Berdasarkan keputusan bersama oleh Presiden the International Olympic Committee, Thomas Bach, dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pada akhirnya Olimpiade Tokyo 2020 diundur hingga setidaknya musim panas 2021 karena situasi pandemi akibat virus COVID-19 saat ini. Abe mengatakan bahwa acara olahraga terbesar di dunia yang sebelumnya akan dilaksanakan pada tanggal 24 Juli tersebut tidak akan dibatalkan, namun hanya ditunda hingga situasi sudah kembali kondusif. Ia menambahkan bahwa ia mendukung penuh penundaan ini dan sepakat untuk terus bekerja sama dengan IOC agar olimpiade tetap akan berjalan sepenuhnya dan dapat dipandang sebagai simbol kemenangan manusia atas virus corona. Kedua pihak juga sepakat bahwa olimpiade tersebut akan tetap dinamakan Tokyo 2020 meski telah ditunda hingga 2021. Dengan lebih dari 400.000 kasus positif corona di seluruh dunia dan himbauan untuk melakukan social distancing, maka tampaknya tidak terdapat pilihan lain selain menunda Olimpiade Tokyo 2020.

Sepanjang sejarah penyelenggaraan olimpiade global sejak tahun 1894, penundaan merupakan hal yang baru dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 1916, 1940, dan 1944, olimpiade dibatalkan dikarenakan situasi Perang Dunia I dan II yang tidak aman. Namun, dalam keadaan damai, penundaan Tokyo 2020 merupakan yang pertama kali dilakukan. Sebelumnya olimpiade berhasil diselenggarakan di tengah krisis finansial, pasca serangan teroris, dan pasca penggulingan pemerintah. Olimpiade hampir selalu berhasil menyatukan para pemuda dan penikmat olahraga di seluruh dunia untuk berkumpul dan menyaksikan kejuaraan tersebut. Hal ini kemudian menunjukkan betapa gentingnya situasi pandemi saat ini dan membuat para penyelenggara olimpiade memutuskan untuk menunda acara olahraga yang begitu besar, rumit, dan mahal tersebut.

Lebih lanjut, keputusan ini tentu bukanlah keputusan yang mudah. Bagi pihak negara penyelenggara –dalam hal ini Jepang- tentu mengalami kerugian yang cukup besar. Pembangunan stadium, kolam renang, hingga ruang ganti berstandar internasional yang khusus dibangun untuk olimpiade kemudian harus tetap beroperasi meski tidak digunakan. Tidak hanya itu, kontrak dengan perusahaan transportasi, iklan, dan sponsor juga kemudian memerlukan perpanjangan kontrak dan kesepakatan lebih lanjut. Meski pihak IOC mengatakan bahwa tidak terdapat pembicaraan terkait keuangan dan biaya dengan Abe, namun hal ini menjadi hal yang cukup mengkhawatirkan bagi sejumlah pihak. Abe mengatakan bahwa kesehatan para atlet dan masyarakat internasional adalah prioritas saat ini agar mereka dapat fokus pada penjagaan kesehatan masing-masing.

Beberapa ahli mengatakan bahwa sejatinya Jepang mampu untuk mengatasi kerugian akibat penundaan ini, bahkan dapat membuat Tokyo Games sendiri jika mereka menghendaki. Penundaan sepanjang satu tahun akan membutuhkan biaya sekitar 641 milyar yen atau 5,8 milyar dolar, berdasarkan perkiraan yang dikeluarkan oleh Katsuhiro Miyamoto, seorang professor ternama di Kansai University, Japan. Dalam persiapan penyelenggaraan Tokyo 2020 sendiri, sejauh ini Jepang telah mengeluarkan sekitar 26 milyar dolar. Tanpa adanya urang lebih 600.000 masyarakat asing dan lebih dari 11.000 atlet yang diharapkan untuk datang, olimpiade ini telah membahayakan ekonomi Jepang, dengan penurunan sebesar 7,1% dalam tiga bulan terakhir.

Selain itu, bagi pihak-pihak lain, penundaan ini juga merugikan. Para atlet yang telah berlatih selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, terpaksa harus turut mengatur ulang jadwalnya. Beberapa atlet kemudian tidak akan mengalami masa puncaknya lagi tahun depan, beberapa bahkan dapat terluka dalam kurun waktu penundaan ini. Para atlet juga memiliki kebutuhan yang tidak sedikit karena mereka harus tetap berlatih serta membutuhkan lawan, pelatih, staf medis, dan nutrisi yang cukup sehingga penundaan ini juga bukanlah sesuatu yang mudah bagi para atlet.

Akan tetapi, terdapat pula pandangan bahwa kerugian ini hanya bersifat sementara karena ketika olimpiade berhasil diadakan tahun depan, maka Jepang akan mengambil keuntungan yang besar. Hal ini berkaitan dengan simbol yang dapat dibentuk yakni sebagai simbol kemenangan manusia atas virus corona dan awal mula babak baru pasca berakhirnya pandemi. Setelah melakukan social distancing dan upaya-upaya menjaga kesehatan oleh tiap individu selama pandemi, pada akhirnya Tokyo 2020 diharapkan menjadi acara yang akan ditunggu-tunggu dan menarik bagi masyarakat internasional dari berbagai penjuru dunia. Akhir kata, Olimpiade Tokyo 2020 yang akan diselenggarakan di tahun 2021 mendatang diharapkan akan menjadi pemersatu dan pembakar semangat pasca pandemi virus corona yang saat ini tengah menjadi perang bersama bagi seluruh manusia di dunia.

Referensi:

Fordyce, Tom. 2020. “Tokyo 2020: The Right Decision, Made Just in Time” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/sport/olympics/52026512 [diakses 25 Maret 2020]

Herskovitz, Jon. 2020. “Tokyo Olympics Delayed a Year as Virus Wipes Out 2020 Plans” [online] tersedia dalam https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-03-24/japan-s-abe-seeks-to-delay-tokyo-olympics-by-one-year-nhk-says [diakses 25 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com