Prestis merupakan suatu hal yang penting bagi setiap negara karena dengan prestis, negara dapat menjaga reputasinya serta pandangan negara lain di dunia internasional. Dengan sejarah, budaya, dan kehidupan sosial yang beragam, setiap negara juga memiliki caranya masing-masing untuk bisa mendapatkan prestis. Negara-negara Barat yang notabene merupakan negara-negara yang mengawali kemajuan teknologi dan militer, kemudian melakukan praktik-praktik ekspansi dan kolonialisasi ke negara-negara lain yang dianggap lebih lemah pada abad ke-19, masa yang disebut sebagai masa krisis paling serius yang pernah dialami Jepang (Kitahara, 1986). Untuk menghadapi hal ini, Jepang kemudian menggali ide-ide dan cara-cara yang dapat diterapkan untuk menyaingi bahkan melawan kekuatan negara-negara Barat yang dipandang sangat merugikan Jepang tersebut. Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi budaya dan kepercayaan yang dianutnya, termasuk empat motto utama terkait perilaku Jepang terhadap negara-negara Barat yang dijelaskan dalam tulisan Michio Kitahara yang berjudul “The Rise of Four Mottoes in Japan: Before and After the Meiji Restoration”.

Pada tahun 1860-an, Jepang merupakan negara yang lemah dalam hal teknologi dan militer jika dibandingkan dengan negara-negara Barat. Hal ini baru disadari sejak datangnya squadron Perry konflik tahun 1862 dan 1863. Maka dari itu, Jepang menerapkan motto pertama yakni fukoku kyohei yang artinya cerdaskan bangsa, perkuat militer (Kitahara, 1986). Pada masa ini timbul kesadaran dari masyarakat Jepang untuk menggunakan teknologi Barat yang lebih maju dan armada militernya yang lebih kuat, maka diharapkan hal ini dapat mengembangkan dan mengubah Jepang baik secara sosial maupun ekonomi. Selain itu, pembelajaran terkait teknologi dan kekuatan militer Barat juga dilakukan agar negara-negara asing tidak dapat menyerang dan menyepelekan Jepang (Kitahara, 1986). Namun di sisi lain, cara ini juga menuai banyak kritik dan pertentangan karena sebenarnya masyarakat Jepang sangat membenci negara Barat. Jepang memandang orang-orang Barat buruk rupa dan rendah seperti beast, bahkan menyebutnya dengan sebutan “dog-sheep. Keterbukaan Jepang terhadap dunia luar pasca Restorasi Meiji kemudian memunculkan praktek-praktek terorisme yang dilakukan oleh para ekstrimis terhadap orang asing di Jepang dan bahkan orang Jepang sendiri yang menggunakan pakaian ala Barat untuk mendapatkan prestis (Kitahara, 1986).

Lebih dalam, dari kebencian Jepang terhadap negara-negara Barat tersebut, muncul dua respon psikologis yakni rasionalisasi dan identifikasi menjadi agresor (Kitahara, 1986). Rasionalisasi di Jepang ditunjukkan dengan motto yang kedua yakni wakon yosai yang artinya adalah semangat Jepang, keahlian Barat. Dengan keterbatasan yang dimiliki, Jepang bersedia menerima dan memelajari ilmu dari Barat namun tetap menggunakan moral dan budaya Jepang sendiri. Dengan kata lain, Jepang hanya meminjam teknologi Barat tanpa kehilangan identitas aslinya sebagai orang Jepang. Prinsip ini dipandang sebagai solusi terbaik bagi permasalahan mereka karena orang-orang Timur dianggap lebih baik secara moral dan orang-orang Barat lebih maju secara teknologi (Kitahara, 1986). Kemudian terkait pandangan identifikasi menjadi agresor, Kitahara (1986) menjelaskan bahwa terdapat lima alasan yang menyebabkan Jepang menumbuhkan sifat ini. Pertama, Jepang seringkali memposisikan dirinya menjadi orang Barat dalam situasi tertentu meski secara tidak sadar. Kedua, orang-orang Jepang yang anti terhadap negara asing banyak yang bepergian ke negara-negara Barat dan ketika kembali, mereka menjadi tidak lagi membenci negara Barat karena telah melihat langsung kekuatan dan kehebatan orang-orang Barat. Ketiga, pada masa pasca Restorasi Meiji muncul motto ketiga yakni datsua nyuo yang artinya tinggalkan Asia dan bergabung dengan Eropa (Kitahara, 1986). Jepang mulai memandang Asia sebagai wilayah terbelakang yang tidak membantu Jepang menjadi negara maju sehingga negara-negara Barat mulai dipandang lebih menguntungkan.

Lebih lanjut, muncul motto keempat yakni bunmei kaika yang artinya menjadi beradab. Motto ini pertama kali muncul di media cetak pada tahun 1868 dan banyak berbicara mengenai pengakuan terhadap majunya peradaban Barat dan dianggap baik karena dapat menghapus perbedaan rasial (Kitahara, 1986). Prinsip ini mengatakan bahwa manusia sebagaimana hewan dan makhluk lain memang diciptakan secara berbeda-beda, maka tidak seharusnya suatu golongan merendahkan golongan yang lain. Kemudian, alasan keempat jepang melakukan identifikasi menjadi agresor adalah tindakan Jepang yang mulai menerima aspek non-teknologi dan non-material dari Barat untuk memperoleh prestis. Nilai-nilai Barat pertama yang masuk di Jepang adalah agama Kristen, prinsip kebebasan, dan hak-hak sipil (Kitahara, 1986). Dan selanjutnya, alasan kelima adalah Jepang akhirnya memandang dirinya sebagai bagian dari bangsa Barat. Salah satu penulis asal Jepang, Fukuzawa Yukichi, menulis artikel berjudul “Oppresion Can be Pleasant” dan memaparkan bahwa negara-negara Barat dapat menjadi negara-negara maju karena perdagangan terbuka yang dilakukan (Kitahara, 1986). Lebih lanjut, maka dengan meningkatkan perdagangan internasional, Kekaisaran Jepang dianggap dapat memiliki kekuatan besar dan dapat meningkatkan prestisnya.

Dapat disimpulkan bahwa dalam sejarahnya, usaha pendapatan prestis Jepang banyak dipengaruhi oleh kekuatan negara-negara Barat meski tidak secara langsung. Sejak kedatangan squadron Perry pada tahun 1853, Jepang menyadari kelemahan negaranya dalam hal teknologi dan militer jika dibandingkan dengan negara-negara Barat. Hal ini kemudian mendorong Jepang untuk menerapkan empat motto penting dalam kehidupan sehari-harinya. Pada awalnya, Jepang bersedia menggunakan dan memelajari teknologi dan militer Barat saja dengan motto fukoku kyohei atau cerdaskan bangsa, perkuat militer. Kemudian, rasa benci Jepang terhadap negara Barat menyebabkan munculnya motto wason yosai yakni semangat Jepang, keahlian Barat agar Jepang dapat tetap mempertahankan nilai-nilai moralnya. Namun Jepang juga memandang bahwa negara-negara Asia kurang menguntungkan sehingga diterapkan motto datsua nyuo yakni tinggalkan Asia dan bergabung dengan Eropa. Pada akhirnya, setelah mengalami kemajuan pasca Restorasi Meiji, Jepang memandang dirinya maju dan menerapkan motto bunmei kaika yakni menjadi beradab. Terkait hal ini, Jepang kemudian mulai menerapkan paham-paham Barat seperti Kristen, kebebasan, dan hak-hak sipil serta menganggap dirinya sendiri sebagai bagian dari negara Barat.

Referensi:

Kitahara, Michio. 1986. “The Rise of Four Mottoes in Japan: Before and After Meiji Restoration” dalam Journal of Asian History Vol.20 No.1. Harrassowitz Verlag.