Selasa pagi menjadi waktu yang penuh duka bagi masyarakat Afghanistan. Pasalnya, telah terjadi dua peristiwa penyerangan yang telah merenggut nyawa masyarakat, bahkan beberapa di antaranya adalah wanita dan bayi yang baru lahir. Sebagai wilayah yang telah berada dalam situasi konflik dalam dua dekade terakhir, penyerangan dan tindak kekerasan memang sering terjadi. Ketegangan antara pihak pemerintah dan kelompok pemberontak yang tidak kunjung menemui akhir, telah menjadi narasi yang terpaksa mereka jalani dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, aksi kekerasan secara terang-terangan dan dalam skala besar yang menyerang masyarakat sipil khususnya wanita dan anak-anak kemudian menimbulkan ketakutan, amarah, dan rasa duka yang mendalam bagi penduduk setempat hingga masyarakat global. Terlebih, tahun 2020 diprediksi dapat menjadi akhir dari ketegangan perang Afghanistan sejak terjadinya diskusi damai pada Februari lalu, namun hal tersebut kembali diragukan pasca terjadinya dua penyerangan ini.

Penyerangan pertama terjadi di sebuah rumah sakit di wilayah Kabul sekitar pukul 10 pagi. Warga sekitar mengatakan bahwa mereka mendengar suara tembakan dan ledakan dari arah rumah sakit. Ramazan Ali, seorang saksi di tempat kejadian, mengatakan pada Reuters bahwa para penyerang menembak siapa pun dalam rumah sakit itu tanpa alasan. Ia menambahkan bahwa rumah sakit tersebut milik pemerintah, sehingga banyak para ibu yang membawa anaknya untuk berobat dan para wanita yang sedang hamil. Usai penembakan, terlihat para petugas mengeluarkan para korban selamat dari gedung tersebut. Tercatat peristiwa ini membunuh 24 orang termasuk dua bayi yang baru lahir beserta ibunya dan sejumlah perawat. Dalam beberapa foto yang diunggah oleh menteri dalam negeri menunjukkan dua anak-anak terbaring tidak berdaya di lantai rumah sakit dan seorang ibu yang meninggal sedang memeluk bayinya.

Menurut pernyataan para petugas keamanan, mereka telah menyelamatkan setidaknya 80 orang termasuk pasien dan para petugas medis dari rumah sakit tersebut dan mengevakuasi mereka ke rumah sakit lain, di antaranya terdapat tiga warga asing dan beberapa dokter sukarelawan. Di hari yang sama, para suami dan kerabat pasien segera mendatangi rumah sakit tersebut untuk mencari informasi terkait para korban. Hingga kini masih belum jelas alasan rumah sakit dengan kapasitas 100 kamar tersebut menjadi target penembakan. Identitas pelaku juga masih belum dapat ditentukan karena tidak ada kelompok teroris yang mengklaim tindakan ini, termasuk kelompok Taliban. Para pelaku diduga dapat memperoleh izin masuk karena berseragam polisi. Patricia Gossman dari Human Rights Watch berkomentar bahwa penyerangan yang dilakukan di rumah sakit sungguh tidak memiliki rasa kemanusiaan, khususnya di tengah situasi pandemik. Ia juga mengutip hukum humanitarianisme internasional atau hukum perang bahwa pasien memiliki hak untuk dilindungi dari serangan. Rumah sakit dan fasilitaas medis lain juga harus dilindungi kecuali digunakan untuk operasi militer ofensif. Oleh karenanya, penyerangan ini dipandang telah melanggar hukum dan perlu ditindaklanjuti secepatnya.

Selanjutnya, di hari yang sama, aksi teror juga terjadi ketika bom bunuh diri diledakkan di Provinsi Nangarhar ketika masyarakat tengah berkumpul untuk melakukan prosesi pemakaman seorang polisi lokal bernama Sheikh Akram. Dalam peristiwa tersebut, setidaknya 24 orang meninggal dunia dan 68 lainnya terluka. Menurut juru bicara gubernur setempat, Atahullah Khogyani, seorang anggota pemerintah daerah provinsi, Abdullah Lala Jan, termasuk dalam korban meninggal sementara ayahnya, Noor Agha yang juga seorang figur politik, terluka.

Dalam pernyataan yang diunggah pada Selasa malam di media mereka, Aamaq, IS mengklaim penyerangan ini sebagai perbuatannya. Mereka juga mengklaim serangan bom di Kabul pada hari Senin lalu, ketika terdapat empat bom yang diletakkan di dekat tempat sampah meledak hingga melukai empat pejalan kaki, satu di antaranya anak-anak. Badan intelijen Afghanistan kemudian mengatakan bahwa mereka telah menangkap pimpinan ISIL di wilayah tersebut yakni Zia-ul Haq yang juga dikenal sebagai Shaikh Abu Omer al-Khorasani.

Meski pada Februari lalu, telah terjadi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Taliban terkait penarikan pasukan Amerika di Afghanistan, namun pada kenyataannya konflik antara pemerintah dan kelompok pemberontak masih menjadi isu besar di Afghanistan karena serangan-serangan dan aksi teror masih terus terjadi. Pada dasarnya, kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah terjadi selama lebih dari 18 tahun sejak masuknya Amerika di Afghanistan pasca 9/11. Selama perang berlangsung, ribuan masyarakat termasuk masyarakat sipil telah terbunuh, terluka, dan kehilangan tempat tinggalnya. Namun akibat serangan Selasa lalu, Presiden Ashraf Ghani kemudian memerintahkan pasukannya untuk berhenti melakukan operasi “aktif defensif” yang telah diterapkan sejak Februari lalu dan mulai melakukan tindakan ofensif pada kelompok-kelompok pemberontak dan teroris.

Referensi:

Aljazeera. 2020. “Babies among 24 killed as Gunmen Attack Maternity Ward in Kabul” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/05/afghanistan-gunmen-storm-kabul-hospital-200512071439807.html [diakses 14 Mei 2020]

BBC. 2020. “Afghan Attack: Babies Killed as Gunmen Storm Kabul Maternity Ward” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-asia-52631071 [diakses 14 Mei 2020]

Graham-Harrison, Emma dan Makooi, Akhtar M. 2020. “Newborns among 40 Killed in Attacks on Afghan Hospital and Funeral” tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/may/12/gunmen-attack-kabul-hospital-used-by-medecins-sans-frontieres [diakses 14 Mei 2020]

Human Rights Watch. 2020. “Afghanistan: Attack on Hospital a War Crime” [online] tersedia dalam https://www.hrw.org/news/2020/05/12/afghanistan-attack-hospital-war-crime [diakses 14 Mei 2020]

Popalzai, Ehsan, et al. 2020. “Infants and Mothers Killed in Attack on Kabul Hospital” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/05/12/asia/afghanistan-kabul-hospital-attack-intl/index.html [diakses 14 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti