Pada tahun 2009, terjadi pertemuan antara salah empat pemimpin negara besar di Yekaterinburg, Rusia (BBC, 2009). Keempat negara tersebut adalah Rusia yang diwakili oleh Dmitry Medvedev, India yang diwakili oleh Manmohan Singh, Brazil yang diwakili oleh Luiz Inacio Lula da Silva, serta Tiongkok dengan Hu Jintao. Pertemuan ini merupakan pertemuan resmi pertama dari BRIC yang merupakan asosiasi multinasional yang secara terminologi pertama kali diungkapkan oleh Jim O’Neill pada tahun 2001 yang pada awalnya hanya merujuk pada kekuatan ekonomi negara-negara tersebut (O’Neill, 2001). Pada tahun 2010, BRIC berkembang menjadi BRICS setelah Afrika Selatan bergabung pada asosiasi tersebut mengingat penamaan tersebut merupakan hal penting yang didasari dari akronim negara-negara anggotanya. BRICS sendiri terdiri dari negara-negara penting dengan kapabilitas ekonomi tinggi yang semuanya termasuk dalam keanggotaan G-20. Berdasarkan data IMF (2013), negara-negara BRICS memiliki jumlah gross domestic product sebesar 16,6 triliun Dolar Amerika Serikat atua setara 22% gross domestic product dunia. Secara populasi, negara-negara BRICS juga mewakili 40% dari seluruh penduduk dunia. Maka dari itu, keberadaan BRICS merupakan hal yang signifikan mengingat proporsi negara-negara di dalamnya yang cukup besar di dunia.

Di sisi lain, Brazil sendiri sebenarnya tidak asing dengan kerja sama antar negara maupun regionalisme sebelum BRICS. Mercosur merupakan salah satu regionalisme dimana Brazil memiliki peran penting di dalamnya. Mercosur merupakan organisasi regional Amerika Selatan yang berfokus pada integrasi ekonomi regional. Di dalamnya, Brazil memiliki peran penting sebagai salah satu negara besar dengan anggota lain yaitu Argentina, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela. Selain itu juga terdapat Bolivia, Peru, Chile, Kolombia, Ekuador, dan Suriname sebagai negara yang terasosiasi di dalamnya (Reuters, 2015).

Keterlibatan Brazil di BRICS merupakan sebuah fenomena yang menarik mengingat sebelumnya Brazil merupakan salah satu negara besar di Mercosur. Tidak menutup kemungkinan, kebijakan BRICS nantinya dapat bertentangan dengan kebijakan nasionalnya sendiri, kebijakan Mercosur, ataupun kebijakan ekonomi global. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai motif Brazil terlibat dalam BRICS. Penulis berpendapat bahwa keterlibatan Brazil tidak lepas dari kepentingan pragmatis ekonomi baik dalam skala nasional maupun skala global.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai topik tulisan ini, perlu dipahami dulu mengenai apa sebenarnya itu BRICS. Menurut Kranti Singh (2016), BRICS merupakan salah satu contoh dari neo-regionalisme meskipun berada dalam kawasan geografis yang berbeda. Konsep region yang digunakan dalam neo-regionalisme sendiri tidak hanya sebatas pada kawasan secara geografis namun dapat diidentifikasi dengan hal lain. Dalam hal ini, Singh (2016) berpendapat bahwa BRICS menggunakan konsep region yang didasari oleh faktor geopolitik dan juga ekonomi yang sama. Meski begitu, tujuan utama dari neo-regionalisme tidak jauh berbeda dengan regionalisme tradisional. Keduanya tetap bertujuan untuk menciptakan harmoni dalam kawasan masing-masing. Namun, BRICS masih belum berada dalam tahap yang matang dalam regionalisme mengingat proses terbentuknya yang masih baru sehingga integrasi yang terjadi masih belum seintens regionalisme-regionalisme pada umumnya seperti Uni Eropa maupun ASEAN (Singh, 2016).

Terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan mengapa negara ataupun regionalisme dapat terbentuk. Teori neoliberalis-institusionalisme menjelaskan bahwa regionalisme terbentuk karena adanya keinginan untuk membentuk aksi kolektif dalam negara-negara di dalam suatu region (Hennida, 2016). Institusi ini nantinya akan memberikan keuntungan bersama pada negara-negara anggotanya. Dengan mengorbankan beberapa aspek dalam kedaulatan nasional untuk mendapatkan integrasi kawasan, regionalisme tersebut nantinya memiliki kapabilitas yang besar untuk dapat mengatasi permasalahan-permasalahan regional. Teori lain adalah neorealisme yang memandang struktur dunia yang berupa anarki internasional. Neorealisme melihat bahwa akan selalu ada kompetisi di dalam dunia baik itu berupa kompetisi ekonomi merkantilis maupun politik. Selain itu, selalu ada negara hegemon ataupun ancaman bersama bagi negara-negara sehingga negara dapat bergabung dalam regionalisme tersebut untuk memenuhi kebutuhan akan national power maupun melawan dominasi negara hegemon tersebut.

Salah satu motif Brazil terlibat dalam BRICS adalah peluang perdagangan yang dapat diterima dalam forum tersebut. Menurut Stolte (2012), Brazil secara aktif meningkatkan tingkat partisipasinya di Afrika selama beberapa tahun terakhir, terlebih pasca masuknya Afrika Selatan dalam BRICS. Salah satunya adalah peningkatan jumlah kedutaan besar Brazil di Benua Afrika yang awalnya hanya 17 menjadi 37. Hal ini menunjukkan adanya intensi Brazil untuk meningkatkan pengaruhnya secara politik di Benua Afrika. Sebelum tergabung dengan BRICS, Brazil memang memiliki hubungan dengan beberapa negara Afrika yang tergabung dalam Community of Portuguese-Speaking Countries sehingga hubungan Brazil dan Afrika Selatan dalam BRICS dapat semakin meningkatkan relasi antara Brazil dengan Benua Afrika.

Menurut Vasilev (2015), pada dasarnya motif partisipasi Brazil dalam BRICS dapat dilihat secara ekonomi. Negara-negara yang tergabung dalam BRICS merupakan mitra strategis bagi Brazil. Hingga tahun 2012, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Brazil baik secara ekspor maupun impor. Sebanyak 41,2% produk ekspor Brazil ditujukan untuk Tiongkok serta produk Tiongkok sendiri merupakan 34,2% produk impor Brazil (Farah, 2013). India juga termasuk dalam sepuluh besar rekan dagang bagi Brazil dengan menempati urutan tujuh destinasi ekspor serta urutan sepuluh dalam proporsi impor Brazil. Brazil juga merupakan mitra dagang terbesar di Amerika Selatan bagi Rusia. Maka dari itu, rasional apabila Brazil bergabung dengan BRICS untuk meningkatkan hubungannya dengan negara-negara tersebut.

Jika dilihat lebih lanjut dalam jangka waktu 10 tahun dari 2002 hingga 2012, jumlah nilai perdagangan Brazil dengan Benua Afrika meningkat hingga enam kali lipat (Stolte, 2012). Meski begitu, jika dibandingkan nilai impor dan ekspor Brazil terhadap Afrika justru defisit karena Brazil melakukan impor lebih banyak dibanding Afrika. Sekilas, hal ini menunjukkan keanehan karena intensifikasi hubungan Brazil-Afrika justru terkesan tidak menghasilkan dan malah merugikan Brazil. Namun, Brazil ternyata memiliki strategi tersendiri terkait hubungan perdagangannya dengan Afrika. Pertama, Brazil mengelompokkan beberapa negara sebagai negara prioritas ekspor (Stolte, 2012). Negara-negara tersebut salah satunya adalah Afrika Selatan, Angola, dan Mesir. Setelah tergabung dengan BRICS, relasi Brazil dan juga Afrika Selatan jelas membantu proses ekspor dari Brazil ke Afrika Selatan sehingga hal ini jelas menunjukkan bagaimana bergabungnya Brazil ke BRICS dapat menguntungkan Brazil secara ekonomi. Umumnya produk ekspor Brazil merupakan produk agrikultur serta barang-barang manufaktur. Kedua, Brazil juga mengelompokkan beberapa negara sebagai negara prioritas impor. Negara-negara tersebut adalah Libya, Aljazair, dan juga Nigeria. Dari keseluruhan impor yang dilakukan oleh Brazil dari negara-negara tersebut, 90% di antaranya merupakan impor bahan mentah terutama minyak bumi serta barang-barang tambang lainnya (Stolte, 2012). Namun tidak hanya sekedar melakukan impor, Brazil juga melakukan investasi di kawasan tersebut sehingga pengaruh Brazil di Benua Afrika menjadi penting mengingat terdapat interdependensi di antara keduanya. Maka dari itu, hubungan Brazil dengan Afrika Selatan di BRICS merupakan salah satu langkah bagi Brazil untuk semakin mendekatkan diri dengan kawasan Afrika.

