Pekan lalu, aksi demonstrasi dan unjuk rasa terjadi di jalanan kota-kota di Libanon untuk memprotes isu ekonomi terburuk sepanjang sejarah Libanon sejak peristiwa perang sipil tahun 1975-1990. Dengan angka pengangguran mencapai 35% dan kemiskinan di 45%, masyarakat menuntut adanya pembaruan ekonomi yang dapat memberikan kesejahteraan bagi semua kalangan. Protes ini sejatinya merupakan perpanjangan dari ketegangan yang telah meningkat sejak Oktober 2019, namun harus terhenti karena situasi pandemik. Setelah kebijakan lockdown melonggar, protes kembali terjadi karena tidak terlihat adanya perubahan yang signifikan dari pemerintah terkait isu yang mereka angkat. Secara garis besar, masyarakat menuntut setidaknya tiga penolakan yakni penolakan terhadap pemerintah yang berperilaku seperti peternakan, pemerintah yang bertindak seperti badan politik swasta, dan pemerintah yang dimanfaatkan sebagai ladang penjarahan politik. Salah satu demonstran mengatakan bahwa mereka datang untuk menuntut hak masyarakat Libanon atas pendidikan, lapangan pekerjaan, dan hak asasi untuk hidup kepada pemerintah.

Selain alasan ekonomi, para demonstran anti-pemerintah tersebut juga menyorot perhatiannya pada peran kelompok Hezbollah di pemerintahan. Pertama, mereka menuntut anggota Hezbollah untuk keluar dari pemerintahan karena telah banyak melakukan tindakan korupsi atas status quo yang dimilikinya. Kemudian, mereka juga menuntut bahwa Hezbollah harus menyerahkan semua senjata kepada the Lebanese Armed Forces, tentara resmi Libanon. Hezbollah adalah satu-satunya kelompok independen yang diperbolehkan untuk menyimpan dan menggunakan senjata sejak perang sipil hingga kemudian menyebabkan perpecahan politik di masyarakat. Mayoritas dari senjata-senjata tersebut disuplai oleh pemerintah Iran dan telah melebihi jumlah yang dimiliki oleh tentara Libanon sendiri.

Secara historis, sejatinya masyarakat Libanon telah cukup toleran terhadap tentara-tentara Hezbollah di pemerintah dan hubungannya dengan Iran, karena Hezbollah telah berjasa dalam menjaga Libanon dan menyokong kekuatan militernya agar dapat mengimbangi Israel. Namun sikap tersebut nampaknya telah berubah. Serangkaian protes telah terjadi sejak Oktober lalu, dengan para demonstran menuntut adanya pemerintahan baru yang bebas dari korupsi dan perpecahan sektarian. Dalam aksi protesnya, mereka meneriakkan slogan-slogan anti-Hezbollah seperti “Here is Lebanon, not Iran” dan “No to Hezbollah, no to its weapons”.

Protes yang pada awalnya berlangsung damai kemudian mulai mengandung unsur kekerasan ketika para pembela Hezbollah dan kelompok pendukungnya Amal, tiba-tiba datang dari perumahan di dekat Martyr’s Square dan mulai menyerukan slogan-slogan pro-sektarian. Ratusan demonstran kemudian berlari ke arah mereka dan mulai melempar batu dan kayu hingga mengenai polisi dan tentara di sekitar wilayah tersebut. Selain peristiwa saling melempar batu, para demonstran juga menyalakan api di jalanan dan membakar salah satu sepeda motor milik aparat kepolisian. Ketika keadaan sudah tidak terkendali, pada akhirnya polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerusuhan yang terjadi.

Di hari berikutnya, Presiden Libanon Michel Aoun menghimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan bangsa dan tidak melanjutkan keributan yang terjadi. Ia menulis di akun Twitter-nya bahwa: “kekuatan kita sejatinya terletak pada persatuan nasional..Apa yang terjadi kemarin adalah sebuah peringatan. Kita harus menyingkirkan isu politik saat ini dan segera bekerjasama untuk menyelamatkan negara kita dari krisis.” Ia juga menegaskan bahwa saat ini pemerintah tengah berdiskusi dan bernegosiasi dengan International Monetary Fund (IMF) terkait pemberian bantuan dana untuk melepaskan Libanon dari lilitan hutang yang telah mencapai sekitar 170% dari GDP-nya. Perdana Menteri Hassan Diab juga menulis di Twitter-nya bahwa: “Perdana Menteri mengutuk dan mencela semua slogan sektarian…dan menyerukan semua warga Libanon beserta pemimpin politik dan keagamaan mereka untuk menumbuhkan kesadaran dan kebijakan agar dapat bekerjasama dengan tentara dan layanan keamanan.”

Menilik lebih dalam, aksi unjuk rasa yang terjadi di Lbanon tidak hanya berdampak pada permasalahan internal saja melainkan juga pihak-pihak lain. Masyarakat Libanon yang “bersatu” untuk menentang Hezbollah dalam pemerintahan dan menuntut penyelesaian krisis ekonomi juga dapat diartikan sebagai keuntungan bagi Amerika Serikat yang tengah bersitegang dengan Iran dan Hezbollah. Pemberontakan masyarakat Libanon terhadap Hezbollah dapat meningkatkan eksistensi Israel dan dapat mendukung kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sebaliknya, hal ini merupakan masalah besar bagi Iran sebagai pendukung terbesar Hezbollah dan tengah bersaing dengan Israel. Sedangkan bagi Libanon sendiri, aksi demonstrasi ini menunjukkan bahwa terdapat kesadaran nasional terhadap isu-isu domestik yang melampaui garis sektarian dan kemudian menuntut adanya pemerintahan yang fungsional dan representatif.

Referensi:

Hajjar, Carine. 2020. “Why the Protests in Lebanon Matter?” [online] tersedia dalam https://www.nationalreview.com/corner/why-the-protests-in-lebanon-matter/ [diakses 11 Juni 2020]

Azhari, Timour. 2020. “Tear Gas, Stone Throwing as Beirut Demonstration Turns Violent” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/06/tear-gas-stone-throwing-beirut-demonstration-turns-violent-200606182654841.html [diakses 11 Juni 2020]

Reuters. 2020. “Lebanon’s President Urges Unity After Night of Violence” [online] tersedia dalam https://www.reuters.com/article/us-lebanon-crisis-protests-aoun/lebanons-president-urges-unity-after-night-of-violence-idUSKBN23E0C2 [diakses 11 Juni 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R