Sejak Desember 2019 lalu, sekitar 900.000 masyarakat sipil Suriah – jumlah terbesar sejak awal terjadinya perang sipil di Suriah sembilan tahun lalu – yang mayoritas terdiri dari anak-anak dan wanita telah dengan terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya di Idlib karena situasi yang tidak aman. Sekitar 170.000 masyarakat tersebut kini tengah belum mendapatkan tempat pengungsian yang layak dan tengah mendirikan tenda-tenda di lapangan terbuka. Terlebih, saat ini Suriah sedang dilanda cuaca dingin dengan suhu seringkali berada di bawah nol derajat Celcius dan salju menutupi sejumlah wilayah. Para keluarga pengungsi tidur di jalanan dan membakar sampah untuk menjaga kehangatan. Beberapa anak-anak telah meninggal akibat suhu dingin, beberapa lainnya telah meninggal karena serangan perang yang dilakukan oleh tentara pemerintah Suriah di Idlib.

Dalam rentang waktu tujuh bulan, enam sekolah dan empat fasilitas kesehatan yang dioperasikan oleh organisasi kemanusiaan Syria Relief telah hancur akibat serangan udara di Idlib. Pada tanggal 1 Januari lalu, sebuah sekolah di Sarmin diserang menggunakan cluster bomb hingga menyebabkan 12 orang meninggal, lima di antaranya adalah anak-anak. Tidak hanya itu, sekitar 70 rumah sakit di Suriah juga telah hancur akibat serangan-serangan perang, sedangkan sisanya berada di lokasi yang dirahasiakan agar tidak ditarget. Masyarakat Suriah menganggap tindakan-tindakan tersebut merupakan serangan yang dengan sengaja menarget masyarakat sipil dan fasilitas-fasilitas publik, sehingga dipandang sebagai sebuah pelanggaran hukum kemanusiaan internasional dan hukum hak asasi manusia internasional. Meski demikian, mereka merasa suara mereka tidak didengar oleh komunitas internasional dan menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB telah gagal dalam menjaga keamanan di Suriah.

Setelah pengungsi dari Aleppo, Homs, Dara, dan sejumlah kota lain berpindah, kini tentara pemerintah Suriah telah sampai di Idlib – kota pertahanan pihak oposisi dan jihadis yang terakhir. Kini, tentara Suriah berupaya untuk melebarkan daerah kekuasaan sejauh 10 kilometer per harinya. Berdasarkan the 2018 Sochi Accord antara Rusia dan Turki, tentara Turki berhak untuk mendirikan pos-pos observasi dalam zona penyangga demiliterisasi di pinggiran wilayah Idlib. Bagaimana pun juga, hal tersebut tetap tidak berhasil menghentikan pasukan Suriah untuk mengambil alih wilayah tersebut dengan bantuan dari serangan udara Rusia dan pasukan dari Iran. Kini dapat dilihat bahwa balance of power antara kedua pihak mulai mengalami pergeseran ke arah tentara Suriah karena mendapat suplai senjata dan amunisi yang kuat, sedangkan pihak oposisi cenderung melemah dalam hal kapabilitas dan persenjataannya.

Pada bulan Januari, Turki mengirimkan sejumlah pasukan tambahan untuk menghadapi pasukan Suriah yang akan masuk ke Idlib, namun berakhir dengan meninggalnya 12 tentara Turki beberapa minggu setelahnya dalam serangan artileri tentara Suriah. Menghadapi hal tersebut, Presiden Turki, Erdogan, memerintahkan pasukannya untuk mundur sementara dan kembali ke garis pos-pos observasi Turki. Ia mengancam bahwa jika terdapat tentara Turki lain yang meninggal, maka Turki tidak akan segan-segan untuk menemukan dan menghabisi tentara Suriah. Selain itu, ia juga secara eksplisit meminta bantuan pada Amerika Serikat untuk mengirimkan misil patriot, serta mengancam lebih lanjut akan mengaktivasi sistem pertahanan S-400 yang telah dibeli dari Rusia.

Sementara itu, pihak oposisi yang mulai khawatir terkait menguatnya tentara Suriah, telah melakukan sejumlah tuntutan dan protes pada pemerintah Turki serta menuntut adanya observasi terkait zona deeskalasi yang tidak efektif. Hal ini dibuktikan dengan masuknya tentara Suriah ke kota Saraqeb yang berada di perbatasan jalan raya M4 dan M5 pada tanggal 7 Februari meski telah terdapat empat titik perkumpulan tentara Turki di pinggiran kota tersebut. Pihak oposisi yang telah menaruh harapan besar pada Turki untuk dapat menghentikan tentara Suriah merasa dikecewakan karena kota-kota yang tersisa kini mulai diduduki oleh pemerintah satu per satu.

Selama bulan Februari, pihak Turki dan Rusia telah bertemu beberapa kali untuk membahas situasi yang terjadi di Suriah, khususnya Idlib. Pada tanggal 10, kedua pihak bertemu di Ankara untuk mendiskusikan hal tersebut. Pada akhirnya, keduanya masih belum dapat menemui kesepakatan karena pihak Rusia menginginkan adanya penggambaran ulang zona penyangga demiliterisasi dan mendorong Turki untuk keluar dari wilayah Idlib, sedangkan hal ini tentu ditolak oleh Turki. Selain itu, keduanya juga sempat membicarakan tentang kemungkinan untuk melakukan patrol bersama, namun hal ini juga tidak berhasil disepakati.

Kini para pengungsi tengah tersebar di wilayah Idlib dan Aleppo, dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan karena cuaca dingin. Sejumlah pengungsi juga telah sampai di garis perbatasan Turki untuk mencari tempat tinggal yang lebih layak. Dalam hal ini, PBB telah meminta Turki untuk membuka jalan bagi para pengungsi tersebut, mengingat adanya situasi darurat akibat cuaca ekstrim. Namun Turki yang merupakan negara penerima pengungsi Suriah terbesar di dunia yakni sekitar 3,6 juta pengungsi, hingga saat ini masih menolak mengambil pengungsi lebih banyak lagi.

Salah satu anggota relawan White Helmet di Suriah mengatakan bahwa “tidak ada yang mendengarkan [masyarakat Suriah], tidak ada yang percaya. Jika mereka percaya, mereka akan melakukan sesuatu. Mereka harus bertindak. Mereka harus setidaknya, melindungi rumah sakit dan pusat-pusat operasi White Helmet. Kami hanya melakukan tugas kami untuk melindungi masyarakat.”

Referensi:

Aljazeera, 2020. “Fighting Rages in Northwest Syria, Two Turkish Troops Killed” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/02/fighting-rages-northwest-syria-turkish-troops-killed-200220131908647.html [diakses 21 Februari 2020]

BBC, 2020. “Syria War: Turkish Operation in Idlib ‘Only a Matter of Time'” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-middle-east-51558770 [diakses 21 Februari 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com