Pada hakekatnya, sains terdiri atas jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Sains memiliki berbagai tujuan seperti alat untuk mencari kebenaran, pengaruh, dan prestis. Namun, salah satu tujuan utama sains adalah sebagai alat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada atau disebut juga dengan aktivitas yang berbasis pada permasalahan. Permasalahan-permasalahan tersebut berperan sebagai penggerak dari sains itu sendiri dan akan mengarahkan penelitian dan pembahasan yang akan dilakukan. Meski tidak semua permasalahan dapat langsung diselesaikan dan ditemukan jawabannya, namun usaha penemuan jawaban tersebut membentuk dan berperan dalam dinamika perkembangan sains dari masa ke masa. Untuk memahami peran permasalahan dalam sains lebih lanjut, tulisan ini akan terlebih dahulu menjelaskan definisi dan ruang lingkup dari permasalahan saintifik.

Pada dasarnya Laudan (1997) menjelaskan bahwa permasalahan saintifik secara fundamental tidak memiliki perbedaan dengan permasalahan lain secara umum. Permasalahan menjadi penting dalam sains karena permasalahan akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan dalam penelitian hingga secara kognitif, akan dijawab dan dijelaskan oleh teori-teori. Dalam hal ini, teori berfungsi untuk menghilangkan ambiguitas, dapat menunjukkan bahwa sesuatu dapat diprediksi, dan sebagai solusi permasalahan itu sendiri.

Secara umum, permasalahan saintifik dapat dibagi menjadi dua kategori yakni permasalahan empiris dan konseptual. Masalah empiris merupakan masalah yang dapat dirasakan oleh panca indera dan terdiri atas fakta-fakta. Secara spesifik, fakta yang termasuk kedalam masalah empiris adalah fakta-fakta yang telah direkognisi dan dianggap perlu dijelaskan. Laudan (1997) memaparkan lebih lanjut bahwa masalah empiris merupakan segala keanehan yang terjadi di dunia dan membutuhkan penjelasan saintifik. Maka dari itu, masalah empiris dapat dikatakan sebagai masalah-masalah tahap pertama karena mengandung pertanyaan-pertanyaan substantif mengenai objek-objek yang membangun dasar dari sains itu sendiri. Adapun masalah konseptual adalah hasil penjelasan dari fenomena-fenomena empiris baik yang dapat dijelaskan maupun yang tidak dapat dijelaskan (Laudan, 1977).  Masalah-masalah konseptual tidak harus didasarkan pada fakta namun cukup dengan membayangkan situasi ideal dari sebuah permasalahan sehingga faktor faktualitas tidak terlalu dipentingkan.

Permasalahan empiris dapat dibagi menjadi tiga kategori utama yakni solved problems, unsolved problems, dan anomalous problems (Laudan, 1997). Solved problems merupakan masalah-masalah yang telah terselesaikan dan dapat dijelaskan oleh teori tertentu. Seringkali masalah dalam kategori ini tidak lagi disebut sebagai masalah dan tidak membutuhkan penjelasan atau penelitian lebih lanjut. Unsolved problems adalah masalah-masalah yang belum dapat dijelaskan secara saintifik. Seringkali masalah dalam kategori ini belum dapat diidentifikasi secara pasti sebagai sebuah masalah karena hanya memiliki potensi untuk menjadi masalah dan belum tentu dapat diselesaikan oleh teori mana pun. Hal ini dikarenakan oleh adanya kesulitan untuk mengidentifikasi efek dari masalah itu sendiri dan belum jelas ruang lingkup pembahasannya. Sedangkan anomalous problems merupakan masalah-masalah yang dapat diselesaikan dengan suatu teori tertentu tapi justru berkontradiksi dengan teori lainnya sehingga menimbulkan kondisi yang anomali. Dengan demikian, sains pada dasarnya fokus untuk mengubah unsolved dan anomaly problems menjadi solved.

Menilik lebih dalam, Roselle dan Spray (2008) menjelaskan bahwa masalah-masalah baik empiris maupun konseptual tersebut dapat dikembangkan melalui beberapa tahap. Pengembangan masalah dapat dimulai dengan mengembangkan topik yang akan dibahas. Hal ini dapat dilakukan dengan mempersempit jangkauan penelitian kedalam subtopik-subtopik agar mendapat hasil yang lebih mendalam dan diulas secara rinci. Selanjutnya adalah merumuskan permasalahan yang didasarkan pada subtopik tersebut. Fase ini membutuhkan rasa penasaran dan kreativitas setiap individu agar dapat menemukan pertanyaan yang menarik dan penting untuk dibahas lebih lanjut (Roselle dan Spray, 2008). Setelah menemukan pertanyaan yang akan menjadi dasar pembahasan penelitian, penting untuk menentukan variabel-variabel dependen dan independen yang akan berperan dalam perumusan hipotesis. Penting bagi peneliti untuk kemudian mencari informasi mengenai variabel-variabel tersebut untuk memudahkan penulisan penelitian. Hal ini juga menjadi bagian dari penelitian itu sendiri dan hipotesis dapat dibuktikan dengan adanya data-data yang jelas.

Masalah yang konseptual kemudian memiliki kompleksitas tersendiri karena tidak adanya acuan dan bukti empiris terhadap eksistensi dari permasalahan tersebut. Maka dari itu, masalah konseptual banyak terdiri atas teori-teori yang menyusunnya. Selain untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan yang ada, teori juga dapat digunakan untuk merumuskan permasalahan-permasalahan baru secara konseptual, utamanya ketika terjadi kontradiksi antar satu teori dengan teori lainnya (Laudan, 1977). Dengan kata lain, masalah konseptual tetap memiliki akar atau acuan tertentu yakni masalah-masalah yang terdahulu atau masalah-masalah baru yang dibayangkan atau diprediksi. Baik dari masalah empiris maupun konseptual, teori melahirkan prediksi-prediksi mengenai apa yang mungkin terjadi di masa depan atau apa yang menyebabkan suatu masalah terjadi di masa lampau.

Dapat disimpulkan bahwa penyelesaian dari permasalahan saintifik merupakan salah satu fungsi utama dari sains. Sains dikonstitusi oleh masalah-masalah yang dapat dikategorikan menjadi dua yakni masalah empiris dan masalah konseptual. Masalah empiris dapat diidentifikasi oleh panca indera dan pada umumnya terdiri atas fakta-fakta sedangkan masalah konseptual didasarkan pada hasil penjelasan dari fenomena-fenomena empiris baik yang dapat dijelaskan maupun yang tidak dapat dijelaskan. Permasalahan yang ada dapat dikembangkan melalui beberapa tahap yang akan menghasilkan hipotesis dan hasil penelitian yang lebih rinci dan fokus. Penulis beropini bahwa pada dasarnya permasalahan yang ada bersifat empiris dan diawali dengan adanya masalah yang nyata, namun perkembangan penelitian melahirkan konsep-konsep yang dibayangkan dan dapat menjadi permasalahan baru.

Referensi:

Larry, Laudan. 1977. “Conceptual Problem” dalam Larry Laudan. Toward a Theory of Scientific Growth. London: University of California Press, pp 45-29.

Laudan, Larry. 1997. “The Role of Empirical Problems” dalam Larry Laudan. Toward a Theory of Scientific Growth. London: University of California Press, pp 11-44.

Roselle, Laura dan S. Spray. 2008. Topic Selection and Question Development, dalam Research and Writing in International Relations. New York: Pearson Longman