Regionalisme awalnya ialah bentuk kerjasama antar negara yang memiliki kedekatan letak geografis. Selain letak geografis, regionalisme dapat terbentuk karena adanya persamaan budaya. Regionalisme dibagi menjadi dua, yaitu Old Regionalism dan New Regionalism.  Pada masa old regionalism, HI kawasan lebih dipelajari dengan cara penghitungan  pemeriksaan data mayoritas negara secara rasional, terutama pada aspek ekonomi. Hubungan antarnegara belum begitu kompleks sehingga dimensi yang difokuskan juga tidak begitu banyak. Fokus memahami metode old regionalism condong kepada hal rasionalis dibandingkan dengan fokus landasan konstruktivis. New regionalism menjadi tren setelah Perang Dingin dengan banyak didukung oleh aktor-aktor non-state. Ini disebabkan karena konstruksi proses transformasi global sebagai dampak dari proses globalisasi (Hettne & Soderbaum, 2008). Sifat new regionalism ini lebih terbuka. Maka cakupannya tidak hanya memikirkan cara menghindari perang dan dinamika perekonomian, tetapi new regionalism mencakup banyak aspek yang lebih luas seperti lingkungan, sosial, dan lain-lain (Hettne & Soderbaum, 2008). Selain itu, sifatnya yang terbuka cocok dengan perkembangan dunia yang interdependensi. Berakhirnya Perang Dingin mempengaruhi kondisi internasional yang damai dengan mengakhiri perang tersebut maka akan membuka lapangan kerjasama internasional yang luas dan menekankan kepada kerjasama regional (Fawcett, 2005).

Sedangkan perkembangan studi kawasan semakin kompleks dari waktu ke waktu. Perkembangan studi kawasan tentu tidak dapat dipisahkan dari regionalisme. Regionalisme menurut para ahli mencakup persoalan geografi, politik, ekonomi, strategi, dan budaya secara spesifik dalam suatu kawasan, serta regionalisme juga mencakup persoalan lingkungan lalu kemudian pada akhirnya semua persoalan akan dirumuskan dalam bentuk norma-norma, tren, nilai-nilai dan praktik dalam skala regional dan berbeda dari pengaturan secara global (Fawcett, 2005: 21). Pada awalnya regionalisme hadir sebagai bentuk respons dari globalisasi dan reaksi yang timbul dari munculnya persoalan dengan aspek yang beagam akan adanya proses global didalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, globalisasi seperti yang diketahui membawa dampak tidak hanya dampak positif melainkan dampak negatif terhadap negara dan regionalisme disini hadir untuk mencoba merespons globalisasi secara defensif maupun ofensif (Farrell, 2005: 2).

Studi kawasan memiliki sebuah perdebatan oleh berbagai ahli mengenai dampak regionalisme. Regionalisme memiiki dampak postif dan dampak negatif.  Regionalisme dianggap membawa dampak positif karena adanya regionalisme, aktor-aktor negara maupun non-negara memiliki kesempatan untuk mempromosikan diri dalam kancah internasional (Farrell, 2005: 2). Adanya regionalisme sangat didukung oleh berbagai pihak, contohnya The United Nations Security Council yang pada tahun 2004, UNSC memperbaharui diskusi tentang memperkuat organisasi regional. Regionalism dianggap dapat menjadi saran negara negara kecil untuk menjaga norma-normanya serta mengimbangi kekuatan besar negara-negara adidaya dan institusi global (Fawcett, 2005: 21).

Selain dampak positif, regionalisme dianggap memiliki dampak negatif. Kawasan dapat dianggap sebagai ‘enclaves of reaction’ (Falk, 2002 dalam Fawcett, 2005: 21). Atau sebagai sumber dari kekacauan, terorisme dan lain-lain. Fawcett (2005: 21-22), berpendapat bahwa tidak semua aktor memiliki keinginan untuk bekerjasama mempromosikan kebijakan-kebijakan dari suatu regionalisme, sehingga memunculkan berbagai permasalahan dalam suatu kawasan. Contohnya seperti terorisme, terorisme tidak hanya dialamatkan untuk skala global maupun negara, terdapat juga banyak kelompok-kelompok teroris yang berada dalam skala global. Namun Fawcett juga berpendapat dalam suatu kawasan akan selalu ada masalah dan permasalahan itu akan ditemukan solusinya dan membuat regionalisme semakin kuat.

