Pada hari Minggu ini, seluruh masyarakat Polandia akan memberikan suara mereka untuk berpartisipasi dalam putaran pertama pemilihan umum presiden yang dapat berpotensi mengubah tatanan politik di negara tersebut. Pemilihan tersebut sejatinya dilaksanakan pada tanggal 10 Mei lalu, namun terpaksa diundur akibat pandemi dan program lockdown yang ketat. Sejak tahun 2015, Polandia telah dipimpin oleh partai Law and Justice (PiS) dengan ideologi konservatif sosial dan ekonomi statisnya. Sebelum menjabat sebagai presiden, Andrzej Duda sendiri juga merupakan anggota dari partai tersebut dan meski setelah menjabat, presiden Polandia tidak diperbolehkan bergabung dalam partai mana pun, namun dalam masa kepemimpinannya ia tetap menikmati dukungan PiS terhadap kebijakan-kebijakannya yang nasionalis, populis, dan anti-Uni Eropa. Dalam lima tahun terakhir, secara garis besar Duda telah berupaya untuk mengarahkan politik Polandia ke arah yang sama dengan Hungaria – bertolak belakang dengan negara-negara Eropa Barat yang menganut asas demokrasi, kebebasan press, dan rule of law. Namun hal ini dapat berubah berdasarkan hasil pemilihan umum hari ini.

Menurut hasil survei, Duda hanya memeroleh sekitar 40% suara masyarakat, sehingga terdapat kemungkinan besar akan diadakan putaran kedua pada tanggal 12 Juli mendatang. Sedangkan sisa suara kemudian tertuju pada lawan Duda yakni Rafal Trzaskowski, seorang kandidat dari Partai Koalisi Sipil yang saat ini juga menjabat sebagai walikota Warsaw. Trzaskowski memiliki pandangan politik yang berbeda dengan Duda yakni cenderung liberal, kosmopolitan, dan pro-Eropa. Ia juga menawarkan kebijakan-kebijakan yang mengandung unsur ke-Eropa-an dan politik pasar bebas ala Amerika Serikat yang diinginkan sebagian rakyat Polandia. Maka dari itu, kemenangan Trzaskowski dapat menjadi awal mula perubahan di Polandia, meski tidak mudah. Hal ini dikarenakan, pada dasarnya kepemimpinan dalam pemerintah Polandia dikontrol oleh ketua PiS yakni Jaroslaw Kaczynski. Namun, ia tidak memiliki suara mayoritas di parlemen, sehingga harus membentuk aliansi dengan partai-partai lain yang disebut “United Right”. Apabila Trzaskowski memenangkan putaran kedua, maka ia kemudian dapat memiliki hak veto, yang hanya dapat dikalahkan oleh tiga per lima mayoritas suara parlemen. Oleh karenanya, kemenangan Trzaskowski kemudian dapat menjadi check and balance dalam pemerintahan dan dapat memiliki kuasa atas legislatur dan kabinet. Hal ini dapat memengaruhi kekuatan yang dimiliki United Right serta dapat memicu pemilihan umum parlemen di masa depan.

Sejatinya, pemilihan umum presiden dilaksanakan pada tanggal 10 Mei lalu, namun terpaksa harus mengalami penundaan akibat pandemi COVID-19. Dalam upayanya untuk mempertahankan kekuasaannya, PiS kemudian mengajukan proposal untuk melaksanakan pemilihan via pos yang wajib, bahkan memberi ide bahwa rakyat yang tidak memilih akan diberi sanksi tiga tahun penjara untuk “penyalahgunaan” dokumen resmi. Selain itu, PiS juga memberi ide untuk memperpanjang masa jabatan presiden saat ini dari lima menjadi tujuh tahun. Usulan-usulan tersebut dianggap tidak demokratis dan tidak disetujui hingga akhirnya diputuskan pemilihian akan ditunda hingga hari ini.

Selama masa lockdown, PiS telah mengeluarkan usulan kebijakan untuk sepenuhnya melarang aborsi. Hal ini diyakini akan menimbulkan protes massa, namun dapat diantisipasi karena masyarakat sedang berada dalam masa karantina. Di tengah masa pandemi, partai tersebut juga gagal memberi solusi pada para pekerja dan justru mengeluarkan kebijakan yang memberikan  para perusahaan untuk memecat para pekerjanya. Kegagalannya dalam menghadapi pandemi juga ditunjukkan dalam tidak adanya solusi terhadap layanan sekolah daring bagi masyarakat Polandia yang tidak memiliki akses internet di rumahnya.

Sedangkan dalam masa kampanye, PiS dan Presiden Duda juga menggunakan metode yang sungguh menjatuhkan serta menawarkan kebijakan yang bertentangan dengan Trzaskowski. Dalam kampanyenya, Duda berusaha untuk menekankan kebijakan-kebijakannya yang anti-LGBT karena ia menganggap “ideologi LGBT” tidak sesuai dengan gaya hidup masyarakat Polandia dan merupakan bagian dari paham Komunis Lama. Ia mengusulkan program “Family Charter” yang bertujuan untuk melindungi tradisi keluarga Katolik di Polandia. Upayanya untuk menciptakan stigmatisasi “kita lawan mereka” di masayrakat juga dilakukan dengan menunjukkan bahwa Trzaskowski adalah seorang Katolik yang tidak taat dan banyak dipengaruhi oleh kekuatan asing.

Referensi:

Dettmer, Jamie. 2020. “Tight Polish Election Featuring Trump Ally Seen as political Bellwether” [online] tersedia dalam https://www.voanews.com/europe/tight-polish-election-featuring-trump-ally-seen-political-bellwether [diakses 27 Juni 2020]

Strzelecki, Marek. 2020. “Poland’s Election Marks Another Moment for Europe” [online] tersedia dalam https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-06-26/poland-s-election-marks-another-critical-moment-for-europe [diakses 27 Juni 2020]