Pada Hari Minggu, 8 Maret 2020 lalu bertepatan dengan hari International Women’s Day atau Hari Perempuan Sedunia yang dirayakan oleh berbagai negara di seluruh dunia. Hari tersebut tidak hanya bertujuan untuk memperingati pencapaian-pencapaian oleh para perempuan, namun juga untuk meningkatkan kesadaran akan hal-hal yang masih menghambat pergerakan perempuan di dunia. Mulai dari Pakistan hingga Argentina, para perempuan melakukan gerakan protes hak perempuan dan perlindungan dari kekerasan.

Dalam pelaksanaannya, aksi-aksi demonstrasi tersebut memiliki resiko-resiko tersendiri karena di beberapa kota, perempuan banyak menemui aksi balasan, terkadang dalam bentuk gerakan oleh pihak kepolisian setempat yang menggunakan gas air mata untuk menertibkan para demonstran. Namun meski terhalangi dengan adanya resiko-resiko tersebut, para perempuan di seluruh dunia tetap melaksanakan aksinya dan berjuang untuk didengar, serta menunjukkan perjuangan untuk hak-haknya yang masih belum terpenuhi selama ini.

Secara historis, Hari Perempuan Sedunia pertama kali diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1977 dan mulai diperingati setelahnya di wilayah Amerika Utara dan Eropa. Sedangkan pergerakan perempuan yang pertama berawal di Rusia pada saat Perang Dunia I tepatnya pada tanggal 8 Maret 1913 untuk melaksanakan aksi protes damai terhadap perang.  Solidaritas perempuan di Eropa mulai terbentuk sejak peristiwa tersebut. Kemudian pada masa Perang Dunia Dunia II, negara-negara di dunia mulai menyerukan kesetaraan perempuan untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia hingga kemudian menjadi agenda utama perempuan di hari besar tersebut hingga saat ini.

Pada Hari Perempuan Sedunia tahun ini, berbagai aksi demonstrasi damai telah dilakukan di berbagai negara-negara di seluruh dunia. Di Bogota, Kolombia, demonstrasi perempuan memiliki arti penting karena dilakukan tidak lama setelah keputusan Mahkamah Konstitusi untuk tidak mengubah undang-undang aborsi pada Senin lalu. Para demonstrator yang banyak menggunakan ikat kepala berwarna hijau telah berkumpul di  the Centre for Peace and Memory sebelum kemudian bergerak ke Parque Olaya di bagian selatan kota Bogota. Aborsi adalah hal yang saat ini dipandang ilegaldi kolombia, kecuali dalam kasus-kasus yang membahayakan nyawa sang ibu maupun bayinya, atau kasus-kasus hasil pemerkosaan dan inses. Dengan aturan yang begitu ketat,  banyak perempuan terpaksa mencari jalan pintas yakni aborsi ilegal. Dalam dekade terakhir, sekitar 4.802 perempuan telah melakukan aborsi ilegal dan hampir 500 kasus diantaranya dilakukan oleh perempuan di bawah 18 tahun. Singkatnya, para perempuan Kolombia menuntut kebebasan untuk melindungi dirinya dan menjaga kesehatannya.

Sedangkan di jalanan kota Santiago, Chili, pada Minggu lalu penuh sesak dengan hampir dua juta demonstran perempuan yang merayakan Hari Perempuan Sedunia. Aksi ini bertujuan untuk memperjuangkan ketidaksetaraan struktural yang telah meliputi negara tersebut sejak Oktober 2019. Para pelajar perempuan juga menyatakan protes untuk mengubah sistem di antaranya perombakan sistem pendidikan, kesehatan, dan pensiun. Protes terus berlanjut meskipun tindakan keras polisi yang telah mengakibatkan ribuan penangkapan dan cidera khususnya cidera mata. Gerakan feminism Chili kemudian telah bergema di seluruh Amerika, Eropa, dan sekitarnya. Perempuan di lebih dari 50 negara di dunia telah menyerukan gerakan “A Rapist in Your Path” oleh Las Tesis untuk melawan budaya pemerkosaan yang telah terinstitusionalisasi.

Sementara itu, gerakan perempuan masih menemui sejumlah hambatan, diskriminasi, dan penolakan dari pihak kepolisian setempat. Contohnya di Istanbul, Turki, pihak kepolisian  telah menembakkan gas air mata dan berupaya untuk mendorong mundur para demonstran dengan menutup jalan hingga ke alun-alun kota. Selain itu, para polisi di Kirgizstan juga telah menangkap sejumlah demonstran perempuan setelah mereka bertengkar dengan sejumlah laki-laki bertopeng yang tiba-tiba menyerang aksi demonstrasi. Polisi mengatakan bahwa mereka menangkap pihak demonstran perempuan saja karena merekalah yang menyebabkan kegaduhan.

Untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia 2020, PBB mengambil fokus pada kesetaraan gender dan hak asasi manusia bagi seluruh perempuan. Tema yang diangkat secara lebih spesifik adalah “I am Generation Equality: Realizing Women’s Rights”. Kesetaraan gender memang merupakan isu yang paling penting bagi perempuan dan sangat berperan besar dalam menentukan nasib dan kebebasan perempuan. Berbagai seruan dan gerakan kesetaraan perempuan dapat ditinjau di media sosial dengan menggunakan tagar #EachforEqual, #GenerationEquality, #InternationalWomensDay, dan #IWD2020. Meski masih menemui sejumlah hambatan dalam pelaksanaannya, namun dapat dilihat bahwa semangat juang para perempuan untuk memperjuangkan hak dan kebebasannya sangatlah tinggi. Kini telah terdapat berbagai cara untuk berpartisipasi dalam memperingati Hari Perempuan Sedunia dan dapat dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja seperti melalui donasi, turut berpartisipasi dalam demonstrasi damai, maupun menyerukan slogan-slogan kesetaraan gender di media sosial.

Referensi:

Aratani, Lauren dan Blackall, Molly. 2020. “International Women’s Day: Events Highlighting Gender Equality Take Place Around the World – as it Happened” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/politics/live/2020/mar/08/international-womens-day [diakses 9 Maret 2020]

Cuffe, Sandra. 2020. “Feminist Groups Hold Mass Women’s Day Marches Across Chile” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/03/feminist-groups-hold-mass-women-day-marches-chile-200308192555973.html [diakses 9 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com