Regionalisme mengalami perkembangan dari masa kemasa. Kemunculan regionalisme ditandai oleh kebutuhan satu regional yang terdiri dari beberapa negara yang membutuhkan satu sama lain. Keberadaan regionalisme sudah dibicarakan sejak 1960an. Pada tahun 1980an, regionalisme menemukan momentum kebangkitan (Fawcett, 2005). Regionalisme diawali oleh masyarakat Eropa yang membetuk persatuan dagang besi dan metal yang dinamakan Uni-Eropa yang kemudian merambat ke ranah politik dan sampai mencetak uang tersendiri yaitu Euro. Menurut Alex (2008:56), Negara berpartisipasi dalam regionalisasi karena adanya kepentingan bersama dalam mengelola konsekuensi ekonomi atau keamanan wilyahnya tertentu. EU hanya permulaan dari regionalisasi yang terjadi. Keberhasilan EU menjadi pendorong untuk negara lain membuat kawasannya tersendiri, seperti ASEAN yang awalnya muncul karenak masalah keamanan negara-negara di Asia Tenggara. Berdasarkan banyak munculnya integrasi regional baru yang mengikuti perkembangan zaman, studi tentang regionalisme juga ikut berkembang. Regionalisme negara-negara saat ini membahas isu yang sangat luas, mulai dari keamanan bersama, ekonomi, hingga isu seperti Rohingya yang dibahas dalam ASEAN.

Memahami definisi region, regionalism, dan regionalization, diperlukan pengertian mengenai region dan regionalism yang tidak hanya berdasar geografis dan negara. karena region tidak hanya terkait teritori tapi juga kesamaaan interaksi, dan adanya kemungkinan kerjasama serta menjadikan region sebagai unit “zona” yang anggotanya saling berbagi karakteristik yang mampu di indetifikasi. seperti organisasi dalam kerjasama ekonomi dan pembangunan atau negara islam, atau bahkan G-22 (Fawcett, 2005:24). Sifat dari region adalah semi permanen secara formal maupun kelembagaan. Namun seringkali konsepsi tentang region dalam masyarakat sedikit berbelok menjadi konsep regionalism, yang dilihat sebagai kebijakan dan proyek yang melibatkan kerjasama aktor negara dan non-negara dan mengkoordinasikan suatu strategi untuk suatu wilayah (Fawcett, 2005 : 24).

Menurut Ba (2009:7), regionalism adalah respon atas permasalahan dalam satu region yang sama dalam bentuk persatuan region. Sebagai contoh, untuk mengatasi permasalahan keamanan di wilayah Asia Tenggara maka negara-negara di wilayah tersebut memilih untuk meresponnya dengan cara membentuk sebuah institusi yang saat ini kita kenal dengan ASEAN. Sementara itu, Camilleri (2003:12) mendefinisikan regionalism sebagai tendensi konstituen untuk menjaga atau memperluas manfaat dari interaksi regionalnya dengan cara membentuk institusi dan mekanisme yang menetapkan, mengawasi, dan memaksa adanya standar dalam berinteraksi. Menurut Mansfield dan Milner (1999:589), regionalism sangat didasari oleh kepentingan ekonomi meskipun tidak dipungkiri aspek politik juga mempunyai andil di dalamnya. Adanya keterkaitan ekonomi yang kuat dalam satu wilayah akan menyebabkan munculnya regionalism, sementara aspek politiklah yang membentuk formasi institusi regional dan kebijakan-kebijakan di dalamnya.

Jika region dapat dipahami sebagai kumpulan negara dan regionalisme dapat dipahami sebagai kebijakan yang melibatkan kumpulan negara dan aktor-aktor lain dalam region, maka regionalisasi merupakan proses dari aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam region. Seperti dikemukakan oleh Fawcett (2005, 25), bahwa regionalisasi merupakan hasil dari kekuatan yang spontan maupun otonom. Formasi region dipengaruhi oleh interaksi baik dari perdagangan sampai konflik. Regionalisasi dapat mengakibatkan regionalisme, begitupun sebaliknya. Dapat diambil salah satu contoh yakni ASEAN sebagai region yang merupakan kumpulan negara-negara dalam kawasan geografis Asia Tenggara. ASEAN memiliki good neighborhood serta pengakuan atas kedaulatan dan independensi masing-masing negara anggota, sebagai salah satu landasan utama yang didasari dari budaya ketimuran.

Referensi:

Camilleri, Joseph. (2003). Regionalism in the New Asia-Pacific Order.Edward Elgar Pub.

Mansfield, Edward D. and Helen V. Milner. 1999. “The New Wave of Regionalism”. International Organization 53(3): 589-627.Fawcett, Louise. 2005. “Regionalism from an Historical Perspective” in Global Politics of Regionalism : Theory and Pratices, by Mary Farrell, Bjorn Hettne, Luk Van Langenhove.  London : Pluto Press.

Warleigh-Lack, Alex. 2008. “Studying Regionalisation Comparatively: a Conceptual Framework” in Regionalisation and Global Governance: the Taming of Globalisation?, by Andrew F. Cooper, Christopher W. Hughes and Philippe De Lombaerde (eds). London: Routledge.

Hettne, Bjorn and Fredrik Soderbaum. 2008. “The Future of Regionalism: Old Divides, New Frontiers” in Regionalisation and Global Governance: the Taming of Globalisation?, by Andrew F. Cooper, Christopher W. Hughes and Philippe De Lombaerde (eds). London: Routledge.

Farrell, Marry. 2005. “The Global Politics of Regionalism: An Introduction” in Global Politics of Regionalism: Theory and Practice, by Mary Farrell, Bjorn Hettne, Luk Van Langenhove (eds). London: Pluto Press.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.