Selain itu menurut Kiely (2015), belakangan ini terdapat pola perpindahan pusat ekonomi dunia. Pada awalnya, pusat ekonomi dunia berada di wilayah utara dan juga barat sebagaimana dapat dilihat dari hegemoni ekonomi Amerika Serikat serta berkembangnya Eropa. Namun, terdapat transisi yang semakin lama menunjukkan bahwa kawasan selatan dan juga timur semakin lama semakin kuat secara ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana berkembangnya Tiongkok dan juga India sebagai salah satu perekonomian yang paling berkembang dibanding dengan negara-negara lain. Fenomena ini tentunya tidak dapat dilepaskan dari jumlah penduduk kedua negara tersebut yang besar sehingga memiliki pasar dan juga sumber daya manusia yang besar. Brazil sebagai salah satu negara yang diprediksi menjadi negara yang kuat secara ekonomi dengan alasan yang sama.

Dalam skala global, Brazil juga memiliki kepentingan sendiri di dalam BRICS. Menurut Kingah dan Quiliconi (2016), Brazil di bawah kepemimpinan Inacio Lula da Silva, Presiden Brazil yang terlibat sebagai inisiator BRIC, menjadi negara middle power yang memiliki kepemimpinan regional dan ambisi untuk mempengaruhi dunia secara global. Struktur kekuatan dunia yang awalnya berupa unipolar dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan utama mulai berubah setelah peristiwa 11 September 2001 menjadi multipolar. Meskipun Brazil masih jauh dari predikat negara super power, Brazil berhasil menempatkan diri sebagai negara middle power atau bahkan regional power. Menurut Kingah dan Quiliconi (2016), keberadaan Mercosur pada dasarnya tergantung pada keinginan Brazil. Maka dari itu, Brazil dapat disebut telah menjadi middle power yang memiliki kepemimpinan regional di kawasan Amerika Selatan.

Selain sebagai negara middle power yang memiliki kepemimpinan regional, Brazil juga dianggap memiliki ambisi untuk dapat mempengaruhi dunia secara global. Permasalahannya, middle power tidak memiliki kemampuan untuk mendominasi mengingat kapabilitasnya yang masih lemah dibanding negara-negara lain. Maka dari itu, Kingah dan Quiliconi (2016) berpendapat bahwa middle power akan cenderung bekerja sama dengan negara lain untuk dapat memenuhi kepentingan nasionalnya. Selama ini, Brazil telah berusaha untuk tidak hanya menjadi sekedar aktor yang terlibat di dalam perpolitikan global namun juga sebagai pemain utama. Di wilayah regional, Brazil telah berhasil mempengaruhi beberapa organisasi regional seperti Mercosur, UNASUR dan CELAC (Kingah & Quiliconi, 2016). Di dalam ruang lingkup global, Brazil juga dikenal sebagai negara mediator di antara negara-negara small power maupun middle power dan berperan aktif di G-20 maupun IMF. Jika dilihat, masuknya Brazil dalam aliansi BRICS sesuai dengan pendapat di atas. Sebagai middle power yang memiliki ambisi untuk mempengaruhi dunia secara global, bergabung dengan BRICS merupakan langkah yang strategis. Baik Brazil, India, maupun Afrika Selatan seringkali diprediksi sebagai negara yang akan menjadi negara dengan kapasitas ekonomi yang menguat di masa depan. Tiongkok dan Rusia di sisi lain telah menjadi salah satu kekuatan besar secara ekonomi maupun politik keamanan. Bergabungnya Brazil di BRICS tidak hanya mempertimbangkan masa depan, namun juga saat ini karena kapasitas negara-negaranya yang cukup kuat dan stabil tanpa harus bergabung dengan aliansi Eropa maupun Amerika Serikat (Kingah & Quiliconi, 2016).

