Pekan lalu, Korea Utara meluncurkan dua peluru yang diperkirakan sebagai rudal balistik jarak pendek ke wilayah perairan pesisir timur dari Semenanjung Korea, berdasarkan laporan dari pihak militer Korea Selatan. Kepala staff gabungan Korea Selatan mengatakan bahwa peluncuran tersebut dilakukan pada pukul sekitar 6:45 dan 6.50 di pagi hari dari wilayah Sonchon, Korea Utara bagian barat. Kedua rudal tersebut diperkirakan telah bergerak sejauh 410 kilometer dengan titik tertinggi 50 kilometer sebelum akhirnya mendarat di perairan luar zona ekonomi eksklusif Jepang. Pihak Korea Selatan mengatakan lebih lanjut bahwa mereka akan terus memantau pergerakan Korea Utara, utamanya terkait kemungkinan adanya peluncuran susulan oleh Kim Jong Un.

Tindakan peluncuran tersebut kemudian dipandang sebagai tindakan yang tidak pantas oleh sejumlah perwakilan negara-negara di dunia karena dilakukan di tengah situasi pandemi akibat virus COVID-19. Korea Utara dipandang sedang memanfaatkan keadaan dengan meningkatkan kapabilitas militernya karena kecil kemungkinan untuk membatalkan pengiriman bantuan internasional setelah peluncuran, kemudian Tiongkok dan Rusia akan menolak untuk mengetatkan sanksi, serta Amerika Serikat dan Korea Selatan sedang fokus pada negosiasi cost sharing dari pertahanan dan COVID-19. Bagi masayarakat domestiknya, Kim menunjukkan kekuatannya untuk mengatasi ancaman eksternal dengan peluncuran tersebut. Sedangkan dengan pihak luar, ia berusaha untuk mendapatkan kembali eksistensinya di tingkat global. Dengan demikian, Kim Jong Un menganggap saat ini adalah masa yang tepat untuk mengaktifkan kembali program percobaan nuklirnya.

Menilik lebih dalam, peluncuran tersebut merupakan percobaan nuklir yang ketiga pada bulan Maret ini, setelah lebih dari dua bulan vakum. Sebelumnya, peluncuran serupa juga telah dilakukan pada tanggal 2 dan 9 Maret lalu. Menteri pertahanan Korea Selatan mengatakan bahwa ia mendeteksi adanya sejumlah tipe rudal yang berbeda datang dari wilayah Shondok di Korea Utara. Peluncuran tersebut kemungkinan merupakan bagian dari pelatihan militer yang didalamnya terdapat latihan peluncuran beberapa tipe roket yang berbeda. Media kenegaraan Korea Utara menuliskan bahwa pelatihan militer telah diadakan sejak tanggal 28 Februari, tepat satu tahun setelah pertemuan Kim dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang berakhir sia-sia tanpa kesepakatan. Pada bulan Maret kemudian Kim mulai meluncurkan dua rudal asing dari wilayah Wonsan, sekitar 65 kilometer dari Sondok. Pihak Amerika Serikat mengatakan bahwa Amerika akan terus memantau Korea Utara untuk menghindari provokasi terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB dan berupaya untuk mengembalikan negosiasi yang substantif dan berkelanjutan agar dapat mencapai kesepakatan denuclearization sepenuhnya.

Sebelumnya, percobaan terakhir Kim dilakukan di tahun 2019 setelah gagalnya kesepakatannya dengan Trump. Pada saat itu, Trump mengatakan bahwa percobaan-percobaan yang dilakukan Kim adalah “standar” dan tidak membahayakan Amerika Serikat secara langsung. Meski demikian, percobaan-percobaan tersebut dapat mengancam Korea Selatan dan 28.000 tentara Amerika di dalamnya. Sejatinya Kim telah memperingatkan Amerika dan memberikan waktu hingga akhir tahun 2019 untuk membicarakan kemungkinan terjadinya denuclearization dengan memberikan sejumlah syarat-syarat yang harus dipenuhi. Namun bungkamnya Amerika kemudian mendorong Kim untuk mengumumkan di awal tahun 2020 bahwa Korea Utara akan melakukan deterrence nuklir dan tidak akan mengikuti aturan pembatasan percobaan senjata-senjata mayor. Ia juga mengatakan akan menggunakan senjata strategis model baru di masa depan yang diperkirakan sebagai Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) atau Submarine Launched Ballistic Missile (SLBM) oleh para ahli.

Dalam kondisi saat ini, meski dipandang tidak pantas, Korea Utara tetap meluncurkan percobaan rudalnya. Terkait virus COVID-19 sendiri pihak pemerintah Korea Utara mengklaim bahwa belum terdapat satu pun kasus penderita corona di negaranya, meski terdapat sejumlah ahli yang meragukan hal ini, mengingat Korea Utara berbatasan langsung dengan Tiongkok –aliansi utama dan wilayah awal penyebab virus- dan Korea Selatan yang sempat mengalami outbreak terparah di dunia. Setelah berita outbreak terjadi di Tiongkok pada bulan Januari, Kim mengatakan bahwa Korea Utara segera menutup perbatasan, mengkarantina semua warga asing, dan mengisolasi orang-orang dengan gejala corona untuk mencegah penyebaran, mengingat kapabilitas medis Korea Utara cukup terbatas. Peluncuran rudal kemudian menunjukkan adanya kepercayaan diri dari Korea Utara bahwa negaranya dapat mengatasi penyebaran virus COVID-19 dan aman dari situasi pandemi yang ada.

Namun di sisi lain, salah satu media Korea Selatan, NK News, melaporkan bahwa setidaknya terdapat sekitar 200 tentara Korea Selatan yang meninggal akibat corona dan 4000 lainnya dalam proses karantina. Dituliskan lebih lanjut oleh Yonhap News Agency bahwa Korea Utara telah mengkarantina lebih dari 10.000 warga atas dugaan corona namun telah membebaskan sekitar 4000 di antaranya karena tidak menunjukkan gejala-gejala lanjutan. Surat kabar Korea Selatan, Dong-a Ilbo kemudian menuliskan bahwa dalam menghadapi hal ini, pemerintah segera melakukan eksekusi pada orang-orang yang terjangkit virus COVID-19. Meski demikian, berita-berita tersebut tidak menghasilkan konfirmasi maupun respon resmi apa pun dari pemerintah Korea Utara.

Referensi:

Lee, Joyce. 2020. “South Korea Says Detected North Korea Missile Fire ‘inappropriate’ amid Coronavirus” [online] tersedia dalam https://www.reuters.com/article/us-northkorea-missiles/south-korea-says-detected-north-korea-missile-fire-inapproriate-amid-coronavirus-idUSKBN2173MB [diakses 21 Maret 2020]

Mahbubani, Rhea. 2020. “Almost 200 North Korean Soldiers have Reportedly Died from the Coronavirus, while Thousands More are in Quarantine. The Government won’t Acknowledge they even Exist” [online] tersedia dalam https://www.businessinsider.sg/almost-200-north-korean-soldiers-died-coronavirus-2020-3?r=US&IR=T [diakses 21 Maret 2020]

Seo, Yoonjung, et al. 2020. “North Korea Launches Unidentified Projectiles for Second Time in Two Weeks” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/03/08/asia/north-korea-launch/index.html [diakses 21 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti