Mahasiswa ilmu Hubungan Internasional pada umumnya mempelajari interaksi antar negara, salah satunya mengamati aksi diplomasi satu negara terhadap negara lainnya. Praktek diplomasi sendiri telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan mengenai sejarah awal dari diplomasi. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai asal usul diplomasi, sebaiknya kita mengetahui lebih dahulu mengenai definisi dari istilah tersebut. Menurut Peter Barber (dalam Black, 2010:12), secara sederhana diplomasi dapat diartikan sebagai sebuah tindakan pengelolaan hubungan internasional secara damai. Black (2010:14) sendiri menyebut diplomasi terdiri dari aspek pengumpulan informasi, representasi, dan negosiasi.

Praktek diplomasi pertama di dunia yang berhasil tercatat terjadi 3.400 tahun yang lalu antara Dinasti Mesir dan Kerajaan Hittite (Kurizaki, 2011:3). Praktek tersebut tercatat dalam sebuah pahatan tanah liat yang disebut dengan Amarna Letters dan berisi kurang lebih 350 huruf.  Semua ini berawal saat Dinasti Mesir ke-19 dan Kerajaan Hittite terlibat konflik bersenjata selama 50 tahun untuk memperebutkan wilayah Timur Dekat (Kurizaki, 2011:4). Konflik tersebut berakhir dengan damai dan tanpa pemenang. Sebagai bentuk dari perjanjian perdamaian, masing-masing pihak setuju untuk bertukar pengungsi dan diselenggarakannya pernikahan antara anak Pharaoh Ramesses II dan Raja Muwatalis. Perjanjian perdamaian tersebut dilakukan dengan cara mengirimkan tokoh politik sebagai diplomat kerajaan untuk melakukan negosiasi dengan pihak lain. Dalam Amarna Letters, sekitar 50 dari 350 huruf juga mencatat isu-isu diplomasi lain seperti isu perdagangan dan aliansi (Kurizaki, 2011:4).

Namun, praktek diplomasi di era Mesopotamia terbukti tidak semudah di era-era selanjutnya dari dibutuhkannya waktu selama 16 tahun untuk dicapainya kesepakatan perjanjian damai saat itu (Kurizaki, 2011:4-5). Komunikasi menjadi kendala yang cukup serius mengingat saat itu belum adanya media komunikasi yang efektif serta adanya perbedaan penggunaan bahasa bagi masing-masing pihak. Selain itu, belum adanya hak imunitas bagi para diplomat membuat praktek diplomasi menjadi beresiko. Diplomat bisa saja dibunuh atau ditahan sebelum sempat menyampaikan pesannya (Kurizaki, 2011:5). Adanya hak imunitas bagi diplomat baru mulai diterapkan pada era Babilonia sekitar abad ke-17 sebelum Masehi (Kurbalija, 2013). Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai bagaimana sistem diplomasi yang tercatat di Amarna Letters tersebut berhasil mengingat banyaknya kendala-kendala yang ada. Meski demikian, Amarna Letters menjadi bukti sejarah yang mampu menjelaskan dengan baik keberadaan praktek diplomasi di era Mesopotamia (Jonnson & Hall, 2005:10).

Menurut Black (2010:19), terdapat beberapa karakteristik yang dapat dilihat dari praktek diplomasi era Mesopotamia tersebut. Kedua belah pihak menyadari bahwa masing-masing memiliki perbedaan budaya dan bahasa. Maka dari itu, umumnya terdapat lingua franca yang dapat digunakan untuk menjembatani perbedaan bahasa tersebut. Praktek diplomasi umumnya juga diiringi dengan pemberian hadiah dan penyatuan tali persaudaraan. Salah satu pihak mempersembahkan saudara atau anaknya untuk dinikahkan dengan pihak lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengaburkan perbedaan budaya sehingga diplomasi dapat berjalan dengan relatif lebih lancer.

Menurut Kurbalija (2013), terdapat enam aktor utama yang terlibat dalam diplomasi di era Mesopotamia. Mereka adalah Mesir, Mitanni (Hittite), Kassite, Babilonia, Assyria, dan Elam. Keenam negara tersebut dikategorikan sebagai negara-negara dengan kekuasaan terbesar dalam peradaban Mesopotamia, meskipun nanti negara-negara kecil juga mulai bermunculan. Untuk menjaga kestabilan hubungan diplomasi, negara-negara tersebut akan berkomunikasi secara rutin dan mengadakan konvensi bersama-sama.

Dari penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa praktek diplomasi pertama yang berhasil dicatat terjadi pada era Mesopotamia antara Dinasti Mesir ke-19 dan Kerajaan Hittite. Hal tersebut terbukti dari penyebutan isu-isu diplomasi di Amarna Letters. Praktek diplomasi saat itu relatif tidak mudah karena keterbatasan sarana komunikasi dan perbedaan budaya. Terdapat enam actor utama yang terlibat, yaitu Mesir, Mittani, Kassite, Babilonia, Assyria, dan Elam.

Referensi:

Black, Jeremy. (2010). A History of Diplomacy. Reaktion Books Ltd.

Jonnson, Christer, & Hall, Martin. (2005). Essence of Diplomacy. Palgrave.

Kurbalija, Jovan. (2013). FROM CLAY TO DIGITAL TABLETS: What we can learn from Ancient diplomacy. [online] Diplomacy.edu. Available at: http://www.diplomacy.edu/2013/evolution/february/background [Diakses pada 5 Sep. 2015].

Kurizaki, Shuhei. (2011). A Natural History of Diplomacy. Di When Diplomacy Works (hal. 3-5).

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.