Selama lebih dari satu tahun, pemerintah Libya yang didukung PBB, Government of National Accord (GNA) telah dikepung oleh tentara-tentara pendukung Khalifa Haftar, seorang jenderal pemberontak. Hingga tanggal 3 Juni lalu, tentara GNA berhasil mendorong mundur tentara Haftar yang disebut juga dengan Libyan National Army (LNA) dari bandara internasional Tripoli. Haftar sendiri adalah seorang mantan jenderal tentara Libya dan mata-mata Central Intelligence Agency (CIA) yang telah berjuang selama bertahun-tahun untuk menguasai Libya sebagai poros kekuatan baru dengan cara menyerang Tripoli sejak musim semi lalu, meski sejatinya ia dan pasukannya telah menguasai sebagian besar bagian Timur Libya yang kaya akan minyak bumi. Namun usaha tersebut kemudian justru mengubah perang sipil yang telah lama berlangsung di Libya menjadi perang proksi antara negara-negara kuat di dunia. Beberapa ahli mengatakan bahwa mundurnya Haftar dari Tripoli hanya akan menyebabkan fase baru dan bukanlah akhir dari perang Libya sendiri.

Dengan dukungan Turki, GNA berhasil merebut kembali bandara internasional Tripoli, seluruh pintu masuk dan keluar kota, serta titik-titik penting lainnya dari tentara Haftar. Atas kemenangan tersebut, GNA kemudian meluncurkan misi “Paths to Victory” untuk mendapatkan daerah kekuasaan LNA khususnya Sirte dan pangkalan udara Al-Jufra. Abdelmenaam al-Draa, seorang juru bicara militer, mengatakan bahwa misi ini bukanlah pertempuran untuk kota-kota seperti Tripoli atau Sirte saja melainkan sebuah perjuangan untuk Libya, untuk kebebasan dan demokrasi. Ia juga menegaskan bahwa GNA akan terus bergerak ke arah timur hingga mereka berhasil membebaskan semua daerah Libya dari kejahatan Haftar.

Di tengah pelaksanaan misi tersebut, PBB menerima berita mengejutkan dari GNA yang menemukan setidaknya delapan perkuburan massal di Tarhuna, daerah benteng terakhir Haftar di Libya Barat. The United Nations Support Mission in Libya (UNSMIL) telah mencatat laporan-laporan terkait kuburan massal tersebut dalam beberapa hari terakhir dan mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional yang berlaku, pihak berwenang harus segera melakukan investigasi terkait kasus ini secara efektif dan transparan. Pihak GNA mengatakan bahwa jasad-jasad yang dikuburkan disana adalah anggota-anggota tentara GNA yang tertangkap dan beberapa masyarakat sipil. Penemuan ini kemudian semakin mendukung argument GNA terkait kekejaman kelompok Haftar di wilayah-wilayah yang didudukinya. UNSMIL telah memerintahkan para anggota komite untuk mengamankan kuburan massal tersebut, mengidentifikasi korban, menetapkan penyebab kematian, dan mengembalikan jasad mereka ke keluarga terdekat.

Serangkaian kemenangan GNA atas perebutan wilayahnya dengan Haftar kemudian menempatkan GNA dalam posisi yang menguntungkan. Sedangkan bagi Haftar dan pasukannya, selain harus menghadapi serangan-serangan GNA, kelompok pemberontak tersebut dikabarkan juga memiliki sejumlah permasalahan lain termasuk penipuan dari berbagai pihak yang menawarkan kerjasama dengannya. Tentara bayaran dan pengusaha dari berbagai negara telah menipu komandan LNA tersebut puluhan juta dolar dalam beberapa tahun terakhir untuk perangkat keras dan layanan militer yang idak dikirimkan. Haftar dikabarkan harus kehilangan setidaknya 55 juta dolar dalam pembelian mesin perang seperti helikopter, pesawat pengintai, dan kapal patroli yang telah dibayarnya namun tidak pernah sampai ke Libya. Terlepas dari embargo senjata dari PBB, Turki telah mengirimkan tentara, tentara bayaran dari Suriah, drone temput, kendaraan militer, dan sistem anti-rudal untuk GNA. Sedangkan Haftar yang didukung oleh Russia, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir juga dikabarkan menerima bantuan serupa khususnya dari Rusia dan UEA, namun hal ini dibantah. Haftar mengatakan bahwa tuduhan ini hanyalah bentuk propaganda yang dikeluarkan oleh GNA untuk menghancurkannya.

Sementara itu, di tengah peperangan yang semakin menguntungkan pihak GNA, pada hari Senin lalu, Mesir mengajukan proposal gencatan senjata di Libya sebagai inisiatif yang juga mengusulkan dewan kepemimpinan terpilih untuk Libya. Rusia dan UEA menyambut baik rencana tersebut, sementara Jerman mengatakan bahwa kunci perdamaian harus dilakukan dengan melewati pembicaraan di tingkat PBB terlebih dahulu. Sedangkan Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu segera menolak proposal tersebut pada hari Rabu. Ia mengatakan bahwa upaya gencatan senjata yang diajukan Mesir masih belum matang, harus ada landasan yang bisa menyatukan semua pendapat. Ia juga berpendapat bahwa proposal tersebut hanyalah upaya untuk menyelamatkan Haftar dari kekalahan-kekalahan yang diterimanya dalam beberapa waktu terakhir. Mike Pompeo dari PBB sendiri menganggap bahwa gencatan senjata ini suatu awal yang baik untuk Perang Libya sehingga diskusi dan negosiasi harus segera dilakukan untuk dapat mengimplementasikannya.

Referensi:

The New York Times. 2020. “Russian-Backed Libyan Commander Retreats from Tripoli” [online] tersedia dalam https://www.nytimes.com/2020/06/04/world/middleeast/libya-hifter-retreat-russia.html [diakses 12 Juni 2020]

Trew, Bel. 2020. “Libya’s Beleaguered General Swindled Out of Millions by Mercenaries and Businessman” [online] tersedia dalam https://www.independent.co.uk/news/world/africa/libya-haftar-uk-us-tripoli-war-arab-armed-forces-military-a9558906.html [diakses 12 Juni 2020]

Wintour, Patrick. 2020. “Eight Mass Graves Found in Area Retaken from Libyan Rebel General” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/jun/11/eight-mass-graves-found-in-area-retaken-from-libyan-rebel-general [diakses 12 Juni 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R