Keberadaan Brazil di BRICS juga dapat dikaitkan dengan posisi pentingnya di kawasan Amerika Selatan. Sebagai sebuah middle power dengan kepemimpinan regionalnya, Brazil memiliki daya tawar lebih bagi negara-negara BRICS. Relasi ini berjalan dua arah, baik bagi Brazil di negara-negara BRICS maupun Brazil bagi negara-negara Amerika Selatan. Bagi negara-negara BRICS, Brazil yang memiliki pengaruh di Amerika Selatan dapat bermanfaat untuk menjalankan agenda-agenda BRICS sehingga negara-negara Amerika Selatan dapat sependapat dengan BRICS. Bagi negara-negara Amerika Selatan, Brazil dapat menjadi perwakilan Amerika Selatan untuk mengambil kebijakan mengingat Amerika Selatan umumnya sulit untuk diajak bekerja sama dan cenderung konfliktual (Vasilev, 2015). Maka dari itu, keberadaan Brazil sebagai pemimpin di Amerika Selatan dapat memberikan kemajuan dari sisi hubungan di luar kawasan Amerika Selatan itu sendiri.

Bergabungnya BRICS juga tidak dapat dilepaskan dari faktor mulai melemahnya Amerika Serikat secara ekonomi sebagai negara hegemon. Status negara super power tunggal semakin terancam oleh keberadaan Tiongkok yang memiliki perekonomian masif (Kiely, 2015). Selama ini, Brazil bersama negara-negara Amerika Selatan dianggap sebagai “halaman belakang” Amerika Serikat yang berarti menunjukkan posisinya yang akan selalu berada di bawah baying-bayang Amerika Serikat. Hal ini dapat dipahami dari adanya ketergantungan dari Amerika Selatan terhadap Amerika Serikat itu sendiri. Dengan semakin melemahnya Amerika Serikat, maka rasional apabila Brazil mencari rekan lain dalam konstelasi politik internasional. BRICS merupakan destinasi yang menarik karena anggota-anggotanya merupakan negara-negara yang berpotensi menjadi negara dengan perekonomian yang besar di masa depan namun juga disertai dengan kapabilitas ekonomi dan politik yang memadai saat ini.

Tidak hanya sekedar mencari rekan kerja sama selain Amerika Serikat, Brazil dalam BRICS juga memiliki tendensi untuk melawan Amerika Serikat itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pola kebijakan BRICS yang bertentangan dengan sistem yang telah ditetapkan oleh blok Amerika Serikat selama ini. Bersama dengan negara-negara BRICS, Brazil mendukung terbentuknya Asian Infrastructure Investment Bank AIIB yang disebut sebagai pesaing International Monetary Fund atau IMF (The BRICS Post, 2015). Selain itu, aliansi BRICS bergabung untuk dapat menjadi blok donatur di IMF terbesar dibanding dengan negara-negara lain namun dengan syarat restrukturisasi IMF. Untuk memperoleh pengaruh negara-negara lain, BRICS juga berupaya untuk menjadi negara donor bantuan luar negeri yang besar. Brazil sendiri turut berperan aktif dalam dua upaya di atas dengan menyumbangkan 400 juta hingga 1,2 miliar Dolar Amerika Serikat setiap tahunnya (Asia Pathways, 2013). Selain mendukung adanya AIIB, Brazil bersama BRICS juga mendirikan BRICS Bank sebagai penyeimbang World Bank. Pola kebijakan Brazil yang mendukung BRICS dalam menyelenggarakan hal-hal tersebut dapat disebut mendukung adanya perlawanan terhadap Amerika Serikat sebagai negara hegemon itu sendiri.

Dari penjelasan di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa motif bergabungnya Brazil ke dalam BRICS dapat dilihat dari dua hal. Pertama, dalam skala nasional yaitu kepentingan nasional yang pragmatis terkait dengan perekonomian negaranya. Dengan bergabung dengan BRICS, Brazil dapat menjalin kerja sama dengan baik dengan negara-negara anggota BRICS maupun Benua Afrika melalui Afrika Selatan. Kedua, dalam skala global yaitu keinginan Brazil untuk menjadi aktor penting dalam perpolitikan global. Brazil berupaya untuk menjadi negara yang berperan aktif dalam kawasan dengan menjadi middle power yang memiliki kepemimpinan regional di Amerika Selatan yang memanfaatkan sekaligus menjunjung kepentingan kawasan tersebut di BRICS. Selain itu, Brazil juga menunjukkan tendensinya untuk berpindah haluan dari yang semula berfokus ke Amerika Serikat menjadi ke negara-negara BRICS yang dianggap memiliki masa depan lebih menjanjikan.

Referensi:

Asia Pathways, (2013). BRICS countries emerging as major aid donors. [online] Asia Pathways. Tersedia di: https://www.asiapathways-adbi.org/2013/10/brics-countries-emerging-as-major-aid-donors/ [Diakses pada 1 Mei 2017].

BBC, (2009). Nations Eye Stable Reserve System. [online] BBC. Tersedia di: http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/8102216.stm [Diakses pada 1 Mei 2017].

Farah, Ana, (2013). Largest Trading Partners of Brazil. [online] The Brazil Business. Tersedia di: http://thebrazilbusiness.com/article/largest-trading-partners-of-brazil [Diakses pada 1 Mei 2017].

Hennida, Citra, (2016). Pendekatan dalam Studi Kawasan.

IMF, (2013). World Economic Outlook. [online] Tersedia di: http://www.imf.org/external/pubs/ft/weo/2013/01/weodata/weorept.aspx?pr.x=91&pr.y=5&sy=2011&ey=2018&scsm=1&ssd=1&sort=country&ds=.&br=1&c=223%2C924%2C922%2C199%2C534&s=NGDPD%2CNGDPDPC%2CPPPGDP%2CPPPPC&grp=0&a= [Diakses pada 1 Mei 2017].

Kiely, Ray, (2015). The BRICs, US ‘Decline’ and
Global Transformations
. Palgrave Macmillan.

Kingah, Stephen, & Quiliconi, Cintia, (2016). Global and Regional Leadership of BRICS Countries. Springer.

O’Neill, Jim, (2001). Building Better Global Economic BRICs. Goldman Sachs.

Reuters, (2015). Bolivia to join Mercosur as full member. [online] Reuters. Tersedia di: http://www.reuters.com/article/brazil-mercosur-bolivia-idUSE5N0V801V20150717 [Diakses pada 1 Mei 2017].

Singh, Kranti, (2016). Regimes, Neo-Regionalism and BRICS: A Conceptual Perspective of the Study. International Journal of Research, Vol. 3, No. 17, hal. 1966-1973.

Stolte, Christina, (2012). Brazil in Africa: Just Another BRICS Country Seeking Resources?. Africa Programme and Americas Programme.

The BRICS Post, (2015). BRICS actively pushing for IMF reforms blocked by US: Lavrov. [online] The BRICS Post. Tersedia di: http://thebricspost.com/brics-actively-pushing-for-imf-reforms-blocked-by-us-lavrov/ [Diakses pada 1 Mei 2017]

Vasilev, Sergei, (2015). Why Do Brazil, Russia, India, and China Need BRICS?. [online] Carnegie Moscow Center. Tersedia di: http://carnegie.ru/commentary/?fa=60636 [Diakses pada 1 Mei 2017].

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.