Penemuan hingga penyebaran virus COVID-19 sejak Desember tahun lalu telah membawa pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang spektakuler menurun. Pihak resmi dari pemerintah Tiongkok baru saja mempublikasikan data Gross Domestic Product (GDP) bahwa pada triwulan pertamanya di tahun 2020, mengalami penurunan sebesar 6,8% jika dibandingkan dengan tahun lalu – bahkan lebih tinggi dari prediksi analis Reuters yakni 6%. Angka ini kemudian memiliki arti penting bagi negara perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut karena mengalami tingkat penurunan lebih tinggi dibanding kasus The Tiananmen Square, epidemi SARS, bahkan ketika krisis finansial global. Secara historis, ini adalah penurunan terburuk sejak Tiongkok pertama kali mempublikasi GDP triwulanannya secara publik pada tahun 1992 dan menurut China’s National Bureau of Statistics, ini juga pertama kalinya Tiongkok mengalami penurunan ekonomi sejak 1976 ketika terjadi revolusi kultural akibat ketua Partai Komunis, Mao Zedong meninggal dunia.

Sejak bangkit dari kemiskinan dan isolasi selama lebih dari 40 tahun di masa lalu, Tiongkok telah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat di dunia. Negara tersebut berhasil mengambil keuntungan meski berada di situasi yang sulit sekali pun. Beberapa faktor yang menyebabkan pertumbuhan tinggi Tiongkok antara lain adanya jaringan lalu lintas yang ekstensif dan modern, jiwa bisnis masyarakat yang tinggi, tenaga pekerja yang ahli, dan kesediaan pemerintah untuk mengabaikan isu lingkungan dan buruh sejenak demi meningkatkan keuntungan ekonominya. Namun, menjadi pusat penyebaran virus COVID-19 kemudian menjadi tekanan yang besar bagi Tiongkok. Maka sejatinya, angka penurunan tersebut telah merefleksikan kesungguhan Tiongkok untuk melawan corona, sebagaimana ditunjukkan dalam kebijakannya untuk menutup pabrik-pabrik dan sektor perkantoran sejak Januari dan Februari.

Pandemik corona memang telah memberikan kerugian dan dampak negatif yang besar bagi perekonomian Tiongkok baik secara domestik maupun bisnis luar negeri. Bukanlah hal yang mudah bagi pemerintah untuk memberikan suntikan dana dalam jumlah besar untuk perusahaan-perusahaan dalam negerinya karena kondisi perekonomian yang kompleks dan tindakan tersebut justru meningkatkan hutang. Meski begitu, tekanan domestik masih sangat tinggi dan pemerintah harus segera bertindak. Menurut Capital Economics, penurunan ekonomi hampir dirasakan di semua sektor, utamanya bisnis bioskop, pariwisata, transportasi, dan penjualan mobil. Masyarakat telah menyuarakan protesnya terkait kurangnya pemasukan. Kini mereka hanya membeli keperluan primer saja dan masih takut untuk banyak melakukan aktivitas diluar rumah. Meski kini aturan social distancing sudah melonggar akibat penurunan jumlah pasien positif corona di Tiongkok, namun jalanan, restoran, pusat perbelanjaan, dan transportasi umum masih cenderung sepi.

Selain itu, perkembangan bisnis kecil dan menengah juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Pinjaman dapat lebih mudah didapat oleh bisnis-bisnis besar yang memiliki koneksi politik yang baik dengan sektor perbankan yang dikontrol pemerintah. Sedangkan para pebisnis kecil terpaksa harus meminjam dari sektor informal, hingga justru menimbulkan permasalahan tersendiri di masyarakat. Lebih lanjut, untuk menghindari inflasi, pemerintah berupaya untuk mendorong masyarakat berbelanja meski dalam kondisi yang sulit. Pemerintah telah memberi sejumlah voucher diskon dan menampilkan iklan untuk menarik perhatian masyarakat. Namun pada masa seperti ini, masyarakat cenderung memilih untuk menabung dan hanya membeli keperluan-keperluan penting saja. Selain itu, pemerintah juga berupaya meyakinkan perusahaan untuk tetap menggaji pegawainya dan menjanjikan peringanan pajak dan memberikan pinjaman. Namun hal ini juga tidak banyak membantu karena banyak bisnis yang telah mengalami kebangkrutan akibat pandemik.

Beberapa analis berpendapat bahwa perekonomian domestik Tiongkok dapat pulih dalam triwulan berikutnya. Saat ini, Tiongkok telah memasuki masa pemulihan ekonomi karena kebijakan lockdown dan social distancing sudah diperlonggar. Dalam beberapa bulan ke depan, pusat-pusat perbelanjaan akan kembali dibuka dan operasi bisnis secara umum dapat berjalan secara normal. Industri manufaktur juga memandang hal ini secara positif, sebagaimana the Caixin China Manufacturing Purchasing Managers Index yang mengalami kenaikan dari 40,4 pada bulan Februari dan 50,1 di bulan Maret. Pemulihan juga dapat terjadi ketika masyarakat sudah kembali melakukan aktivitas di luar rumah seperti berbelanja dan makan di restoran. Selain itu, pemerintah juga akan mengembangkan infrastruktur yang dapat mendukung pertumbuhan antara lain big-data centres, infrastruktur 5G, AI, dan e-vehicle charger. Namun, pemulihan penuh masih dirasa membutuhkan waktu yang lebih lama karena banyaknya pekerja yang telah kehilangan lapangan pekerjaan dan kekhawatiran masyarakat terhadap virus.

Sementara itu, perekonomian Tiongkok juga berkaitan dengan perekonomian global secara keseluruhan, yang kini berjalan sangat lambat. Saat ini permintaan global untuk ekspor Tiongkok menurun cukup drastis. Bisnis mereka dengan pembeli dari luar negeri banyak menemui hambatan karena pesanan yang ditunda, bahkan dibatalkan. Para pengusaha tersebut mengatakan bahwa penutupan penuh perbatasan Tiongkok yang bertujuan untuk mencegah munculnya virus gelombang kedua sejatinya telah berdampak besar pada sektor ekspor. Banyak pengiriman yang tertunda akibat pembatalan penerbangan, serta larangan bagi tenaga ahli untuk masuk ke Tiongkok. Oleh karenanya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang saat ini telah memasuki masa pemulihan sejatinya juga tetap dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global, hingga diperkirakan masa pemulihan membutuhkan waktu yang lama.

Referensi:

Bradsher, Keith. 2020. “China’s Economy Shrinks, Ending a Nearly Half Century of Growth” [online] tersedia dalam https://www.nytimes.com/2020/04/16/business/china-coronavirus-economy.html [diakses 17 April 2020]

Crossley, Gabriel dan Yao, Kevin. 2020. “Hobbled by Coronavirus, China’s First-Quarter GDP Shrinks for First Time on Record” [online] tersedia dalam https://www.reuters.com/article/us-china-economy-gdp/china-posts-first-gdp-decline-on-record-as-coronavirus-cripples-economy-idUSKBN21Z08Q [diakses 17 April 2020]

Ho, Samantha. 2020. “The Great Fall of China’s Economy: GDP Set for Historic plunge” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/ajimpact/great-fall-chinas-economy-gdp-set-historic-plunge-200416042331706.html [diakses 17 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti