Benua yang juga negara terbesar yang ada di dunia adalah Benua Australia. Penemuan beberapa bagian dari benua ini terjadi sekitar abad ke-17 oleh penjelajah dari Belanda, hingga abad selanjutnya penjelajah dari Perancis dan Inggris juga mendarat di benua ini (Department of Foreign Affairs and Trade, 2016). Namun Belanda tidak menunjukkan ketertarikan lebih lanjut dari penemuan benua ini, hanya saja memberikan nama di wilayah yang ditemukan sebagai “New Holland” (The Commonwealth, 2019). Berbeda dengan Belanda, Inggris yang juga menemukan bagian lain dari benua Australia justru memberikan klaim pada wilayah yang ditemukannya, yaitu wilayah pesisir timur. Inggris dikenal sebagai penjajah sebagian besar wilayah. Inggris yang pada masa itu membutuhkan tempat untuk mengasingkan para narapidana Inggris, memilih Australia sebagai tempat pengasingan tersebut. Pada 1788, Inggris mengirimkan kapal muatan pertamanya yang berisikan narapidana yang kemudian menjadi pemukim pertama Australia (The Commonwealth, 2019). Hingga pada tahun 1830-an, di bagian selatan didirikan koloni yang terdiri dari pemukim bebas (Department of Foreign Affairs and Trade, 2016).

Kehidupan di benua ini sendiri sebenarnya telah ada semenjak lebih dari 60.000 tahun sebelum hadirnya bangsa Eropa di Australia (Department of Foreign Affairs and Trade, 2016). Di mana suku Aborigin ini merupakan penduduk asli yang dipercayai menempati Australia pertama kali. Penduduk Aborigin bertahan hidup dengan cara melakukan perburuan dan pengumpulan makanan menggunakan alat dari batu. Hidup dari suku Aborigin ini dapat dibilang tidak maju, namun mereka memiliki kebudayaan dan bentuk keagamaan yang kompleks (The Commonwealth, 2019). Suku Aborigin mendapatkan tekanannya ketika Inggris menginjakkan kakinya untuk pertama kali dan mengklaim bahwa Australia merupakan tanah yang tidak bertuan (Aboriginal Heritage Office, 2019). Suku Aborigin mulai hidup dalam kesengsaraan karena sumber daya alam yang telah lama mnejadi sumber kehidupan mulai dikuasai dan dihancurkan oleh pemukim Inggris. Inggris tidak hanya mengambil alih sumber daya, tetapi juga membawa penyakit dari negara asalnya, yang tidak cocok dengan kondisi suku Aborigin. Mereka tidak tahan terhadap virus mematikan, yang dibawa oleh para pelaut dan narapidana dari Inggris, seperti cacar, sifilis dan influenza (Aboriginal Heritage Office, 2019). Kehadiran Inggris ini kemudian telah banyak memberikan dampak buruk bagi masyarakat asli benua ini. Namun juga tidak dapat dipungkiri bahwa hadirnya Inggris juga membawa perubahan dan kemajuan peradaban di Australia.

Terlepas dari kemajuan peradaban, karakteristik masyarakat asli Australia sendiri dapat dilihat dari dua suku utama yang menempati Australia, yaitu suku Aborigin dan suku Torres (Merlan, 2005). Merlan (2005) dalam bukunya “Indigenous Movements in Australia”, menjelaskan bahwa total penduduk asli Australia yaitu suku Aborigin dan Torres hanya memiliki masing-masing 2% dimana hal tersebut menjadikan kedua suku tersebut yang merupakan penduduk asli menjadi kaum yang minoritas. Suku Aborigin dan suku Torres memiliki karakteristik fisik seperti masyarakat Melanesia (Department of Foreign Affairs and Trade, 2016).

Kehadiran Inggris ini membawa kemajuan, tetapi juga membawa perubahan kebudayaan masyarakat Australia. Awalnya benua ini didiami oleh suku Aborigin dan suku Torres yang sudah memiliki banyak budaya dan bahasa. Persebaran suku Aborigin juga telah menyumbangkan banyak bahasa karena suku Aborigin yang menempati suatu wilayah akan memiliki budaya dan bahasa yang berbeda dengan suku Aborigin lainnya. Penduduk asli yang dikatakan Merlan (2005) sebagai kaum minoritas ini tidak menyurutkan budaya yang dibawa kedua suku tersebut karena suku Aborigin dan Torres memiliki banyak perbedaan pada budaya, bahasa serta karakteristik masyarakat yang ada dimasing-masing suku tersebut selaku penduduk asli. Dalam penyebaran budaya suku Torres dinilai memiliki keterlambatan dengan suku Aborigin namun struktur budaya yang dimiliki oleh suku Torres lebih bersifat kompleks dan sedikit memiliki campuran bahasa dengan Papua dan Austronesia, hal tersebut juga mendasari adanya pengaruh budaya suku Torres terhadap negara-negara tersebut terutama pada adat upacara keagamaan dan adat-adat lainnya (Merlan, 2005).

Menurut Jupp (2011) suku Aborigin juga memiliki budaya yang unik dimana mempercayai dan sering melakukan ritual dream time karena kepercayaan suku Aborigin terhadap ritual tersebut bertujuan sebagai meditasi untuk dapat melakukan penyatuan dengan alam dan lingkungannya. Tidak hanya sebagai ritual untuk menyatu dengan lingkungannya tapi dream time juga dipercaya bahwa manusia yang telah mati akan dilahirkan kembali sebagai elemen dari alam sehingga membuat masyarakat Aborigin sangat menghargai dan menjaga alam serta lingkungannya (Jupp, 2011). Para imigran di Australia ini yang kemudian membuat budaya mereka tidak jauh beda dengan budaya yang ada di kalangan masyarakat Eropa atau budaya barat. Letak geografis Australia yang kemudian menjadi pembedanya dengan negara-negara barat lainnya. Australia merupakan suatu Negara benua yang tidak mempunyai perbatasan darat dengan negara lain, dan hanya  dikelilingi oleh lautan. Letak geografisnya membuat Australia masuk kategori negara timur walaupun kebudayaan dari masyarakat Australia kini berakar dari barat (Hardjono, 1992).

Budaya Australia telah mengalami persimpangan secara signifikan sejak adanya pemukiman Inggris. Bukti peninggalan AngloCeltic yang signifikan bisa dilihat dari dominasi bahasa Inggris, keberadaan sistem pemerintahan demokratis yang memanfaatkan tradisi Pemerintah Westminster Inggris, Parlementarisme dan monarki konstitusional, tradisi konstitusionalis dan federalis Amerika, agama Kristen sebagai agama dominan, dan popularitas olahraga yang berasal dari (atau dipengaruhi oleh) Kepulauan Inggris. Sedangkan orang-orang Aborigin yang diyakini telah ada di Australia sejak 60.000 tahun yang lalu, dan bukti seni Aborigin di Australia sudah ada sejak 30.000 tahun yang lalu (Jupp, 2011). Australia pada masa ini sudah menjadi negara yang mewadahi banyak kebudayaan, yang datang dari berbagai belahan dunia. Hal tersebut dikarenakan adanya imigran-imigran yang masuk ke Australia dari berbagai negara. Australia adalah salah satu negara paling multibudaya di dunia, kaya akan budaya pribumi dan imigran (Department of Foreign Affairs and Trade, 2016).

Identitas Australia tunggal sulit untuk didefinisikan akibat percampuran budaya Eropa, para imigran, dan penduduk asli pulau tersebut. Sejak permukiman Eropa dimulai, berbagai negara telah berkontribusi pada aspek budaya mereka untuk membentuk identitas multikultural yang dapat kita lihat saat ini. Pada masa kolonial, identitas masyarakat Australia sangat mirip dengan identitas Inggris, dikarenakan negara tersebut terus melakukan penetrasi budaya secara terus menerus dan gagal memahami atau mengenali budaya lama penduduk Aborijin serta Kepulauan Selat Torres (Cousins, 2005). Sejak kedatangan bangsa Eropa pun, Australia dianggap sebagai pulau tidak berpenghuni atau terra nullius. Ketika negara koloni melihat adanya penduduk asli yang memiliki perbedaan budaya dengan mereka, dorongan untuk ‘membudayakan’ masyarakat uncivilized dan menyebarkan kultur Inggris muncul begitu saja (Short, 2003). Meskipun interaksi pertama antara penduduk asli dan Inggris positif, hubungan keduanya dengan cepat memburuk dan akhirnya konflik meletus. Dengan menggunakan sumber daya dan persenjataan mereka, Inggris memperluas pemukiman mereka dan mendorong lebih jauh ke negeri-negeri Aborigin. Namun, konflik ini hanya peristiwa pertama dalam serangkaian kesulitan yang dihadapi oleh Penduduk Asli setelah kedatangan Inggris pada tahun 1770 (Cousins, 2005).

Sejak awal tahun 1860-an, anak-anak Penduduk Asli dan Kepulauan Selat Torres secara paksa dikeluarkan dari rumah dan keluarga mereka oleh berbagai pemerintah. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa ini adalah program pemindahan yang memiliki niat baik, dan pemerintah yang terlibat dimotivasi oleh kesejahteraan anak-anak Aborigin (Cousins, 2005). Di sisi lain, para sejarawan mengklaim pemindahan anak adalah kebijakan yang disengaja dimaksudkan untuk melemahkan komunitas Penduduk Asli dan Kepulauan Selat Torres. Selain diasingkan dari keluarga mereka, anak-anak ini juga dikeluarkan dari budaya dan identitas mereka. Anak-anak yang dipindahkan selama periode ini dikenal sebagai the Stolen Generation (Cousins, 2005). Selain merampas kebudayaan dan hak untuk menetap miliki suku Abrorigin, salah satu aspek terpenting yang menyebabkan identifikasi budaya Australia sulit adalah koneksi ke tanah. Tanah dianggap mewakili masa lalu, sekarang, dan masa depan penduduk Australia—hubungan ini sangat spiritual. Satu-satunya hal yang membuat segalanya rumit ialah Inggris gagal secara resmi mengakui kepemilikan tanah adat, sementara penduduk asli termarjinalkan secara paksa. Selanjutnya, dalam pertempuran mengklaim tanah adat, Suku Abroigin berhasil mendapatkan pengakuan pada tahun 1992 ketika pengadilan tinggi Australia secara resmi menolak konsep terra nullius dan membuka jalan bagi masyarakat adat untuk secara legal mendapatkan kembali tanah mereka (Short, 2003).

Setelah itu Penduduk Asli Australia akhirnya diakui sebagai bagian dari populasi.  Proses rekonsiliasi dimulai sebagai gerakan resmi pada tahun 1991 dengan pembentukan Dewan Rekonsiliasi Aborigin. Istilah ‘rekonsiliasi’ mengacu pada memperbaiki kerusakan dari peristiwa masa lalu melalui pemahaman yang lebih baik, dan rasa hormat terhadap, budaya asli (Short, 2003). Sementara Suku Aborigin telah mendapatkan haknya, perdebatan mengenai identitas nasional terus berlanjut. Orang yang lebih tua masih meyakini dirinya bagian dari  Mother England, di sisi lain persentase yang semakin besar dari populasi Australia tidak memiliki warisan Inggris (Hogue, 2005). Suku Abroigin sendiri membentuk 2% dari populasi Australia dan tidak ada bahasa atau budaya aborigin tunggal, juga penduduk Australia lainnya tidak berbagi hubungan mistis dengan tanah mereka yang menjadi ciri masyarakat asli. Oleh karena itu, warisan asli kami tidak memberikan dasar untuk penciptaan identitas nasional yang menyatukan bagi semua orang Australia kontemporer (Hogue, 2005). Selain itu, pengaruh Amerika yang masuk saat Perang Dunia II dan globalisasi memberikan warna baru dalam proses identifikasi nasional yang sedang dilakukan Australia. Setelah perdebatan panjang itu, banyak penduduk Australia meyakini bahwa mereka harus melanjutkan kehidupan sehari-hari tanpa terlalu khawatir tentang siapa mereka. Hal tersebut yang dianggap memiliki daya tarik tersendiri bagi negara mereka (Hogue, 2005).

Referensi:

Aboriginal Heritage Office. 2019. A Brief Aboriginal History [ONLINE] Tersedia dalam: http://www.aboriginalheritage.org/history/history/ (Diakses pada 26 Maret 2019)

Cousins, Sara. 2005. “Contemporary Australia.” dalam Australia’s national identity by. John Wiley & Sons Australia, Ltd Monash University

Department of Foreign Affairs and Trade. 2016. Australia in Brief.

Hardjono Ratih. 1992. Suku Putihnya Asia (Perjalanan Australia Mencari Jati Dirinya). Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Hogue, Cavan. 2005. “Does Australia have a National Identity?” [Online] Tersedia dalam: https://cpd.org.au/2005/07/does-australia-have-a-national-identity/ (Diakses pada 26 Maret 2019)

Jupp, J. 2001. The Australian People: An Encyclopedia of the Nation, its People, and their Origins. Cambridge:   Cambridge University Press.

Merlan, Francesca. 2005. Indigenous Movements in Australia. Annual Review of Anthropology, 34.

Short, Damien. 2003. “Reconciliation, Assimilation, and the Indigenous Peoples of Australia”, dalam International Political Science Review / Revue internationale de science politique, Vol.24, No. 4 (Oct., 2003), pp. 491-513

The Commonwealth. 2019. Australia : History [ONLINE] Tersedia dalam: http://thecommonwealth.org/our-member-countries/australia/history (Diakses pada 26 Maret 2019)