Meski tengah menghadapi situasi pandemik COVID-19, Korea Selatan tetap mengadakan pemilihan umum untuk memilih anggota Majelis Nasionalnya pada Hari Rabu lalu. Pemilihan ini merupakan salah satu pemilihan pertama yang diadakan sejak COVID-19 mulai menyebar di seluruh dunia, sedangkan sejumlah negara lain yakni Ethiopia, Chili, Bolivia, Prancis, dan beberapa negara bagian Amerika Serikat memutuskan untuk menunda pemilihan akibat situasi yang masih belum kondusif. Pemilihan Majelis Nasional dilakukan setiap empat tahun sekali dan dilakukan dengan menggunakan sistem kombinasi pemilihan langsung dan proporsional. Pada pemilihan ini, Korea Selatan telah menyediakan kurang lebih 14.000 tempat pemilihan serta sejumlah pos yang terpisah untuk masyarakat yang memiliki gejala COVID-19.

Pada awalnya, terdapat kekhawatiran dari masyarakat bahwa pemilihan tidak akan berlangsung dengan adil karena masih ragu untuk keluar rumah dan mendatangi pos pemilihan. Setidaknya 60.000 masyarakat Korea Selatan saat ini tengah melakukan program social distancing dan karantina secara mandiri. Namun pada kenyataannya, jumlah pemilih yang datang berjumlah sekitar 66,2% dari keseluruhan masyarakat Korea Selatan yang memiliki hak pilih – jumlah tertinggi selama 18 tahun terakhir. Hal ini disebabkan adanya pemberitahuan dari pemerintah bahwa pemilihan akan dilakukan dalam pengawasan yang ketat dan terdapat aturan-aturan khusus yang harus dipatuhi antara lain sebelum memilih, setiap orang harus membersihkan tangan mereka dulu dengan sanitizer, serta diwajibkan memakai pelindung wajah (masker) dan berdiri dengan jarak setidaknya satu meter. Sebelum memilih mereka juga akan diperiksa suhu tubuhnya terlebih dahulu dan apabila hasilnya di atas 37,5 derajat celcius maka mereka harus memilih di bilik terpisah yang langsung disemprot dengan disinfektan setiap kali selesai digunakan.

Bagi masyarakat yang telah sembuh dari COVID-19 diperbolehkan untuk memilih namun hanya di pos-pos tertentu saja. Mereka juga dilarang menggunakan transportasi umum dan hanya diperbolehkan jalan kaki atau menggunakan mobil pribadi. Sedangkan bagi pasien pengidap COVID-19, panitia pemilihan umum Korea Selatan juga memperbolehkan mereka memilih dengan menggunakan pos atau mail-in ballots. Menurut Walikota Distrik Yongsan di Seoul, Sung Jang-hyun, pemilihan ini sangat membutuhkan keseriusan dan kedewasaan masyarakat dengan mendukung petugas pemilu dan tidak melakukan protes atas instruksi yang telah diberikan. Sebelumnya, Korea Selatan memang belum pernah menunda pemilihannya, termasuk pemilihan presiden tahun 1952 – ketika sedang terjadi Perang Korea – sehingga pada tahun 2020 ini, pemilihan juga tetap diadakan di tengah pandemik, namun disertai dengan aturan-aturan khusus.

Setelah melakukan penghitungan suara, hasil pemilihan dimenangkan oleh Partai Demokrat – partai pemerintah – dengan 163 kursi dari total 300 kursi di Majelis Nasional. Salah satu partai koalisinya, the Platform Party juga memenangkan 17 kursi sehingga pemerintah memperoleh sekitar 180 kursi. Dari 35 partai yang mengirimkan kandidatnya, persaingan paling tinggi sejatinya terjadi antara Partai Demokrat dan partai oposisi konservatif yakni United Future Party. Partai oposisi sendiri memperoleh sekitar 103 suara. Hal ini cukup mengejutkan bagi masyarakat Korea Selatan karena ini adalah pertama kalinya dalam 16 tahun bahwa partai sayap kiri memenangkan mayoritas suara.

Sebelumnya, prospek kemenangan Presiden Moon sebenarnya tidak dalam posisi yang menguntungkan karena turunnya perekonomian domestik, diskusi dengan Korea Utara, dan tajuk-tajuk berita yang menyiarkan skandal politik salah satu menteri atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan. Korea Selatan juga sempat menjadi negara dengan outbreak COVID-19 yang kedua terparah setelah Tiongkok. Hal-hal tersebut kemudian berpengaruh terhadap dukungan masyarakat terhadap pemerintah. Akan tetapi, dalam kurun waktu beberapa bulan saja, pemerintah Korea Selatan berhasil melawan outbreak dengan melakukan tes massal, contact tracing, dan social distancing dalam pengawasan yang ketat hingga jumlah kasus baru semakin turun setiap harinya dari puncaknya sekitar 900 kasus per hari, kini berhasil dipertahankan hingga kurang dari 30 kasus per hari.

Keberhasilan Korea Selatan untuk melawan COVID-19 dengan cepat kemudian menarik perhatian dunia serta meningkatkan dukungan dari masyarakat Korea sendiri. Minseon Ku, seorang peneliti politik di Ohio State University mengatakan bahwa Presiden Moon telah berhasil mengubah pandemik menjadi suatu kesempatan bagi Korea untuk melakukan restrukturisasi ekonomi seperti kapitalisasi industri AI dan Biopharma. Selain itu, sejumlah pemimpin negara telah membuka diskusi dengan Korea Selatan terkait cara penanganan COVID-19. Oleh karenanya, diplomasi corona melalui rekognisi internasional yang dibawakan oleh Moon juga berhasil menarik dukungan publik. Menurut Gallup Polls, dukungan terhadap Moon pasca keberhasilannya mengatasi COVID-19 naik dari 41% menjadi 57% dalam beberapa bulan saja.

Di Korea Selatan, pandemik kemudian menjadi suatu fenomena yang memiliki nilai penting di baliknya dan telah menyita banyak perhatian publik sehingga isu-isu lain termasuk kritik dari pihak oposisi cenderung terabaikan. Dengan kata lain, kemenangan Presiden Moon dan partai koalisinya dalam pemilihan ini menunjukkan bahwa masyarakat menginginkan pemimpin yang stabil dan dapat dipercaya untuk mengendalikan negara di waktu krisis. Namun, kemenangan ini tetap harus dipertahankan karena dapat membahayakan pemerintah jika mengeluarkan kebijakan yang tidak demokratis dan merugikan rakyat.

Referensi:

Kim, Jeongmin. 2020. “South Korea’s Ruling Party on Course to Win Legislative Election: Exit Polls” [online] tersedia dalam https://www.nknews.org/2020/04/south-koreas-ruling-party-on-course-to-win-legislative-elections-exit-polls/ [diakses 16 April 2020]

Lee, jihye dan Kong, Kanga. 2020. “South Korean Leader Wins Big in Election During Pandemic” [online] tersedia dalam https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-04-14/south-korea-s-virus-election-may-provide-model-for-other-leaders [diakses 16 April 2020]

McCurry, Justin. 2020. “South Korea’s Ruling Party Wins Election Landslide Amid Coronavirus Outbreak” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/apr/16/south-koreas-ruling-party-wins-election-landslide-amid-coronavirus-outbreak [diakses 16 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti