Tidak lama setelah munculnya Kim Jong-un kembali di media, Korea Utara meluncurkan sejumlah tembakan di wilayah perbatasannya dengan Korea Selatan pada Hari Minggu lalu pukul 07.41 pagi waktu setempat. Pihak militer Seoul mengatakan bahwa penembakan tersebut telah mengenai tembok pos keamanan di Cheorwon. Setelahnya, pihak Korea Selatan mengirim peringatan verbal untuk pihak Utara dan membalas tembakan sebanyak dua kali. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan prosedur manual dan atas perintah komandan keamanan yang sedang bertugas. Militer Korea Selatan menyatakan bahwa saat ini mereka tengah berupaya untuk mengidentifikasi situasi melalui komunikasi militer dengan Korea Utara dan mencegah adanya ketegangan yang berkelanjutan.

Kejadian semacam ini sejatinya cukup langka terjadi antara dua negara dengan penjagaan keamanan terketat di dunia tersebut. Sebelumnya, situasi penembakan di perbatasan terakhir kali terjadi ketika seorang tentara Korea Utara melarikan diri dan menuju Korea Selatan melalui zona demiliterisasi. Zona demiliterisasi sendiri telah dibuat sejak tahun 1953 pasca Perang Korea berakhir, bertujuan sebagai buffer zone antar dua negara. Hingga kini, segala pergerakan dan tindakan dalam zona tersebut selalu dijaga dan diawasi dengan ketat oleh kedua pihak.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mengklaim bahwa penembakan yang terjadi pada Minggu lalu tersebut adalah sebuah kecelakaan semata dan tidak dilakukan secara sengaja. Ia mengatakan bahwa ia telah membaca laporan kejadian dan memperoleh informasi internal dari Korea. Ia mengkonfirmasi bahwa tembakan memang berasal dari Korea Utara terlebih dahulu, namun tidak ada korban yang terluka.

Sementara itu, salah satu media Korea Selatan, Yonhap, yang mengutip perkataan juru bicara pemerintahan Korea Selatan juga menyatakan hal serupa karena dalam penembakan tersebut tidak ada yang terluka maupun peralatan yang rusak, serta dalam beberapa waktu berikutnya tercatat tidak terdapat tanda-tanda pergerakan yang mencurigakan atau tidak biasa yang dilakukan oleh tentara Korea Utara. Insiden juga dikatakan terjadi ketika cuaca sedang berkabut dan dalam waktu pergantian jam kerja tentara Korea Utara sehingga memungkinkan adanya kecelakaan yang tidak disengaja. Sedangkan menurut pihak militer Korea Selatan, masih ada kemungkinan kecil tembakan dilakukan dengan sengaja meski memang dalam tahap ini masih belum benar-benar jelas alasan penembakan tersebut terjadi. Bila pun kejadian tersebut hanyalah sebuah kecelakaan, hal ini menunjukkan pentingnya para tentara untuk selalu bersikap waspada dan menjaga tindakan mereka di zona demiliterisasi.

Meski demikian, pihak United Nations Command (UNC) yang bertugas untuk memantau pergerakan militer di negara-negara kemudian bersama dengan kepala staf gabungan dari Korea Selatan bekerja sama untuk terus menilai dan memantau situasi. Kolonel Lee Peters, Direktur Urusan Publik UNC, mengatakan bahwa UNC akan melakukan penyelidikan yang lebih mendalam setidaknya pada hari Senin, 4 Mei untuk menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap Perjanjian Gencatan Senjata dan akan segera melaporkan hasilnya pada pihak yang berwenang.

Spekulasi terkait alasan penembakan ini terjadi memang kini banyak beredar di media, utamanya dikarenakan waktu yang hampir bertepatan dengan kembalinya Kim Jong-un setelah dikabarkan “menghilang” dari media selama 21 hari. Dalam masa itu, Kim telah melewatkan perayaan tahunan di Korea Utara pada tanggal 15 April lalu untuk memperingati kematian kakeknya tanpa alasan yang jelas. Terkait hal ini, Mike Pompeo mengatakan bahwa ia sendiri tidak benar-benar yakin atas alasan hilangnya Kim, namun foto-foto yang telah diunggah oleh media kenegaraan Korea Utara menunjukkan bahwa Kim sedang baik-baik saja. Ia menekankan bahwa terlepas dari hal tersebut, tugas kita sekarang adalah meyakinkan Korea Utara untuk menghentikan operasi senjata nuklirnya demi masa depan yang lebih cerah untuk mereka.

Lebih lanjut, jika penembakan memang dilakukan dengan sengaja, maka hal ini bukanlah berita baik untuk Korea Selatan. Selama dua tahun terakhir, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintahan Korea Selatan untuk mengakhiri ketegangan antara dua negara. Pada pertemuan kenegaraan di Pyongyang pada 29 September 2018 lalu, Presiden Moon Jae-in dan Kim Jong-un bertemu dan berhasil menandatangani sejumlah kesepakatan militer, termasuk mengurangi intensitas intensitas militer antar kedua negara dan menghentikan operasi dari sebelas pos keamanan di zona demiliterisasi. Oleh karenanya, penyerangan militer termasuk penembakan yang melewati perbatasan dapat dianggap sebagai pelanggaran atas kesepakatan tersebut. Hal ini dapat berakibat buruk bagi Korea Selatan yang selama di bawah pemerintahan Moon Jae-in telah berupaya mengubah zona demiliterisasi menjadi zona damai.

Referensi:

Bicker, Laura. 2020. “North and South Korea in Gunfire Exchange after Kim Jong-un Reappears” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-asia-52518844 [diakses 4 Mei 2020]

Gallo, William. 2020. “North, South Korea Exchange Fire in DMZ; No Casualties Reported” [online] tersedia dalam https://www.voanews.com/east-asia-pacific/north-south-korea-exchange-fire-dmz-no-casualties-reported [diakses 4 Mei 2020]

Seo, Yoonjung. 2020. “Gunfire Exchanged in DMZ Across Border between North and South Korea” [online] tersedia  dalam https://edition.cnn.com/2020/05/03/asia/north-korea-gunfire-south-dmz-intl/index.html [diakses 4 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti