Di dalam Studi Hubungan Internasional terdapat berbagai teori dan pendekatan yang digunakan untuk menganalisis sistem, struktur, dan fenomena yang ada dalam skala internasional. Teori yang baik adalah teori yang dapat menjelaskan aktivitas politik dalam berbagai tingkatan (Lebow, 2008). Selain itu, teori dalam Hubungan Internasional juga digunakan untuk mengidentifikasi masalah baru, memodifikasi teori yang lama, dan membentuk program baru yang efektif. Hubungan Internasional sendiri sejatinya merupakan akses dan tempat interaksi antar aktor politik untuk melakukan agregasi sosial yang meliputi berbagai aspek kemanusiaan seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, edukasi, dan lain-lain. Untuk dapat memahaminya, banyak para akademisi yang mengatakan bahwa ilmu Hubungan Internasional tidak dapat dipahami secara holistik karena pola perilaku manusia memiliki tingkat dan dimensi yang hanya bisa dipelajari secara terpisah. Namun, Lebow (2008) beranggapan bahwa untuk memahami perilaku manusia dan interaksi antar aktor, tidak hanya penting untuk mendalami alasan mereka berperilaku demikian namun juga penting untuk melihat lingkungan tempat mereka berinteraksi serta faktor-faktor apa sajakah yang membentuk struktur tersebut.

Richard Ned Lebow (2008) dalam karyanya yang berjudul “A Cultural Theory of International Relations” memaparkan teorinya yang menitikberatkan fokusnya pada keberadaan tatanan dalam Hubungan Internasional dan motif-motif yang membentuk perilaku manusia. Hubungan Internasional sebagai tempat bertemunya para aktor menyebabkan munculnya kemungkinan akan terjadinya perang dan konflik antar entitas politik sehingga diperlukan tatanan atau keteraturan yang dapat menjaga perdamaian dunia. Adanya keteraturan dalam sistem internasional memiliki tingkat dan bentuk yang berbeda-beda sehingga dapat menjelaskan pola dan struktur dari perilaku manusia dalam sebuah masyarakat. Kondisi keteraturan yang dimaksud adalah keadilan yang diterapkan didalam tatanan masyarakat tanpa menghilangkan kebebasan, pilihan, dan perkembangan aktor (Lebow, 2008).  Lebow (2008) berpendapat bahwa teori dalam Hubungan Internasional kontemporer pada umumnya tidak dapat menjelaskan fenomena internasional secara keseluruhan dan menganggap pergerakan atau perubahan yang terjadi bersifat linear. Maka dari itu, teori besar yang ia kembangkan merupakan sebuah sketsa transhistoris terkait pola perilaku antar entitas-entitas yang ada, dengan tujuan untuk mengupas motif-motif tertentu dari perilaku manusia dan dinamika perubahan yang berhubungan dengan keteraturan, pengambilan resiko, dan kekacauan.

Teori Lebow berakar dari pemikiran Plato dan Aristoteles yang mengatakan bahwa perilaku manusia didasari oleh spirit, appetite, dan reason (Lebow, 2008). Namun, selain tiga motif tersebut, Lebow (2008) mengatakan bahwa terdapat ketakutan yang seringkali muncul dan memengaruhi pola perilaku individu. Berawal dari spirit yang banyak bicara mengenai harga diri dan posisi seseorang sehingga manusia menginginkan otonomi dan kebebasan diri agar tujuannya dapat tercapai. Untuk mendapatkan harga diri tersebut diperlukan sifat yang tidak egois dan pengorbanan tertentu meskipun membutuhkan biaya yang mahal dan kerugian dari segi material. Sedangkan appetite berkaitan dengan kekayaan material dan kenyamanan individu sebagai dasar dan tujuan utama dari aktivitas antar manusia. Appetite dianggap sebagai suatu hal yang berbahaya dan dapat mengarahkan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak rasional seperti kecurangan dan sifat materialistik. Spirit dianggap penting karena dapat mendorong manusia untuk berpatisipasi dalam kehidupan sipil, sedangkan reason dianggap sebagai faktor yang terpenting karena dapat mengontrol appetite dan spirit untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Bagi Lebow (2008), masing-masing dari ketiganya memiliki logika berpikirnya sendiri agar dapat menjelaskan kerjasama, konflik, dan pengambilan resiko dalam society. Motif-motif ini berasal dari interaksi sosial dalam masyarakat yang kemudian dianggap sebagai sebuah sistem hirarkis yang mendasari perilaku manusia.

Lebow (2008) kemudian menganalisis ketiga motif tersebut melalui sejarah dunia sejak masa Yunani Kuno hingga masa Pemerintahan Bush. Lebow berusaha menjelaskan hubungan dan dampak dari motif yang mendasari perilaku individu hingga dapat memengaruhi sistem internasional. Dengan kata lain, perilaku individu dalam dunia internasional memiliki konsekuensi sistemik sehingga perlu dianalisis lebih lanjut dalam studi Hubungan Internasional. Di dalam dunia kontemporer, teori-teori Hubungan Internasional seperti Liberalisme dan Marxisme yang banyak berfokus pada penggunaan appetite sebagai tujuan utama manusia serta memiliki bentuk dunia idealnya sendiri, berbeda dengan teori Lebow yang juga memperhitungkan peran aktor didalamnya. Bagi Lebow, negara merupakan entitas tidak bernyawa yang materialistik, namun orang-orang yang menjalankannya pasti memiliki nilai-nilai yang ingin diperjuangkan, sehingga spirit yang dapat menjadi dasar perilaku sebuah negara. Dengan kata lain, kepemimpinan, perilaku kaum elit, dan kesempatan yang dimiliki oleh seorang agen dapat membentuk keteraturan dalam sistem internasional pula (Lebow, 2008). Disamping itu, terdapat Konstruktivisme merupakan teori yang dianggap paling mendekati pendekatan holistik terkait Hubungan Internasional karena berbicara mengenai peran masyarkat dalam membentuk pemikiran aktor dan keputusannya namun belum bisa menjelaskan bagaimana sistem yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri. Lebow (2008) sependapat dengan kaum konstruktivis yang mengatakan bahwa masyarakat tidak hanya memberi kultur dan ideologi sebagai dasar dari sikap rasional individu namun juga identitas yang memberi arti atas kehidupannya.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa Richard Lebow menunjukkan adanya kelemahan dalam teori-teori Hubungan Internasional yang dianggap tidak dapat menjelaskan pergeseran pada pola perilaku manusia karena menganalisisnya secara terpisah, tidak secara keseluruhan. Lebow kemudian menggunakan pemikiran Plato dan Aristotles terkait tiga motif yang mendasari perilaku manusia yakni spirit, appetite, dan reason. Perilaku individu sendiri dianggap penting karena memiliki konsekuensi sistemik yang dapat memengaruhi dinamika dalam sistem internasional. Lebow kemudian menganalisis ketiga motif tersebut dan mengaitkannya dengan sejarah dunia sejak Yunani Kuno hingga masa pemerintahan Bush. Penulis beropini bahwa sikap rasional yang dimiliki manusia dapat muncul karena sebuah proses yang didasari oleh faktor-faktor tertentu dan berbeda dalam setiap masyarakat sehingga untuk menganalisisnya diperlukan sebuah pemahaman mendalam dari berbagai aspek dalam kehidupan manusia.

Referensi:

Lebow, Richard Ned. 2008. “General Findings and Conclusions” dalam A Cultural Theory of International Relations, Cambridge: Cambridge University Press, pp. 505-570