Latar Belakang

Selama ini, Tajikistan dikenal sebagai negara transit utama obat-obatan terlarang dari Asia, terutama Afghanistan, untuk kemudian dikirim ke Rusia. Menurut data yang dirangkum oleh Paoli (et al, 2007), industri drug trafficking di Tajikistan setidaknya bernilai sekitar 30% dari gross domestic product Tajikistan itu sendiri sehingga sulit untuk disebut sebagai permasalahan kecil di negara tersebut. Afghanistan sendiri dikenal sebagai salah satu produsen obat-obatan terlarang terbesar di dunia, dengan 87% total opium di dunia diproduksi di negara tersebut (United Nations Office on Drugs and Crime, 2005). Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Afghanistan dan juga berperan sebagai gerbang bagi kawasan Asia Tengah yang kemudian menuju Rusia dan kawasan Eropa Timur, Tajikistan memiliki peran penting dalam persebaran obat-obatan terlarang secara global.

Ketergantungan Drug Trafficking

Terdapat beberapa permasalahan dalam pemberantasan aktivitas drug trafficking di Tajikistan. Penulis berpendapat bahwa ketergantungan yang tinggi akan industri ini merupakan penyebab utama dalam ketergantungan serta berkembangnya industri obat-obatan ilegal di Tajikistan. Sebelumnya, beberapa upaya telah dilakukan untuk menanggulangi berkembangnya drug trafficking di Tajikistan namun seringkali berujung pada kegagalan (The Economist, 2012). Hal ini dapat dilihat dari tingginya nilai industri obat-obatan terlarang Tajikistan sehingga industri ini dianggap sebagai opsi perekonomian yang lebih mudah dan menguntungkan bagi Tajikistan. Lebih lanjut, kondisi tersebut menyebabkan pemerintahan setempat juga menjadi beketergantungan terhadap industri ini. Paoli (et al, 2007) menyebutkan bahwa Tajikistan merupakan negara yang dapat dikategorikan sebagai sebuah narco-state, yaitu negara yang kebijakan-kebijakannya sedikit banyak membantu perkembangan industri obat-obatan terlarang.

Pengembangan Sektor Perekonomian non-Narkotik

Mengingat tingginya tingkat ketergantungan Tajikistan terhadap industri obat-obatan terlarang, maka penulis menyarankan untuk adanya transisi industri tersebut menjadi sektor perekonomian lain secara gradual yang disertai penguatan di dalamnya. Pertama, Tajikistan sendiri dikenal sebagai eksportir katun dan juga aluminium sehingga penguatan kedua industri ini dapat menarik perhatian masyarakat setempat untuk meninggalkan pekerjaan terkait obat-obatan terlarang. Kedua, Tajikistan memiliki sumber daya mineral yang cukup banyak berupa perak, emas, antimony, dan puluhan jenis mineral lain dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri tambang Tajikistan (Levine & Wallace, 2007). Industri pertambangan sendiri dirasa cukup efektif untuk menarik sumber daya manusia serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga baik masyarakat maupun pemerintah dapat mengalihkan fokusnya pada industri ini dibanding industri obat-obatan terlarang. Ketiga, pembenahan serta penguatan sektor perbankan yang dirasa cukup buruk di Tajikistan perlu dilakukan. Sebagai industri penting dalam sistem keuangan, bank-bank Tajikistan mengalami permasalahan serius seperti pemecatan masal, kebangkrutan, keterlambatan pembayaran, dan lain sebagainya (Putz, 2016). Tanpa adanya sektor finansial yang jelas, maka industri gelap seperti obat-obatan terlarang memiliki daya tarik yang lebih sementara perekonomian legal justru dirasa meresahkan bagi masyarakat sekitar.

Referensi:

Levine, Richard, & Wallace, Glenn, (2007). 2007 Mineral Yearbook, Tajikistan. USGS.

Paoli, Letizia et al, (2007). Tajikistan: The Rise of a Narco-State. Journal of Drug Issues, Vol. 37, Issue 4.

Putz, Catherine. (2016). Assessing Tajikistan’s Growth Potential. [online] The Diplomat. Available at: http://thediplomat.com/2016/09/assessing-tajikistans-growth-potential/ [Accessed 6 Jul. 2017].

The Economist, (2012). Addicted. [online] Available at: http://www.economist.com/node/21553092 [Accessed 6 Jul. 2017].

United Nations Office on Drugs and Crime, (2005). Afghanistan Opium Survey 2005. New York: United Nations.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.