Afrika merupakan salah satu wilayah yang mengalami fase kolonialisme. Meskipun wilayah Afrika sendiri telah mengalami dekolonisasi pasca Perang Dunia II, tidak serta merta seluruh peninggalan kolonial baik dalam bentuk fisik ataupun non-fisik dapat terlepas dari Afrika. Sedikit banyak masih terdapat peninggalan-peninggalan kolonialisme yang masih ada di Afrika, seperti penggunaan bahasa kolonial di wilayah-wilayah bekas jajahan. Hal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai mengapa peninggalan-peninggalan era kolonialisme masih memiliki dampak yang signifikan di Afrika. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai hal tersebut beserta upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Salah satu peninggalan kolonialisme yang masih tertinggal pasca kemerdekaan adalah mengenai batasan-batasan wilayah negara-negara di Afrika (de Blij & Muller, 1997). Meskipun telah melakukan praktik kolonialisme di Afrika kurang lebih dua abad lamanya, belum ada pemberian patokan wilayah kekuasaan yang jelas di Afrika hingga akhir abad ke-19. Pada era tersebut, negara-negara Eropa mulai menyadari potensi sumber daya yang ada di Afrika sehingga beberapa kali perebutan wilayah sempat terjadi. Untuk mengatasi hal tersebut, diselenggarakanlah Berlin Conference pada tahun 1884 hingga 1885 dengan agenda untuk memberikan kejelasan mengenai batas-batas wilayah koloni negara-negara kolonial di Benua Afrika. Pasca Perang Dunia II, negara-negara di Benua Afrika mulai mendapatkan kemerdekaan dan batasan-batasan wilayah koloni yang ditetapkan dalam Berlin Conference digunakan sebagai patokan teritori negara-negara Afrika hingga saat ini.

Kawasan Afrika juga masih merasakan peninggalan kolonialisme dalam aspek kultural. Menurut Nathan (2007), Afrika merupakan kawasan dengan pengguna bahasa Perancis terbesar di dunia. Mengingat lebih dari sepertiga wilayah Afrika merupakan wilayah jajahan Perancis, penduduk lokal Afrika mengikuti penggunaan bahasa Perancis selama masa kolonialisme berdampingan dengan bahasa asli setempat. Hingga dilakukannya dekolonisasi di Afrika, setidaknya terdapat 24 negara yang dikategorikan sebagai negara francophone atau pengguna bahasa Perancis. Pantai Gading dan Gabon bahkan menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa nasional utama yang tingkatannya di atas bahasa lokal. Selain itu, Ekeh (1975) juga menunjukkan fakta bahwa terdapat dua jenis masyarakat dalam kondisi sosial Afrika yaitu primordial public dan civic public. Primordial public adalah masyarakat yang secara kental masih menggunakan nilai-nilai kultural asli Afrika. Sementara itu, civic public merupakan kelompok masyarakat yang telah mendapatkan pendidikan sebagaimana bangsa Barat. Kelompok masyarakat ini akan cenderung mengambil keuntungan sebanyak mungkin dari kelompok pertama. Adanya relasi eksploitatif ini menunjukkan adanya peninggalan kolonialisme terhadap warga Afrika dalam bentuk penanaman pola pikir.

Selain didasari oleh faktor historis, Young (2009) berpendapat bahwa pengaruh nilai-nilai kolonialisme di era poskolonial juga didasari oleh adanya ketergantungan antara negara kolonial di wilayah bekas koloninya. Menggunakan perspektif neokolonialisme, dapat dipahami bahwa negara kolonial tidak mau melepaskan potensi yang ada di wilayah bekas koloninya. Hal tersebut didasari oleh kedekatan hubungan antara negara kolonial dengan negara-negara bekas koloninya. Adanya pakta pertahanan di antara kedua belah pihak menyebabkan negara kolonial dapat melakukan intervensi-intervensi ke negara bekas koloninya yang secara prinsip merupakan negara berdaulat dengan dalih menjaga keamanan negara. Menurut Akke (dalam Young, 2009), negara-negara kolonial tidak hanya melakukan intervensi dalam aspek keamanan, namun juga dalam aspek ekonomi, politik, dan hukum. Dengan begitu intensnya hubungan antara negara kolonial dan negara bekas koloni, muncul adanya sikap pesimisme terhadap kondisi di Afrika itu sendiri atau yang disebut sebagai Afropessimism. Hal tersebut dijelaskan melalui perspektif poskolonialisme yang menyatakan bahwa negara-negara bekas koloni di Afrika tidak dapat bernegara dengan baik secara independen tanpa adanya campur tangan dari negara koloninya.

Berkaitan dengan masalah di atas, muncul gerakan-gerakan yang bertujuan untuk mengatasi ketergantungan yang berlebihan serta peninggalan kolonialisme di Afrika. Adanya All African People Conference (AAPC) yang merupakan konferensi yang terdiri dari partai-partai politik di Afrika dengan tujuan memperoleh independensi bagi negara-negara Afrika dari pengaruh negara-negara kolonial merupakan salah satu contoh dari gerakan yang secara spesifik menolak adanya ketergantungan tersebut. AAPC sendiri merupakan gerakan lanjutan dari Pan-African Congress dengan tujuan sama (Young, 2009). Selain itu juga terdapat gerakan yang berupaya untuk membuang nilai-nilai kolonialisme yang tertinggal dengan cara mengembalikan identitas asli Afrika. Gerakan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan nasionalisme dari bangsa Afrika yang sesuai dengan nilai-nilai asli Afrika yang kemudian disebut sebagai African Personality.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kolonialisme memiliki dampak terhadap situasi bernegara di wilayah Afrika. Negara-negara bekas jajahan mendapatkan pengaruh yang signifikan serta memiliki ketergantungan dengan negara kolonialnya. Hal ini kemudian memunculkan dua jenis masyarakat yaitu primordial public dan civic public yang memiliki relasi eksploitatif selayaknya era kolonialisme. Hal tersebut didasari oleh adanya tendensi dari negara kolonial untuk tidak melepaskan pengaruh di wilayah bekas jajahannya serta adanya asumsi bahwa negara bekas jajahan tidak akan bisa independen dari negara kolonialnya. Terdapat gerakan-gerakan yang menentang permasalahan tersebut yang terbukti dari adanya AAPC serta African Personality.

Referensi:

de Blij, H.J., & Muller, Peter, (1997). Geography: Realms, Regions, and Concepts. John Wiley & Sons, Inc.

Ekeh, Peter P., (1975). Colonialism and the Two Publics in Africa: A Theoretical Statement. Comparative Studies in Society and History, Vol. 17, No. 1, hal. 91-112.  

Paris, Nathan, (2007). La Francophonie dans le Monde 2006-2007. Organisation internationale de la Francophonie.

Young, Crawford, (2009). The Heritage of Colonialism. Dalam W. Harberson , John dan Rothchild, Donald (eds.) Africa in World Politic, : Reforming Political Order. Westview Press.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.