Perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia kini telah memberi tambahan konflik global di samping ketidakpastian ekonomi yang terjadi akibat penyebaran virus corona di dunia. Pekan lalu, awal Bulan Maret 2020, Arab Saudi dan sejumlah negara-negara anggota OPEC+ lainnya berkumpul untuk mendiskusikan pengurangan produksi minyak dengan tujuan untuk menurunkan harga jual dan menjaga stabilitas minyak dalam menghadapi penurunan permintaan minyak akibat virus corona. Namun proposal pemotongan yang diajukan oleh Arab Saudi tersebut ditolak oleh Rusia, menghancurkan kesepakatan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun lamanya. Akibatnya, hal ini memicu kemarahan Arab Saudi yang kemudian memutuskan untuk membalas tindakan tersebut dengan cara memotong harga minyaknya sendiri dan semakin meningkatkan produksi secara besar-besaran. Kini harga jual minyak adalah sekitar 33 dolar per barel, sekitar sepertiga dari harga sebelumnya dan merupakan tingkat penurunan yang terendah sejak tahun 1991.

Tidak lama setelah penolakan Rusia terhadap kesepakatan OPEC, pemerintah Arab Saudi menyatakan perang harga dengan Rusia dan segera memerintahkan perusahaan penghasil minyaknya, Saudi Aramco, untuk meningkatkan produksi hingga mencapai tingkat maximum sustainable capacity yakni sekitar 12,6 juta barel per hari dan diperkirakan dapat mencapai 13 juta pada bulan April. Negara tetangganya, Uni Emirat Arab kemudian juga mengikuti jejak Arab Saudi dengan meningkatkan jumlah produksinya sebanyak lebih dari 4-5 juta barel di bulan April – target yang seharusnya dicapai pada tahun 2030. Kebijakan dua negara tersebut menyebabkan adanya penambahan suplai minyak global sekitar 3,6% dan justru akan memasuki pasar global ketika permintaan sedang turun akibat virus corona, sehingga harga minyak akan menjadi semakin rendah lagi.

Bagi Rusia, hal ini dapat mempengaruhi perekonomiannya dalam jangka pendek, namun terdapat kepercayaan diri bahwa dinamika tersebut masih dapat teratasi. Keputusan Rusia untuk mengakhiri perjanjiannya dengan OPEC dan justru meningkatkan produksi hingga 200.000 barel per hari sejatinya disebabkan oleh keinginannya untuk menghancurkan perekonomian Amerika Serikat yang selama ini dipandang telah banyak diuntungkan akibat pemotongan produksi minyak oleh negara-negara OPEC. Sejak awal penandatanganan Perjanjian Vienna pada tahun 2016, Rusia telah mengalami sejumlah dinamika politik dari yang awalnya bergabung dalam rangka kampanye pemilu yang mempromosikan kesejahteraan masyarakat, kini telah berubah prioritas menjadi pembentukan strategi minyak yang independen dan mengembangkan proyek produksi minyak yang tidak dapat dilakukan jika Rusia tetap berada dalam program pemotongan produksi OPEC+.

Sejak lima tahun belakangan, Rusia telah mengetatkan budget pengeluaran nasionalnya dan mengumpulkan sekitar 550 milyar dolar sebagai tabungan nasional yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas penjualan minyak dan dapat bertahan pada harga 25-30 dolar per barel untuk setidaknya 10 tahun mendatang. Menteri Finansial Rusia menyatakan bahwa Rusia akan mengambil sekitar 150 milyar dari kekayaan nasional untuk suplemen budget minyak dalam harga rendah. Jika harga minyak menjadi 27 dolar per barel, maka Rusia harus mengambil 20 milyar per tahun dari kekayaan nasionalnya agar dapat bertahan. Hal ini merupakan hasil dari restrukturisasi ekonomi sejak resesi yang dialaminya di tahun 2015 dan sanksi yang diberikat negara-negara Barat atas peristiwa aneksasi Krimea. Sehingga, persiapan yang telah dilakukan Rusia kemudian dapat menjaga stabilitas di tahun-tahun berikutnya serta memberi posisi yang lebih baik dalam perang harga minyak global. Namun meski demikian, jika hal ini terus terjadi dalam jangka waktu lama maka Rusia harus mengurangi pengeluaran nasionalnya atau meningkatkan pajak agar tetap stabil.

Sedangkan bagi Arab Saudi, harga minyak rendah juga dapat teratasi dengan tabungan nasionalnya meski tidak sebanyak yang dimiliki Rusia. Sehingga dalam perang harga minyak saat ini, Arab Saudi hanya mengharapkan perang yang tajam namun tidak berlangsung lama. Keputusannya untuk semakin merendahkan harga dan meningkatkan produksi dipandang sebagai langkah yang beresiko karena hanya mengandalkan pertahanan jangka pendek dan tidak menguntungkan bagi program Vision 2030 yang sedang dirintisnya karena program tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun di sisi lain, juga terdapat pandangan Anas Alhajji, ahli di sektor minyak Saudi, yang mengatakan bahwa hal ini tidak akan merugikan karena peningkatan produksi dan penurunan harga yang berjalan bersamaan dengan peningkatan ekspor maka Saudi akan mendapatkan keuntungan yang sama besar dengan kesepakatan OPEC+ serta mendapat lebih banyak pangsa pasar.

Menilik lebih dalam, keputusan Rusia untuk menolak kesepakatan OPEC+ didasari oleh anggapan bahwa harga minyak yang rendah akan mendorong banyak perusahaan Amerika untuk bankrut atau harus melakukan restrukturisasi. Selain itu, ekonomi yang buruk juga dapat menghambat kapabilitas Amerika untuk memberi sanksi-sanksi ekonomi. Putin menyadari bahwa pemotongan produksi oleh OPEC selama ini telah menguntungkan ledakan produksi energi Amerika dan dapat mengancam ekspor Rusia ke Eropa dan Asia. Dalam perang harga minyak yang sedang terjadi, Amerika Serikat dapat menjadi korban yang terbesar karena para shale producers yang telah membangun Amerika menjadi eksportir energi besar saat ini, membutuhkan setidaknya harga 44 dolar per barel untuk dapat bertahan. Sedangkan, berbeda dengan Arab Saudi dan Rusia, Amerika Serikat tidak memiliki investor-investor maupun tabungan nasional yang dapat menutupi kerugian yang dapat terjadi dalam jangka pendek sekali pun. Ditambah dengan hambatan ekonomi di sektor lain seperti jasa dan pariwisata akibat penyebaran virus corona, perang harga minyak menjadi semakin merugikan bagi Amerika Serikat.

Dapat disimpulkan bahwa baik Rusia maupun Arab Saudi, sejatinya merupakan negara-negara yang memiliki ketergantungan terhadap penjualan minyak untuk memenuhi budget nasionalnya. Harga produksi minyak Arab Saudi adalah yang terendah di dunia, sehingga Aramco dapat bertahan dalam harga rendah. Akan tetapi, perekonomian nasionalnya banyak bergantung pada penjualan minyak sehingga membutuhkan harga sekitar 50-160 per barel untuk menjaga stabilitas. Sedangkan di Rusia, harga produksi sedikit lebih tinggi namun memiliki ekonomi yang lebih beragam dan kuat. Maka dari itu, keputusan keduanya untuk memasuki perang harga minyak saat ini adalah keputusan yang beresiko. Meski keduanya memiliki alasan untuk menganggap dirinya benar, namun keduanya juga dapat mengalami kerugian yang besar karena hanya mengandalkan kesiapan jangka pendek hingga salah satu pihak mengikuti keinginan pihak lainnya.

Referensi:

Ambrose, Jillian. 2020. “Saudi Arabia Steps Up Oil Price War with Big Production Increase” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/mar/11/saudi-arabia-oil-price-war-production-increase-aramco [diakses 15 Maret 2020]

Duesterberg, Thomas. 2020. “Saudi Arabia-Russia Oil Price Feud Hits US Economy Hard” [online] tersedia dalam https://www.forbes.com/sites/thomasduesterberg/2020/03/13/saudi-arabia-russia-oil-price-feud-hits-u-s-economy-hard/#f3bab8152a6b [diakses 15 Maret 2020]

Kozhanov, Nikolay. 2020. “The Fall of OPEC+ and the Age of Oil Price Wars” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/indepth/opinion/fall-opec-age-oil-price-wars-200312124946313.html [diakses 15 Maret 2020]

Standish, Reid dan Johnson, Keith. 2020. “No End in Sight to the Oil Price Wat Between Russia and Saudi Arabia” [online[ tersedia dalam https://foreignpolicy.com/2020/03/14/oil-price-war-russia-saudi-arabia-no-end-production/ [diakses 15 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com