphery yang merupakan wilayah bekas jajahannya, sehingga di era pasca kolonialisme sekalipun, negara core dapat memberikan pengaruh ke negara periphery dengan memanfaatkan landasan-landasan yang telah didirikan sebelumnya. Kedua, adanya upaya dari pemerintah negara periphery untuk memperoleh investasi di negaranya dengan memberikan insentif bagi para investor. Insentif yang ditawarkan dapat berupa upah pekerja yang murah, akses ke sumber daya alam, ataupun perizinan yang mudah. Selain itu, industrialisasi di negara pusat dan pinggiran tetap berbeda. Sifat – sifat industrialisasi di negara pinggiran adalah sebagai berikut : (1) Ketimpangan pendapatan yang makin besar (2) Menekankan pada produksi barang – barang konsumsi mewah dan bukan barang – barang yang dibutuhkan rakyat (3) Mengakibatkan utang yang semakin tinggi jumlahnya dan menghasilkan kemiskinan. (4) Kurang terserapnya tenaga kerja

Dari poin di atas, dapat dilihat bahwa pola pertama merupakan pola yang umumnya digunakan oleh teori-teori dependensi ekstrimis. Namun, teori kedua mencoba menjelaskan tidak hanya dari sudut pandang negara core namun juga dari sudut pandang negara periphery, yaitu adanya keinginan dari pemerintah negara periphery untuk menjalin kerja sama dengan investor yang umumnya berasal dari negara core. Hal ini menunjukkan bahwa pada konteks tertentu, keberadaan negara core di negara periphery memang dibutuhkan bagi negara periphery, sehingga membentuk adanya persamaan kepentingan bagi dua belah pihak.

Secara makro, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dapat tercapai dari banyaknya investasi di negara periphery yang disertai dengan penurunan jumlah konsumsi dan kesejahteraan masyarakat. Jumlah konsumsi yang berkurang periphery disebabkan oleh insentif yang diberikan oleh pemerintah negaranya, salah satunya terkait dengan upah pekerja. Di sisi lain, beberapa kelompok elit mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi dari masyarakat pada umumnya karena terlibat dalam kerja sama dengan investor. Hal ini berdampak pada rusaknya struktur kapital yang ada dalam masyarakat. Selain itu, negara juga mendapatkan pajak yang lebih banyak dibanding sebelum ada investor, sehingga pembangunan dapat dilakukan.

Maka dari itu, teori associated dependent development berpendapat bahwa pada suatu titik tertentu negara periphery akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil namun tidak seimbang. Selain itu, teori ini berpendapat bahwa perilaku ekonomi yang demikian akan membentuk pemerintahan di negara periphery menjadi semakin otoriter akibat adanya kerja sama antara pihak elit dengan investor negara core. Apabila interaksi seperti ini terus berlanjut, maka akan muncul kondisi di mana tatanan ekonomi dan sosial berada di bawah kepentingan kelompok elit terbatas. Maka dari itu, konsep development yang diusung dalam teori associated dependent development merupakan development yang kontradiktif, eksploitatif, dan hanya menghasilkan ketidakadilan semata.

Referensi:

Larrain, Jorge. 1991. “Dependency, Industrialization and Development”, dalam Theories of Development: Capitalism, Colonialism and Dependency. Cambridge: Polity Press.

Ditulis oleh:
Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com,
Syamas Akbar Satrio Kuncoro,
Dhea Mey Diaty,
Yohanes Putra Suhito,
M. Rizal Ilham Surur,
Bima Anditya Prakasa