Pemerintah Libya yang diakui PBB atau dikenal dengan nama Government of National Accord (GNA) menyebut peringatan pemerintah Mesir yang mengancam akan melakukan intervensi militer di Libya sebagai sebuah “deklarasi perang”. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi yang memperingatkan pasukan GNA untuk tidak memasuki kota Sirte – sekitar 450 kilometer dari Tripoli – atau akan dilakukan intervensi langsung oleh Kairo. Sirte merupakan kota strategis yang kini diduduki oleh kelompok Khalifa Haftar yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab. Kota tersebut menjadi salah satu titik penting dari perang Libya karena menjadi akses ke sumber minyak dan telah menjadi salah satu wilayah yang paling diperebutkan oleh kedua pihak.

Peringatan tersebut semakin menambah ketegangan perang di Libya yang telah menjadi lahan perang proxy antara kekuatan-kekuatan regional dan internasional selama bertahun-tahun. Distribusi senjata dan tentara bayaran telah banyak memasuki wilayah Libya selama perang berlangsung, semakin mendesak PBB untuk segera menemukan solusi dan mengadakan negosiasi yang dapat memastikan kepatuhan embargo senjata dari negara-negara yang terlibat. Selain ancaman intervensi, El Sisi juga memerintahkan pasukan Mesir untuk siap melindungi keamanan nasional negaranya dari ketegangan konflik yang terjadi di Libya. Ia menyebut perebutan wilayah Sirte atau landasan udara di Al Jufra akan menjadi “garis merah” karena dianggap telah mengancam keamanan Mesir. Menurutnya, segala bentuk intervensi Mesir di Libya sepatutnya mendapatkan legitimasi internasional karena merupakan bentuk perlindungan diri atas serangan dan ancaman terorisme.

Dalam beberapa waktu terakhir, kelompok Haftar telah mengalami beberapa kekalahan fatal dalam perang Libya khususnya setelah pasukan GNA berhasil mengambil alih bandar udara Tripoli dan mendorong mundur pasukan Haftar dengan menggunakan bantuan persenjataan dan drone dari Turki. El Sisi kemudian mengajukan proposal negosiasi dengan GNA untuk membentuk perjanjian gencatan senjata, namun mendapatkan penolakan dari GNA dan aliansinya. Ia juga menawarkan bantuan dengan mengajak generasi muda Libya terbang ke Mesir agar memeroleh bantuan pelatihan, persiapan, dan persenjataan. Pada dasarnya, pemerintah Mesir melakukan berbagai upaya untuk menghentikan intervensi Turki yang dipandang sebagai musuh regionalnya karena telah mendukung gerakan kelompok Muslim Brotherhood di Mesir, yang telah ia gulingkan dari kekuasaan sejak 2013. Selain itu, juga terdapat kekhawatiran Mesir atas masuknya pasukan bersenjata dan kelompok ekstrimis religius melalui perbatasannya dengan Libya di bagian barat.

Sementara itu, pemerintah Libya mengecam dengan tegas peringatan Mesir untuk melakukan intervensi militer. GNA mengatakan bahwa pernyataan dari Mesir adalah “tindakan permusuhan dan campur tangan langsung, serta merupakan deklarasi perang”. Bagi Libya, campur tangan langsung terhadap permasalahan internal dan serangan terhadap kedaulatan negara sebagaimana yang telah dilakukan oleh presiden Mesir beserta para pendukungnya tidak dapat diterima begitu saja. Mereka menegaskan bahwa Libya sejatinya bersikap sangat terbuka terhadap semua mediasi yang bersifat imparsial di bawah agenda PBB, bukan inisiatif secara unilateral atau ekstrajudisial. Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh pihak GNA pada malam sebelum pertemuan pimpinan-pimpinan Arab League secara daring karena situasi pandemi virus COVID-19 yang masih berlangsung. GNA pun juga menolak untuk hadir dan berpartisipasi dalam pertemuan yang diinisiasi oleh pemerintah Mesir tersebut.

Namun, dalam pernyataan dari salah satu anggota parlemen Libya, Aguila Saleh, terdapat bentuk pembelaan dan dukungan terhadap deklarasi Mesir. Ia mengatakan bahwa ia mengapresiasi respons Mesir terhadap usulan dialog politik terkait gencatan senjata yang bertujuan agar Libya dapat melindungi sumber daya yang dimilikinya dan menemukan resolusi yang memuaskan untuk konflik yang sedang berlangsung. Pernyataan tersebut juga secara tidak langsung mendorong PBB untuk mewujudkan hasil Konferensi Berlin pada Januari lalu, sekaligus mengajak rakyat Libya untuk bersatu dan melindungi kepentingan bersama. Ia menyebutkan bahwa Kairo telah mengadakan sejumlah pertemuan sipil dan militer untuk menjembatani kepentingan semua pihak dalam perang Libya, sementara pihak-pihak lain hanya terus mengirim senjata dan tentara yang tidak menyelesaikan masalah. Dalam pidatonya, ia berupaya untuk menunjukkan bahwa sejumlah kelompok teroris seperti ISIS memang sedang menggunakan Libya sebagai tempat persembunyian dan terdapat kemungkinan bahwa mereka tengah merencanakan serangan terhadap Mesir, sehingga penting bagi Mesir dan Libya untuk bekerjasama dalam menghadapi aksi-aksi teror tersebut.

Referensi:

Aljazeera. 2020. “Libya: GNA Calls Egypt’s Military Threat ‘Declaration of War’” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/06/libya-gna-calls-egypt-military-threat-declaration-war-200622060838289.html [diakses 22 Juni 2020]

Egypt Today. 2020. “Egypt Should be Aware of Foreigners Plots in Libya, Libyan Speaker” [online] tersedia dalam https://www.egypttoday.com/Article/1/88841/Egypt-should-be-aware-of-foreigners-plots-in-Libya-Libyan [diakses 22 Juni 2020]

Saleh, Heba. 2020. “Egypt Threatens Military Action in Libya if Turkish-Backed Forces Seize Sirte” [online] tersedia dalam https://www.ft.com/content/e6aa87b0-5e0b-477f-9b89-693f31c63919 [diakses 22 Juni 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R