Hingga akhir Perang Dunia II, wilayah Asia Tenggara dikenal sebagai wilayah jajahan bangsa Barat yang terbukti dari mayoritas wilayahnya selain Thailand mengalami fase-fase kolonialisme. Salah satu faktor yang dianggap mengakhiri fase kolonialisme di Asia Tenggara adalah munculnya paham nasionalisme di kalangan warga indigenous masing-masing wilayah. Kemunculan nasionalisme ini pada akhirnya menyebabkan terbentuknya nation-state yang berdaulat. Terlepasnya wilayah Asia Tenggara dari belenggu kolonialisme kemudian menyebabkan negara-negara hegemon berusaha untuk memberikan pengaruh ke wilayah tersebut untuk memenuhi kepentingan nasional masing-masing. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai dinamika nasionalisme di Asia Tenggara beserta pengaruh negara-negara hegemon di wilayah tersebut.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai dinamika nasionalisme di Asia Tenggara, perlu adanya definsi yang jelas mengenai nasionalisme itu sendiri. Menurut Coulombis dan Wolfe (1999), nasionalisme merupakan pemahaman identitas individu atas dasar persamaan unsur-unsur politik dalam satu wilayah teritori yang sama. Gellner dalam Halliday (1997) mendefinisikan nasionalisme sebagai sebuah dasar politik dimana sebuah bangsa harus memanfaatkan aspek-aspek politik dalam bertindak. Meskipun tidak ada definisi yang pasti mengenai nasionalisme, secara sederhana nasionalisme dapat dipahami sebagai perasaan sense of belonging seorang individu terhadap instansi politik berupa negara yang didasari oleh beberapa faktor termasuk persamaan bangsa dan teritori.

Menurut Llobera (1999), terdapat tiga teori utama dalam nasionalisme. Teori pertama adalah teori universalisme yang terdiri dari perspektif primordialism dan sociobiologism. Teori universalisme menganggap bahwa nasionalisme terbentuk karena adanya faktor-faktor yang bersifat given karena seorang individu telah ditempatkan pada suatu etnis, bangsa, dan kewarganegaraan tertentu saat lahir yang kemudian membentuk lapisan persaudaraan antar sesamanya. Teori kedua adalah teori modernisme yang menyatakan bahwa nasionalisme terbentuk karena masyarakat mengalami proses modernisasi dari yang bersifat tradisional menjadi masyarakat yang bersifat modern. Masyarakat modern mendapatkan pengaruh-pengaruh kultur, politik, dan ekonomi yang kemudian menciptakan identitas dirinya melalui nasionalisme. Teori ketiga adalah teori evolusionalisme yang menyatakan bahwa konsep nasionalisme yang dipahami sekarang merupakan hasil pemahaman ulang dari konsep nasionalisme abad pertengahan yang didorong oleh adanya modernisasi.

Dalam studi Hubungan Internasional, nasionalisme memiliki keterkaitan dengan sikap self-determination. Kemunculan nasionalisme di suatu bangsa menyebabkan adanya tendensi untuk melakukan aksi-aksi yang bersifat self-determination dengan cara menciptakan sebuah nation-state berdaulat yang terlepas dari intervensi pihak asing (Mayall, 1994). Dalam konteks Asia Tenggara, nasionalisme dibentuk dari adanya kolonialisme di wilayah tersebut yang kemudian menciptakan rasa sense of belonging atas dasar persamaan bangsa dan nasib. Kemudian dari adanya nasionalisme di masing-masing wilayah yang bersamaan dengan kemunculan nasionalisme di negara-negara bekas jajahan di seluruh dunia menyebabkan perasaan untuk menciptakan sebuah nation-state sendiri. Masing-masing wilayah memiliki cara masing-masing untuk menciptakan nation-state sendiri, seperti Indonesia yang melalui cara revolt atau Malaysia melalui pemberian kemerdekaan.

Dari adanya perkembangan nasionalisme dalam ruang lingkup kenegaraan, nasionalisme membentuk sebuah semangat baru dalam ruang lingkup regional. Jika melihat konteks sejarah pasca Perang Dunia II, dunia terbagi menjadi dua blok komunisme dan kapitalisme. Adanya dua kelompok hegemon tersebut dianggap sebagai bentuk imperialisme baru karena masing-masing blok ingin menguasai wilayah yang ada di dunia melalui penyebaran influence, termasuk di Asia Tenggara. Atas dasar persamaan nasib dari wilayah yang sama-sama mengalami fase kolonialisme dan menolak segala bentuk neo-kolonialisme dan neo-imperalisme, negara-negara Asia Tenggara kemudian membentuk ASEAN sebagai organisasi regional yang berperan sebagai blok ketiga yang independen dari campur tangan kedua blok tersebut (Khan, 2011).

Oleh karena itu, wilayah Asia Tenggara menjadi lahan perebutan pengaruh oleh negara-negara hegemon di dunia. Amerika Serikat sebagai negara superpower memiliki setidaknya dua interests di Asia Tenggara, yaitu dalam bidang politik dan ekonomi. Dalam bidang politik, wilayah Asia Tenggara berperan sebagai lokasi penempatan markas militer Amerika Serikat yang berkaitan dengan isu-isu keamanan di Tiongkok serta Timur Tengah. Dalam bidang ekonomi, selat Malaka memiliki arus perdagangan yang tinggi serta pasar Asia Tenggara yang relatif cukup besar untuk dikuasai multinational corporation Amerika Serikat. Dalam konteks Perang Dingin, baik Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadikan wilayah Asia Tenggara sebagai ladang kontestasi ideologi kapitalisme-komunisme. Tiongkok sebagai salah satu negara komunis dengan influence yang tinggi di Asia Tenggara juga turut berkontribusi dalam penyebaran paham komunisme melalui praktik diplomasi anti-imperialisme anti-kapitalisme sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Jepang juga memiliki interest tersendiri di Asia Tenggara terutama dalam bidang ekonomi yaitu adanya tendensi untuk perluasan pasar bagi produk-produk Jepang serta lahan investasi Jepang.

Dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa nasionalisme merupakan perasaan sense of belonging seorang individu terhadap instansi politik berupa negara yang didasari oleh beberapa faktor termasuk persamaan bangsa dan teritori. Terdapat tiga teori dalam nasionalisme, yaitu universalisme, modernisme, dan evolusionarisme. Keberadaan nasionalisme menyebabkan terbentuknya nation-state independen serta semangat anti-imperialisme. Maka dari itu, ASEAN dibentuk sebagai penolakan terhadap dua blok hegemon saat Perang Dingin yang dianggap sebagai bentuk baru dari imperialisme. Negara-negara hegemon pada era hingga 1980 umumnya memiliki interest di Asia Tenggara yang berkaitan dengan Perang Dingin.

Referensi:

Coulombis, T., & Wolfe, J., (1999). Introduction to International Relations: Power and Justice. Prantice Hall.

Halliday, J., (1997). Nationalism. Dalam J. Baylis & S. Smith The Globalization of World Politics (hal. 359-373). Oxford University Press.

Khan, A., (2011). The Cold War in SEA: Vietnam Conflict. International Journal of Business and Social Science, Vol 2, 155-171.

Llobera, J., (1999). Recent Theories of Nationalism. University College London.

Mayall, J., (1994). Nationalism in the Study of International Relations. Dalam A. Groom & M. Light Contemporary International Relations: A Guide to Theory. Pinter.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.