Pada Selasa (28/07), Majelis Hakim di Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur, Malaysia menyatakan bahwa mantan Perdana Menteri Najib Razak terbukti bersalah telah melakukan korupsi sebesar jutaan dolar terhadap dana investasi pembangunan di perusahaan milik negara, 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Selama hampir 16 bulan, sejumlah saksi dan bukti-bukti telah dikumpulkan untuk pengadilan ini.

Kasus yang melibatkan salah satu orang terpenting di Malaysia tersebut dipandang sebagai ujian terhadap kejujuran dan kesungguhan gerakan anti-korupsi di Malaysia. Dilansir dari BBC, Datuk V Sithambaram, ketua penuntut dalam kasus ini mengatakan bahwa putusan pengadilan terhadap Najib membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan hukum.

Hakim Mohd Nazlan Ghazali menyatakan bahwa Najib bersalah atas semua tujuh tuduhan yang diajukan padanya dan memperkirakan ia telah melakukan korupsi uang sekitar 42 juta ringgit dari SRC Internasional, salah satu unit 1MDB, ke rekening bank pribadinya. Setelah ditelusuri lebih lanjut, aliran dana tersebut digunakan untuk berbelanja di toko-toko mewah, membayar proyek renovasi rumah, dan membiayai kegiatan-kegiatan partai dari koalisinya.

1MDB didirikan pada tahun 2009 ketika Najib masih menjabat sebagai perdana meneteri Malaysia. Pendirian 1MDB pada waktu itu bertujuan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi Malaysia. Dibangun dengan pendapatan negara, 1MDB banyak memeroleh aliran dana untuk investasi dan mendapat pengaruh internasional yang besar. Namun kecurigaan terhadap 1MDB mulai muncul pada tahun 2015 karena 1MDB sejumlah kali mengelak dan tidak membayar hutangnya pada bank.  Uang yang “hilang” tersebut diduga telah dialirkan ke pembelian rumah-rumah mewah, jet pribadi, karya seni Van Gogh, bahkan membiayai film Hollywood the Wolf of Wall Street.

Putusan ini kemudian membuat Najib menjadi perdana menteri Malaysia pertama yang terbukti melakukan tindak korupsi.

“Setelah mempertimbangkan semua bukti yang ada dalam persidangan ini, saya menemukan bahwa penuntutan telah berhasil membuktikan kasus ini tanpa ragu. Oleh karena itu, saya menemukan terdakwa bersalah dan menghukumnya atas tujuh tuduhan”, ujar Ghazali, sebagaimana dituliskan dalam Al Jazeera.

Selain hukuman penjara, Najib juga diwajibkan untuk membayar denda sebesar 210 juta ringgit. Selain itu, sejatinya tindak kriminal seberat itu juga mendapat hukuman cambuk, namun mantan perdana menteri yang berusia 67 tahun tersebut dibebaskan dari hukuman ini.

Namun, untuk saat ini Najib tetap bebas karena hakim memberikan perintah untuk menahan eksekusi hukuman Najib sembari menunggu banding.

Pasca pengadilan berakhir, Najib menunjukkan amarahnya dan menolak dengan keras tuduhan tersebut. Sebelumnya Najib telah bersumpah tidak bersalah atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran pidana atas kepercayaan, dan pencucian uang namun pada akhirnya terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.

“Tentu saya tidak senang dengan hasilnya. Tapi dalam sistem kita, majelis umum adalah pengadilan utama dan keputusannya hanya didasarkan pada satu hakim saja, maka kita akan menggunakan kesempatan untuk banding”, ujarnya setelah keluar dari Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur. Ia juga berjanji akan terus berusaha untuk membersihkan namanya dari kasus ini.

Dalam pembelaannya, Najib bersikeras bahwa ia tidak menyadari adanya aliran dana dari SRC ke rekening bank pribadinya. Ia mengatakan bahwa, “saya tidak pernah meminta 42 juta dan juga tidak pernah menerima tawaran tersebut. Tidak ada saksi yang dapat membuktikan tuduhan tersebut”.

Menurut para jaksa penuntut, Najib memiliki peran besar dan terlibat langsung dalam kasus ini dengan memberikan instruksi untuk mengirimkan uang tersebut ke rekening bank pribadinya. Namun pengacara Najib, Muhammad Shafee Abdullah mengatakan bahwa mantan perdana menteri tersebut tidak termasuk dalam konspirasi untuk menipu pemerintah kemudian menyalahkan buron pemodal Malaysia Jho Low.

Sesaat setelah berita vonis hukuman Najib diumumkan ke media, para pendukung Najib berkumpul di depan gedung Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur, beberapa di antaranya menangis sementara yang lain berteriak, “Hidup bosku.” Beberapa juga mengecam vonis hakim sebagai suatu bentuk “pembalasan politik”.

Referensi:

Head, Jonathan. 2020. “Najib Razak: Malaysian Ex-PM Gets 12-Year Jail Term in 1MDB Corruption Trial” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-asia-53563065 [diakses 28 Juli 2020]

Regencia, Ted. 2020. “Malaysia’s Najib Gets 12 Years in Jail for 1MDB-linked Graft Case” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/07/malaysia-najib-12-years-jail-1mdb-linked-graft-case-200728110222866.html [diakses 28 Juli 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R