Studi Hubungan Internasional sebagai salah satu cabang dari ilmu sosial, menemui perdebatan dan kerancuan dalam penentuan penggunaan metode penelitian. Kehidupan sosial manusia yang dinamis menyebabkan metode penelitian kuantitatif yang cenderung statistikal dianggap kurang sesuai untuk menjelaskan fenomena hubungan internasional, sehingga dibutuhkan analisis yang lebih mendalam mengenai hal-hal yang bersifat intangible. Namun, analisis yang murni didasarkan pada prediksi dan teori secara konseptual menimbulkan pertanyaan terkait validitas dan keabsahan Hubungan Internasional sebagai sebuah ilmu pengetahuan atau sains. Maka dari itu, dibutuhkan solusi dan mekanisme baru yang dapat memberi penjelasan mengenai fenomena hubungan internasional secara menyeluruh. Untuk dapat memahami peran, kelebihan, serta kekurangan dari masing-masing metode penelitian, penulis akan menjelaskan lebih lanjut perdebatan penggunaan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam Hubungan Internasional.

Secara historis, pendekatan klasik dalam Hubungan Internasional menggunakan filsafat dan sejarah sebagai dasar pemikirannya. Levy (2002) menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif pada umumnya lebih idiografis dan mengacu pada sejarah tertentu, tidak selalu didasarkan pada analisis teoritis, dan mengambil simpulan dari logika. Hal-hal tersebut melahirkan anggapan bahwa metode penelitian kualitatif cenderung bersifat subjektif,  kurang dapat menjelaskan fakta dalam argument teoritis, dan tidak dapat difalsifikasi (Levy, 2002). Namun, penting untuk tidak menyamakan metode penelitian kualitatif dengan analisis studi kasus karena fokus pembahasan metode kualitatif dalam Hubungan Internasional adalah analisis komparatif dan metode studi kasus dari perspektif positivisme. Kasus sendiri mendapat dua macam definisi tergantung kebutuhannya yakni yang pertama, kasus diartikan sebagai serangkaian peristiwa dalam ruang dan waktu tertentu dan yang kedua, kasus dipandang sebagai aspek tertentu dalam sebuah peristiwa yang selaras dengan suatu teori (Levy, 2002).

Lebih lanjut, Mahoney & Goertz (2006) memandang metode kualitatif lebih menggunakan pendekatan sebab-akibat dalam menjelaskan sebuah fenomena. Hal ini selaras dengan pemahaman Hubungan Internasional sebagai wisdom, yang mana teori dan analisis didasarkan kepada pengalaman pribadi atau faktor historis. Perkembangan awal tersebut kemudian melahirkan asumsi jawaban yang dapat menjelaskan fenomena yang terjadi pada masa itu. Pendekatan ini banyak digunakan pada tahun 1950-an hingga terjadi revolusi behavioralis di tahun 1960. Revolusi behavioralis memunculkan pergeseran dan peningkatan urgensi penggunaan metode kuantitatif dalam analisis Hubungan Internasional. Metode kuantitatif menganalisis suatu permasalahan dengan menggunakan teori dan berusaha membuktikan hipotesis yang ada secara ilmiah. Maka metode kuantitatif diharapkan dapat menawarkan penjelasan yang objektif dan terbukti validitasnya (Leng, 2002).

Namun, Bull dalam Leng (2002) meragukan keberhasilan metode kuantitatif dalam menjelaskan fenomena Hubungan Internasional dan menganggap pengabaian pendekatan klasik akan menciptakan situasi yang berbahaya bagi dunia akademik. Sains ditakutkan akan menggeser penggunaan filsafat dan sejarah sebagai aspek penting dalam penelitian. Terdapat tiga kritik utama yang diungkapkan oleh Bull terhadap metode penelitian kuantitatif. Pertama, metode kuantitatif dianggap tidak dapat menjangkau fenomena sosial dengan keseluruhan atau dengan kata lain, penelitian bergantung pada ketersediaan data saja. Kedua, ketidakmampuan metode kuantitatif untuk mencapai pengetahuan kumulatif, dan ketiga, berbahayanya substitusi metodologi serta pengabaian pendekatan klasik dalam penelitian (Leng, 2002).

Menilik lebih dalam, Flick (2009) memaparkan bahwa kedua metode penelitian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga dapat diciptakan kombinasi dari keduanya. Penjelasan mengenai sebuah kasus dapat diteliti baik secara teori maupun secara empiris dengan melihat data. Dengan menggunakan konsep triangulation, metode kualitatif dan kuantitatif dianggap sebagai dua hal yang saling membutuhkan atau kompelemen dan dapat mengisi celah dan kekurangan masing-masing. Kasus yang diteliti menjadi common ground yang menghubungkan penggunaan metode kualitatif dan kuantitatif. Konsep ini tidak mementingkan metode apa yang digunakan terlebih dahulu atau metode apa yang lebih banyak digunakan karena keduanya berada dalam posisi yang sama penting. Meski begitu, kedua metode tersebut tetap dipraktekkan secara terpisah meski berada didalam satu kasus penelitian tertentu (Flick, 2009).

Berdasarkan paparan diatas, dapat penulis simpulkan bahwa pada awalnya, para pemikir klasik menganalisis fenomena Hubungan Internasional dengan menggunakan metode kuantitatif yang didasarkan pada sejarah, filsafat, dan logika. Metode menganalisis kasus yang ada dengan melihat situasi yang secara empiris terjadi di dunia nyata dan berusaha menjelaskan penyebab dan hubungan interaksinya. Namun, metode penelitian kualitatif memiliki beberapa kelemahan antara lain cenderung bersifat subjektif, kurang dapat menjelaskan fakta dalam argumen teoritis, dan tidak dapat difalsifikasi. Seiring berjalannya waktu, muncul urgensi untuk menganalisis Hubungan Internasional secara ilmiah dan didasarkan pada teori dan hipotesis agar tercipta jawaban yang objektif dan terbukti validitasnya. Namun beberapa akademisi menganggap teori kuantitatif tidak akan bisa menjangkau isu-isu tertentu dalam Hubungan Internasional karena hanya terpaku pada ketersediaan data. Maka dari itu, dengan kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif menjadi pilihan yang tepat dalam menganalisis Hubungan Internasional. Kedua metode dianggap memiliki posisi yang sama penting untuk menjelaskan suatu kasus. Penulis beropini bahwa dalam hal ini, Hubungan Internasional memang lebih condong kearah metode kualitatif karena beberapa hal dalam dinamika internasional dapat memiliki interpretasi yang berbeda-beda dan sulit untuk mendapatkan data yang valid. Namun, dalam era kontemporer metode kuantitatif juga diperlukan untuk mendukung argumen dan teori tertentu.

Referensi:

Flick, Uwe. 2009. “Qualitative and Quantitative Research” dalam An Introduction to Qualitative Research. London: SAGE, pp. 23-34

Leng, Russell J. 2002. “Quantitative International Politics and Its Critics: Then and Now” dalam Frank P. Harvey & Michael Brecher (ed.), Evaluating Methodologies in International Studies. Ann Arbor: The University of Michigan Press, pp. 116-130

Levy,  Jack S. 2002. “Qualitative Methods in International Relations” dalam Frank P. Harvey & Michael Brecher (ed.), Evaluating Methodologies in International Studies. Ann Arbor: The University of Michigan Press, pp. 131-160

Mahoney, James & Goertz, Gary. 2006. “A Tale of Two Cultures: Contrasting Quantitative and Qualitative Research” dalam Political Analysis, Vol. 14, pp. 227-249