Pada Sabtu malam lalu, sekitar 2000 warga Israel melaksanakan aksi demonstrasi di Rabin Square, Tel Aviv sebagai bagian dari kampanye “Bendera Hitam” terkait apa yang disebut sebagai erosi demokrasi Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Tetap mematuhi himbauan kementerian kesehatan, para demonstran menggunakan masker dan menjaga jarak setidaknya dua meter antar satu sama lain. Demonstrasi ini adalah yang kedua kalinya terjadi pada pekan ini, dilakukan untuk mengecam kesepakatan antara Perdana Menteri Netanyahu dan Ketua Parlemen Benny Gantz – disebut juga Kesepakatan Senin. Mereka menganggap bahwa kesepakatan tersebut dapat mengingkari hukum dasar konstitusional Israel dan memberikan kekuasaan pada Netanyahu yang tengah berada di tengah tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.

Pihak pemerintah mengatakan bahwa Kesepakatan Senin dilakukan untuk membentuk pemerintahan “darurat nasional” melalui koalisi antara Partai Likud pimpinan Netanyahu dan Partai Biru Putih pimpinan Gantz. Kesepakatan ini telah mengakhiri kebuntuan politik yang telah berlangsung selama beberapa waktu, pada akhirnya menghasilkan kesepakatan yang berhasil mendapatkan mayoritas mutlak setelah sejumlah kali gagal. Sebelumnya, kedua pihak telah mencoba beberapa kali untuk mengumpulkan dukungan untuk 120 kursi legislatur namun gagal.

Lebih lanjut, isi kesepakatan tidak segera diumumkan untuk publik, namun kedua pihak membuat pernyataan bersama. Media lokal menuliskan bahwa keduanya akan berbagi kekuasaan dalam masa pemerintahan tiga tahun mendatang. Netanyahu akan tetap menjabat sebagai perdana menteri selama satu setengah tahun hingga kemudian ia akan mengundurkan diri dan digantikan oleh Gantz. Hasil kesepakatan tersebut kemudian memicu amarah masyarakat karena dianggap telah menghancurkan nilai demokrasi di Israel. Mereka berupaya mendesak Partai Biru Putih untuk tidak berkoalisi dengan perdana menteri yang terlibat dalam tuduhan tiga kasus korupsi sejak bulan Januari. Pengadilan Netanyahu telah dimulai sejak 17 Maret namun harus tertunda akibat kondisi pandemik hingga 24 Mei mendatang. Oleh karenanya, kesepakatan ini dipandang sebagai manuver Netanyahu untuk mengamankan dirinya dari tuduhan-tuduhan tersebut.

Dalam aksinya, para demonstran mengenakan baju hitam dan mengibarkan bendera hitam sembari menyerukan “korupsi” dan “jaga demokrasi”. Beberapa orang juga mengibarkan bendera Israel dan tulisan orang-orang yang menentang pemerintah. Mereka memandang bahwa Kesepakatan Senin tidak mencerminkan persatuan yang demokratis karena tidak dapat memisahkan aksi kriminal dengan sistem keadilan. Gantz dipandang telah gagal dalam melindungi sistem keadilan dan memberikan terlalu banyak kontrol pada Netanyahu. Melalui kesepakatan tersebut, Netanyahu memiliki hak veto di atas pimpinan-pimpinan senior di pengadilan, setidaknya dalam enam bulan pertama koalisi baru dilaksanakan. Selain itu, parlemen juga akan kehilangan kewenangan untuk menurunkan perdana menteri, tidak lagi memegang budget negara, dan kehilangan kekuatan legislasinya karena hukum hanya dapat berjalan atas kesepakatan kedua pihak.

Carmi Gilon, mantan kepala dinas keamanan Shin Bet, mengatakan bahwa Netanyahu adalah perdana menteri yang tidak pernah bertanggung jawab atas keputusan dan aksi-aksinya. Ia menambahkan bahwa pengadilan tinggi adalah pembela terakhir demokrasi di Israel, sehingga kesepakatan ini telah benar-benar mengancam keadilan dan memberikan otoritas Knesset untuk pemerintah. Tidak hanya itu, seorang mantan pimpinan Mahkamah Agung Israel, Elyakim Rubinstein, juga mengatakan bahwa koalisi ini mengejutkan bagi para juri karena didalamnya terdapat kejahatan legal yang berbahaya. Sebelumnya ia telah memperingatkan Netanyahu pada masa pemerintahan Rabin untuk menghentikan pidato-pidatonya yang berisi hasutan dan mengarah pada hal-hal negatif, namun Netanyahu tidak menghiraukannya. Para kritikus juga menganggap bahwa pada masa itu, Netanyahu telah menggiring opini publik yang mengecap Rabin sebagai pengkhianat, pembunuh, dan nazi setelah ia menandatangani perjanjian damai dengan Palestina – retorik yang mengarah pada pembunuhan Rabin. Hal ini dibantah Netanyahu yang memandang bahwa dirinya hanya berupaya untuk mengungkap kebenaran.

Dengan demikian, Kesepakatan Senin telah memperoleh kecaman dari masyarakat karena alasan-alasan tersebut. Pihak Gantz sendiri juga dikatakan telah terlibat dalam permasalahan dengan membiarkan demokrasi hancur dan terinjak-injak oleh pihak koruptor. Meski aliansi Gantz telah membela diri dan mengatakan bahwa mereka akan berupaya memberantas korupsi dari dalam pemerintahan, namun hal ini tetap ditentang oleh masyarakat. Mereka masih menganggap bahwa koalisi baru tersebut tidak dibentuk berdasarkan keadaan darurat maupun persatuan nasional melainkan hanya perebutan kekuasaan saja. Hal ini didasarkan pada negosiasi yang tidak membahas hal-hal krusial seperti pandemik corona dan ekonomi, namun justru membahas pekerjaan mereka dan struktur pemerintahan. Maka dari itu, sejumlah demonstrasi telah dilaksanakan untuk menolak kesepakatan ini berjalan.

Referensi:

Liebermann, Oren. 2020. “Thousands off Israelis Protest Against Netanyahu, Two Meters Apart” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/04/20/middleeast/israel-protest-social-distancing-intl/index.html [diakses 26 April 2020]

MEE and Agencies. 2020. “Israelis Protest Against Netanyahu-Gantz Unity Government” [online] tersedia dalam https://www.middleeasteye.net/news/israelis-protest-against-netanyahu-gantz-unity-government [diakses 26 April 2020]

Wootliff, Raoul. 2020. “Destroying the Knesset’: Thousands Protest in Tel Aviv Against Coalition Deal” [online] tersedia dalam https://www.timesofisrael.com/thousands-protest-in-tel-aviv-against-coalition-deal-between-gantz-netanyahu/ [diakses 26 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti