Harga minyak mentah Amerika Serikat telah memasuki angka negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. West Texas Intermediate (WTI) di Amerika Serikat sendiri mengalami penurunan sebesar 300 persen untuk pengiriman di bulan Mei hingga menyentuh angka -40,32 dolar sebelum akhirnya berhenti di angka -$37,63. Ini artinya, para penghasil minyak di Amerika Serikat dengan terpaksa harus membayar para pelanggannya untuk mengambil sumber daya tersebut agar tempat penyimpanan mereka tidak penuh di bulan Mei. Permintaan pasar yang menurun drastis akibat lockdown pada akhirnya telah memberi dampak besar bagi para penghasil minyak. Hasil perhitungan para ahli memperkirakan bahwa tempat persediaan minyak di Amerika akan penuh pada bulan Mei dan jika hal tersebut terjadi, maka mereka harus menanggung beban biaya yang tinggi, bahkan menghentikan produksi. Beberapa perusahaan cenderung memilih untuk kehilangan uang dalam jangka pendek dibanding harus menghentikan kegiatan produksinya.

Beberapa ahli mengatakan bahwa penurunan yang begitu besar tersebut sangat mengejutkan dan merugikan bagi pasar minyak global. Samantha Gross, seorang ahli energi dan iklim dari the Brookings Institution memandang bahwa harga telah jatuh karena turunnya permintaan dan penuhnya tempat penyimpanan minyak, namun tidak ada yang menyangka akan terjadi secepat ini. Ia juga mengaku tidak pernah mendengar perusahaan yang membayar pelanggan untuk mengambil minyaknya, sehingga ia kemudian menyimpulkan bahwa peristiwa ini adalah bukti bahwa tempat penyimpanan mereka sudah hampir penuh sehingga tidak dapat melakukan produksi lebih banyak lagi sehingga dapat merugikan perusahaan dalam skala besar. Para pengusaha tersebut telah menghabiskan waktu satu bulan penuh untuk mempertimbangkan langkah yang akan mereka ambil karena tanggal 21 April kemarin adalah hari terakhir perdagangan minyak di the New York Mercantile Exchange (NYMEX) untuk bulan Mei mendatang.

Sejak bulan Januari ketika virus COVID-19 mulai melintasi berbagai belahan dunia, permintaan minyak global mengalami penurunan hingga mempengaruhi harga jual yang juga turun sekitar 70%. Patokan harga minyak saat ini adalah 26 dolar per barel. Sementara itu, rendahnya penjualan menyebabkan stok minyak tinggi. The US Energy Information Administration menuliskan bahwa saat ini terdapat 19,3 juta barel persediaan minyak yang belum terjual. Meski masih terdapat ruang untuk 21 juta barel lagi di Cushing, Oklahoma, Rystad Energy memperkirakan tempat penyimpanan tersebut akan penuh pada pertengahan bulan Mei.

Lebih lanjut, harga minyak yang telah turun akibat penularan virus COVID-19 kemudian diperparah dengan perang harga yang diinisiasi oleh Arab Saudi untuk melawan Rusia yang menolak untuk menurunkan jumlah produksinya di tengah pandemik. Meski tidak terlibat secara langsung di dalamnya, pasar minyak Amerika Serikat juga terdampak oleh perang dagang tersebut sehingga Trump berupaya untuk menemui Muhammad bin Salman dan Vladimir Putin agar keduanya dapat menyamakan persepsi dan kembali menstabilkan pasar minyak global. Upaya ini membuahkan hasil kesepakatan OPEC+ pada tanggal 12 April lalu, yang berisi persetujuan kedua pihak untuk menurunkan produksinya hingga 9,7 juta barel per harinya. Meski demikian, para analis mengatakan angka tersebut masih belum cukup untuk menyelamatkan pasar dalam kondisi sekarang. Tingginya suplai minyak yang tersisa membuat pengusaha minyak di Amerika tetap harus mengejar harga sekitar 48-54 dolar per barel untuk menyeimbangkan kerugian yang diperoleh, berdasarkan perhitungan the Federal Bank of Dallas.

Sejumlah analis berpendapat bahwa terdapat beberapa cara alternatif yang dapat dilakukan para pengusaha minyak tersebut, seperti bekerjasama dengan perusahaan midstream untuk memindahkan minyak dari wilayah Teluk ke luar negeri. Namun Louise Dickson dari Rystad Energy menjabarkan bahwa hal tersebut sulit dilakukan karena tank penyimpanan besar hanya terdapat di Teluk dan biaya pemindahan minyak juga tinggi. Alternatif lain untuk pemerintah adalah membeli persediaan minyak untuk cadangan minyak strategis Amerika. Sehingga, alih-alih memindahkan minyak secara fisik, pemerintah hanya akan membelinya dari produsen tanpa harus memindahkannya. Selain itu, Trump juga mempertimbangkan penerapan tarif untuk impor minyak dari Arab Saudi yang masuk ke Amerika, dengan harapan hal ini dapat menekan Arab Saudi untuk menurunkan jumlah produksi dan menghentikan perang harganya. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki cukup minyak sehingga tidak terlalu membutuhkan minyak Arab Saudi.

Kedepannya, harga minyak diharapkan dapat kembali stabil pada pertengahan kedua tahun ini ketika kebijakan restriksi ketat terkait lockdown sudah dicabut sehingga dapat meningkatkan permintaan minyak. Pabrik-pabrik akan kembali beroperasi, tempat-tempat pariwisata kembali dibuka, penggunaan transportasi berjalan normal, dan masyarakat menggunakan kendaraan pribadinya untuk bepergian. Namun, hal tersebut masih belum dapat dipastikan karena pemulihan ekonomi yang masih sangat lambat. Cailin Birch, seorang ahli ekonomi global mengatakan bahwa saat ini adalah masa-masa sulit bagi industri minyak mentah di Amerika Serikat karena produksi yang telah jatuh dalam dua minggu terakhir dan diperkirakan akan terus jatuh dalam bulan-bulan berikutnya jika kondisi tidak kunjung membaik.

Referensi:

Ambrose, Jillian. 2020. “oil Prices  Dip Below zero as Producers Forced to Pay to Dispose of Excess” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/apr/20/oil-prices-sink-to-20-year-low-as-un-sounds-alarm-on-to-covid-19-relief-fund [diakses 22 April 2020]

Suleymanova, Radmilla. 2020. “Crash! US Crude Futures Turn Negative for First Time in History” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/ajimpact/crash-crude-futures-turn-negative-time-history-200420183431731.html [diakses 21 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti