Pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan bentuk pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh pihak Arab Saudi. Hal ini dikarenakan pembunuhan ini sadis, barbar, dan menyita perhatian komunitas internasional atas reputasi Khashoggi sebagai jurnalis ternama. Apabila merujuk pada definisinya, pelanggaran HAM berat secara internasional dan universal merupakan bentuk kriminalitas yang mengancam hidup seseorang dan sekelompok orang, serta dapat berupa mengakhiri kehidupan seseorang dan sekelompok orang (Maise, 2003). Meskipun memang pembunuhan ini hanya menghilangkan satu nyawa seseorang, kematian Khashoggi pun menyita perhatian komunitas internasional seperti Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Selain itu, negara Arab Saudi yang kurang memperhatikan HAM warga negaranya sendiri, terlepas dari kecurigaan dunia akan keterlibatan pemerintah terhadap pembunuhan Khashoggi. Kematian yang menyita perhatian komunitas internasional serta absensi pemerintah dalam memperhatikan HAM warga negaranya ini pun menjadikan kasus pembunuhan Khashoggi sebagai pelanggaran HAM berat.

Awal mula peristiwa pembunuhan Jamal Khashoggi ini adalah pada hari Selasa, 2 Oktober 2018 Khashoggi mendatangi kantor konsulat Arab Saudi untuk kedua kalinya untuk mengurus dokumen perencanaan pernikahan Khashoggi dengan tunangannya yang berasal dari Turki, yaitu Hatice Cengiz (BBC, 2018). Pada pukul 13.14 waktu Turki, Khashoggi terakhir kali terlihat di kamera CCTV karena memasuki kantor konsulat dengan tunangannya yang menunggu di luar kantor. Cengiz menunggu Khashoggi selama sepuluh jam dan kembali lagi esok harinya untuk kembali menunggu Khashoggi. Khashoggi yang tidak pernah terlihat lagi oleh kamera CCTV keluar dari kantor konsulat pun akhirnya dinyatakan menghilang. Empat hari kemudian, pihak kepolisian Turki melaporkan bahwa ternyata Khashoggi dibunuh di dalam kantor konsulat (Cecil, 2018).

 Ternyata, Khashoggi dibunuh, disiksa dan dimutilasi di dalam kantor konsulat Arab Saudi dengan jasadnya yang langsung dikeluarkan dari kantor. Dugaan ini berdasarkan transkrip rekaman suara yang diberikan intelejen Turki atas hasil investigasinya. Transkrip yang diterjemahkan  ini diawali dengan Khashoggi yang memasuki kantor konsulat Arab Saudi dan bertemu dengan seseorang yang ia kenal. Khashoggi menanyakan apa yang ia lakukan disini. Setelah itu, pria yang ditanyai itu teridentifikasi sebagai Maher Abdulaziz Mutreb, mantan diplomat Arab Saudi serta intelejen yang bekerja untuk Pangeran bin Salman. Mutreb menjawab “Kau kembali”. Lalu, Khashoggi mengatakan “Kau tidak bisa melakukan itu” “Banyak orang menunggu di luar”.  Setelah itu, tanpa percakapan lanjutan, terdengar suara sekelompok orang mengepung Khashoggi dan Khashoggi yang memberontak. Berdasarkan transkrip rekaman tersebut, perkataan terakhir yang terdengar dari mulut Khashoggi adalah “Aku tidak bisa bernapas” berulang kali (Robertson, 2018). Transkrip suara tersebut berlanjut dengan suara teriakan, hembusan napas, hingga suara gergaji memotong tubuh. Reuters (2018) juga melaporkan bahwa dalam transkrip suara tersebut terdengar kalimat terucap yaitu “Aku tahu bagaimana cara memotong”. Tidak hanya Mutreb, transkrip suara tersebut mengidentifikasikan suara Dr. Salah Muhammad al-Tubaigy, kepala Dewan Ilmiah Forensik di Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi. Tubaigy terdengar memberikan saran kepada orang-orang dalam ruangan tersebut untuk mendengarkan musik untuk menutup suara pemotongan. Setelah adegan pemotongan tersebut, dalam transkrip terdengar suara Mutreb melakukan panggilan telepon sebanyak tiga kali sebagai upaya untuk mengabari seseorang dengan berkata “Ketua, semua sudah selesai” (Robertson, 2018).

Selain berdasarkan transkrip rekaman suara, bukti lain juga menunjukan bahwa pelaku pembunuhan tersebut adalah lima belas agen dari pemerintahan Arab Saudi. Lima belas agen yang dipimpin oleh Maher Abdulaziz Mutreb ini dilaporkan oleh koran pro-pemerintah dari Turki, yaitu Sabah, yang memberitakan Mutreb dan tim nya terlihat di kamera CCTV kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul pada hari Khashoggi menghilang (McKernan & Lyons, 2018). Sabah juga menyertakan beberapa foto berkaitan yang berisi Mutreb dan anggotanya pada berbagai tempat di hari yang sama. Salah satu foto yang diterbitkan oleh Sabah adalah foto Mutreb melihat hotel yang terletak di kawasan kantor konsulat Arab Saudi tersebut. Selain itu, Sabah juga menerbitkan foto Mutreb dan empat belas agennya yang terlihat di tempat pemeriksaan paspor untuk berangkat menaiki jet pribadi untuk meninggalkan Turki pada malam hari yang sama. Lima belas agen ini mayoritas merupakan agen-agen terdekat yang bekerja untuk keluarga kerajaan Saudi, termasuk opsir personal peringkat tinggi Pangeran Mohammad bin Salman serta ekspert forensik yang menjabat sebagai Kepala Dewan Ilmiah Forensik di Kementrian Dalam Negeri Arab Saudi.  (McKernan & Lyons, 2018).

Dari transkrip rekaman yang menjadi hasil investigasi intelejen Turki, transkrip rekaman tersebut diberikan dan diperdengarkan kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Erdogan mengomentari bahwa rekaman pembunuhan Jamal Khashoggi ini merupakan “true disaster” bagi intelejen Turki yang mendengarnya serta mengatakan bahwa hanya orang-orang yang terkena pengaruh heroin akan melakukan hal seperti itu (McKirdy, 2018). Erdogan pun memberikan rekaman tersebut kepada Arab Saudi, Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, dan Perancis hingga hampir semua negara-negara ini mempercayai bahwa Khashoggi memang dibunuh. Intelejen Turki beserta Erdogan pun juga menyimpulkan bahwa pembunuhan Khashoggi ini merupakan pembunuhan yang direncanakan meskipun memang jasad Khashoggi hingga saat ini belum ditemukan. Sedangkan dari pihak Arab Saudi sendiri pun sebelum ditemukannya bukti trabskrip menyangkal untuk mengetahui kematian tragis Khashoggi serta keterlibatan Arab Saudi akan pembunuhan ini. Pangeran bin Salman pun juga melaporkan bahwa Khashoggi sebenarnya telah meninggalkan kantor konsulat itu sendiri. Setelah dilakukan investigasi serta penemuan bukti keterlibatan Arab Saudi, pihak Arab Saudi pun mengakui bahwa Khashoggi memang terbunuh di dalam konsulat karena dicekik setelah pertengkaran dan perkelahian (Smith, 2018). Dengan komunitas internasional yang mempercayai keterlibatan Arab Saudi akan pembunuhan Khashoggi, Arab Saudi pun diawasi serta diberi tekanan ekonomi dan politik karena Arab Saudi yang juga menyangkal kesalahannya. Pihak Arab Saudi akhirnya menangkap delapan belas warga Arab Saudi termasuk lima belas yang melakukan pembunuhan terhadap Khashoggi serta akan memberikan hukuman mati kepada lima pelaku yang telah menginjeksi Khashoggi dengan sedative dengan dosis terlalu banyak serta memotong dan menyingkitkan jasadnya dari konsulat. Meski begitu, pemerintah Arab Saudi tetap menyangkal keterlibatan kerajaaan terhadap pembunuhan Khashoggi.

 Mengenal korban lebih jauh, Jamal Khashoggi ini merupakan seorang jurnalis asal Arab Saudi yang terkenal telah menyebarkan peristiwa-peristiwa besar seperti invasi Uni Soviet ke Afghanistan serta peran Osama bin laden pada organisasi pemberitaan Arab Saudi. Selama bertahun-tahun, Khashoggi cukup dekat dengan keluarga kerajaan Arab Saudi dan pernah menjabat sebagai penasihat pemerintahan (BBC, 2018). Pada tahun 2017, Khashoggi meninggalkan Arab Saudi sebagai bentuk pengasingan ke Amerika Serikat. Penyebab Khashoggi meninggalkan Arab Saudi adalah karena pemerintahan Arab Saudi melarang penerbitan tulisannya di kolom koran serta di Twitter. Selain itu, beberapa teman-teman jurnalis Khashogggi pun juga ditangkap oleh otoritas  Arab Saudi atas dasar penyebaran pendapat yang bertentangan dengan pandangan pemerintah (Khashoggi, 2017). Sepeninggal Khashoggi dari ke Amerika Serikat, Ia mulai menjadi kolumnis di Washington Post dan cukup “berani” mengkritik pemerintahan negaranya sendiri serta kebijakan milik Mohammmed bin Salman, Pangeran Arab Saudi yang menjadi pewaris utama takhta Raja Salman selanjutnya.

 Arab Saudi yang menganut sistem pemerintahan monarki absolut otoktatis menjadikan rezim yang diterapkan dalam pemerintahan Arab Saudi lebih kepada rezim dikator totalitarianisme dengan kerajaan yang memegang pemerintahan sepenuhnya. Rezim Kerajaan Arab Saudi yang cukup ketat ini juga meghasilkan negara Arab Saudi terkenal akan rekor HAM yang sangat buruk berdasarkan survey tahunan hak sipil dan politik Freedom House (Freedom House, 2010).  HAM di Arab Saudi cenderung buruk dikarenakan negara ini yang melegalkan penyiksaan dan hukum mati sebagai cara penghukuman aksi kriminalitas. Penyiksaan tersebut seperti amputasi tangan dan kaki serta cambuk. Meski beberapa kali ditentang oleh PBB akan sistem hukumnya yang tidak manusiawi, Arab Saudi membenarkan cara penghukumannya legal dikarenakan tradisi islam 1400 tahun yang lalu yang mengimplementasi hal yang sama. Menganut tradisi Islam yang ketat ini menjadikan hukum di Arab Saudi lebih mengacu kepada hukum Al-Quran, Sunnah serta Hukum Syariat Islam. Untuk itu, mencari bahwa Arab Saudi melakukan pelanggaran HAM berat yang menentang konstitusinya  ini cukup sulit karena minimnya poin HAM yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar Arab Saudi. Seperti yang disebutkan dalam pasal 26 yang menuliskan pemerintahan Arab Saudi melindungi HAM yang berdasarkan pada hukum Syariah. Jadi, untuk mencari bentuk pelanggaran hukum dan HAM berat  Arab Saudi dalam kasus ini dapat mengacu pada pelanggaran Arab Saudi kepada Al-Quran, hukum Syariat Islam dan Sunnah. Mengacu pada Al-Quran, membunuh merupakan perilaku haram berdasarkan ayat-ayat Al-Quran, seperti:

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan” (QS. Al Isra’:33)

 “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. “(QS. Al Isra’: 31)

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya.”(QS. Al Ma’idah:32)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (QS. Al Baqarah: 178)

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya.” (QS. Al Ma’idah: 45)

 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UDHR) adalah dokumen yang menjadi tonggak penting dalam sejarah hak asasi manusia. Dirumuskan oleh perwakilan dengan latar belakang hukum dan budaya yang berbeda dari semua wilayah di dunia, deklarasi ini diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB di Paris pada 10 Desember 1948 dalam resolusi Majelis Umum 217 A sebagai standar umum perlindungan HAM seluruh negara (United Nations, t.t). Meskipun Arab Saudi merupakan satu dari sedikitnya negara-negara yang mengikuti standar HAM internasional, kasus pembunuhan Khashoggi ini menarik perhatian internasional serta menimbulkan perdebatan terkait Arab Saudi yang melanggar hukum internasional. Agnes Callamard, perwakilan dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB menuliskan laporan kasus ini dengan mengomentari bahwa pembunuhan bagaimanapun itu tetap melanggar hukum internasional serta peraturan inti hubungan internasional, Selain itu, upaya Arab Saudi yang ingin terbebas dari kasus ini dengan memanfaatkan imunitasnya ini tidak dapat dibenarkan untuk melakukan tindakan kejahatan yang melanggar HAM (Khan, 2019). Oleh karena itu, perlu dicantumkan pasal-pasal Deklarasi Universal HAM yang dilanggar Arab Saudi dengan membunuh Jamal Khashoggi.

Pasal 2

Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain.

Selanjutnya, tidak akan diadakan pembedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilyah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan yang lain.

Pasal 3

Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai induvidu.

Pasal 5

Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau dikukum secara tidak manusiawi atau dihina.

Pasal 9

Tidak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang dengan sewenang-wenang.

Pasal 12

Tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya atau hubungan surat menyuratnya dengan sewenang-wenang; juga tidak diperkenankan melakukan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya. Setiap orang berhak mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan atau pelanggaran seperti ini.

Pasal 13

(1) Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas-batas setiap negara.

(2) Setiap orang berhak meninggalkan suatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan berhak kembali ke negerinya.

Pasal 19

Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apa pun dan dengan tidak memandang batas-batas.

Pasal 28

Setiap orang berhak atas suatu tatanan sosial dan internasional di mana hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang termaktub di dalam Deklarasi ini dapat dilaksanakan sepenuhnya

Penjelasan dari pelanggaran pasal deklarasi universal HAM oleh Arab Saudi ini adalah bahwa Arab Saudi telah melanggar pasal 2  dan 28 sebagai inti pentingnya HAM untuk seluruh warga masyarakat negara. Pelanggaran pasal 2 dan 28 dikarenakan  Khashoggi berhak mendapatkan hak yang dicantumkan dalam deklarasi ini tanpa melihat Ia berasal dari negara yang menolak Deklarasi Universal HAM ini. Lalu, pasal 3 dan 5 ini terlanggar karena berkaitan dengan mekanisme pembunuhan Khashogi. Pasal 3 dilanggar dikarenakan Arab Saudi telah menghilangkan nyawa Khashoggi yang mana hak Khashoggi untuk hidup dan bebas pun telah diambil. Lanjut pada mekanisme pembunuhannya, Sedangkan pasal 5 terlanggar dikarenakan Khashoggi yang justru disiksa secara kejam dengan dicekik, diinjeksi, serta dimutilasi hingga tewas. Selain itu, Arab Saudi melanggar pasal 9, 12, 13 ini dikarenakan perbuatan Arab Saudi yang menarik Jamal Khashoggi ke konsulat di Istanbul dengan Khashoggi yang seharusnya mengurusi urusan pribadinya. Pasal 9 terlanggar karena Khasoggi yang hilang beberapa hari dalam kantor konsulat ini dapat disebut penangkapan. Lalu, pasal 12 terlanggar karena Arab Saudi telah mengganggu dan menghalangi Khashoggi yang mengurus urusan pribadinya untuk menikah. Sedangkan pasal 13 terlanggar karena Khashoggi dipaksa untuk kembali ke Arab Saudi yang mana Khashoggi menolak sehingga berakhir terbunuh. Terakhir, pasal 19 ini dilanggar oleh Arab Saudi karena dugaan penyebab utama Arab Saudi membunuh Khashoggi adalah karena Arab Saudi yang menentang kritikan yang dituliskan oleh Khashoggi terhadap pemerintahan Arab Saudi.

Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa kasus pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh pihak Arab Saudi. Meskipun jasad Khashoggi yang belum ditemukan, atau meskipun pemerintah masih menyangkal akan keterlibatan kerajaan dalam pembunuhan ini, bukti-bukti telah menunjukan bahwa tersangka 15 pembunuh Khashoggi memang berasal dari Arab Saudi, yang memperkuat dugaan absensi keprihatinan pemerintah Arab Saudi akan HAM warga negaranya. Selain itu, lima pembunuh yang seharusnya dihukum mati oleh pemerintah Arab Saudi dan nyatanya belum dieksekusi, memperkuat kecurigaan dunia akan keterlibatan pemerintah Arab Saudi yang pada dasarnya mempraktikan hukum mati untuk pelaku kriminalitas. Membahas pelanggaran HAM berdasarkan konstitusi Arab Saudi, cukup sulit mengkonsiderasi Arab Saudi melanggar konstitusi negaranya sendiri dengan minimnya poin HAM dalam konstitusinya.  Meski begitu, Arab Saudi yang mengacu pada Al-Quran, Sunnah dan hukum Syariat Islam  serta menerapkan tradisi Islam pun pada nyatanya telah melanggar ayat-ayat suci Al-Quran yang menuliskan larangan pembunuhan serta penyiksaan. Selain itu, penulis menyertakan Deklarasi Universal HAM PBB untuk menjadikan acuan pelanggaran HAM berat secara universal. Artinya, seluruh masyarakat dunia seharusnya mengakui bentuk-bentuk yang bertentangan dengan pasal Deklarasi Universal HAM PBB sebagai pelanggaran HAM, terutama pelanggaran HAM berat. Seluruh masyarakat dunia yang terancam hidup dan jiwanya secara sengaja sudah merupakan pelanggaran HAM berat yang harus diterima dan diakui oleh seluruh negara di dunia, baik untuk negara-negara yang telah menerima Deklarasi Universal HAM PBB maupun negara-negara yang menentangnya dan malah menjadikan hal ini sebagai suatu imunitas pemerintah ketika pemerintah mengancam atau mendukung perancaman hidup masyarakatnya.

Referensi:

BBC, 2019. “Jamal Khashoggi: All you need to know about Saudi journalist’s death”, [Online] Dalam: https://www.bbc.com/news/world-europe-45812399 [Diakses 2 Juni 2019]

Cecil, Nicholas. 2018. “Jamal Khashoggi: Saudi journalist ‘cut up with bone saw in Pulp Fiction murder at consulate in Istanbul’”, [Online] Dalam: https://www.standard.co.uk/news/world/jamal-khashoggi-saudi-journalist-cut-up-with-bone-saw-in-pulp-fiction-murder-inside-consulate-in-a3958256.html [Diakses 2 Juni 2019]

Freedom House. 2010. Worst of the Worst 2010: The World’s Most Repressive Societies. Freedom House.

Khan, Shebab. 2019. “Khashoggi murder ‘planned and perpetrated by Saudi officials’, says UN human rights expert, [Online] Dalam: https://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/jamal-khashoggi-murder-saudi-arabia-united-nations-un-report-human-rights-council-ochr-a8768896.html [Diakses 5 Juni 2019]

Khashoggi, Jamal. 2017. “Saudi Arabia wasn’t always this repressive. Now it’s unbearable”, [Online] Dalam: https://www.washingtonpost.com/news/global-opinions/wp/2017/09/18/saudi-arabia-wasnt-always-this-repressive-now-its-unbearable/?utm_term=.e3b259775e54 [Diakses 2 Juni 2019]

Maise, Michelle. 2003. “Human Rights Violations”, [Online] Dalam: https://www.beyondintractability.org/essay/human_rights_violations%20 [Diakses 6 Juni 2019]

McKernan, Bethan & Kate Lyons. 2018. “Khashoggi suspects: Turkish newspaper publishes fresh images”, [Online] Dalam: https://www.theguardian.com/world/2018/oct/18/jamal-khashoggi-suspects-turkish-newspaper-sabah-fresh-images-saudi-arabia [Diakses 2 Juni 2019]

McKirdy, Euan. 2018. “Erdogan: Audio recording of Khashoggi killing is a ‘true disaster’”, [Online[ Dalam: https://edition.cnn.com/2018/11/13/middleeast/khashoggi-recording-nyt-intl/index.html [Diakses 5 Juni 2019]

Reuters, 2018. “Khashoggi killer heard saying ‘I know how to cut’ on audio – Erdoğan, [Online] Dalam: https://www.theguardian.com/world/2018/dec/14/khashoggi-killer-heard-saying-i-know-how-to-cut-on-audio-erdogan [Diakses 3 Juni 2019]

Robertson, Nic. 2018. “’I can’t breathe.’ Jamal Khashoggi’s last words disclosed in transcript, source says, [Online] Dalam: https://edition.cnn.com/2018/12/09/middleeast/jamal-khashoggi-last-words-intl/index.html [Diakses 3 Juni 2019]

Smith, Saphora. 2018. “Saudi Arabia now admits Khashoggi killing was ‘premeditated’”, [Online] Dalam: https://www.nbcnews.com/news/world/saudi-arabia-now-admits-khashoggi-killing-was-premeditated-n924286 [Diakses 5 Juni 2019]

United Nations, t.t. “Universal Declaration of Human Rights”, [Online] Dalam: https://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/index.html [Diakses 5 Juni 2019]

Ditulis oleh: Dwijaya Shaviola, Universitas Airlangga, dwijayashaviola@gmail.com