Sebagai salah satu cabang dari ilmu sosial, studi Hubungan Internasional kerap menemui perdebatan dan pemahaman yang berbeda terkait konsep dan istilah yang digunakan dalam sebuah teori. Pemahaman mengenai konsep menjadi penting bagi para analis Hubungan Internasional karena pendefinisian dan penggunaan konsep yang tidak tepat kemudian dapat menimbulkan ambiguitas dan kerancuan pada penjelasan yang mengikuti. Suatu teori juga membutuhkan konsep untuk menjelaskan maksud dan tujuan yang dimilikinya. Penting bagi seorang analis untuk mempelajari bagaimana pembentukan sebuah konsep agar dapat menjelaskan suatu fenomena dengan jelas. Maka dari itu, dalam tulisan ini penulis akan memaparkan lebih lanjut pengertian konsep dan cara untuk melakukan formasi atau pembentukan konsep itu sendiri serta bagaimana mengembangkannya melalui konseptualisasi, operasionalisasi dan pengukuran.

Para analis dari cabang ilmu yang berbeda, dapat mengartikan konsep kedalam beberapa hal yang berbeda pula. Konsep menurut Mainheim & Rich (1995) dapat dipahami sebagai perwujudan ide abstrak dari fenomena yang akan diteliti, sedangkan Gerring (1999) memahami konsep sebagai upaya untuk menanggapi standar atas kriteria tertentu. Pada dasarnya, konsep digunakan untuk mengabstraksikan fenomena-fenomena empiris yang ada di dunia. Dalam ilmu sosial, bahasa dalam konsep menjadi hal yang krusial karena konsep merupakan inti permasalahan yang akan dibahas sekaligus cara untuk menjelaskan permasalahan tersebut, bahkan Gerring (1999) mengatakan bahwa seseorang bisa membuktikan apapun jika dapat menggunakan konsep yang tepat. Selain itu, Collie & Levitsky (1997) juga menyatakan bahwa konsep diperlukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan definisi baku yang didapat dari kamus saja, maka ilmu pengetahuan khususnya ilmu sosial tidak akan dapat berkembang. Namun, konsep tidak dapat disamakan dengan istilah dan kata karena menurut Mainheim & Rich (1997), istilah dapat berupa kata atau konsep, namun hanya dipahami oleh sebagian orang secara ekslusif, sedangkan kata itu sendiri lebih merujuk kepada susunan huruf yang memiliki arti. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa konsep dan istilah merupakan serangkaian kata-kata, namun keduanya memiliki makna yang berbeda.

Lebih lanjut, upaya peneliti untuk mengangkat fakta dan fenomena menjadi sebuah konsep disebut dengan konseptualisasi (Mainheim & Rich, 1995). Konseptualisasi diperlukan untuk menciptakan konsep yang dapat diterima secara universal dan memiliki validitas dan reliability. Pemahaman konsep yang dapat menjadi berbeda-beda antar cabang ilmu, bahkan didalam suatu cabang ilmu itu sendiri, menyebabkan adanya perdebatan terkait konsistensi didalam ilmu sosial karena luasnya definisi yang dapat digunakan untuk menjelaskan suatu konsep. Konsep dapat dikatakan sebagai suatu hal yang multidimensional karena suatu konsep dapat menjadi berkelanjutan, dapat digabungkan menjadi konsep baru, sekaligus terdiri dari konsep-konsep yang lain. Ini menyebabkan konseptualisasi menjadi penting agar ambiguitas dan kerancuan dapat dihindari. Goertz (2006) memaparkan pentingnya konseptualisasi dengan menyatakan bahwa para analis membutuhkan analisis yang tepat terkait dimensi substantif dalam sebuah konsep.

Konsep pada dasarnya memiliki formasi yang terdiri dari tiga hal yakni fenomena yang akan diteliti, atribut yang menjelaskan fenomena tersebut, dan label atau istilah yang digunakan didalamnya (Gerring, 1997). Suatu konsep dapat diperluas atau dipersempit melalui proses konseptualisasi sesuai dengan kebutuhan untuk menjelaskan suatu fenomena. Gerring (1999) menjelaskan lebih lanjut bagaimana cara mendefinisikan dan memahami formasi konsep itu sendiri. Pertama, dapat digunakan tradisi ordinary yang dilakukan dengan mencari arti baku dari sebuah konsep dalam kamus. Namun, perlu dipahami bahwa meski hal ini baik untuk memulai pemahaman, cara ini bukanlah satu-satunya cara yang harus dilakukan karena pada umumnya suatu konsep tidak dapat didefinisikan dengan satu definisi tunggal yang dapat mencakup semua arti eksplisit dan implisit didalamnya. Kedua, identifikasi atribut yang dianggap penting dan dapat menjelaskan suatu kondisi dengan contoh dan istilah yang sesuai. Suatu konsep, pasti memiliki hal-hal yang tidak dapat dipisahkan darinya atau atribut-atribut utamanya. Jika ada satu atribut yang tidak sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan, maka dibutuhkan penjelasan baru yang lebih sempit lagi. Tradisi ketiga berkaitan dengan anggapan bahwa konsep selalu berkaitan dengan teori karena konsep adalah implementasi dari teori (Gerring, 1999). Maka, pemahaman terkait konsep harus dilakukan bersamaan dengan pemahaman terkait teori yang menggunakan konsep tersebut. Tradisi terakhir membahas tipe konsep yang akan dianalisis dan setiap tipe sesuai untuk menjelaskan kasus-kasus tertentu.

Untuk dapat menggunakan konsep kedalam fenomena empiris, maka diperlukan suatu proses yang disebut dengan operasionalisasi. Operasionalisasi dapat dipahami sebagai pengurangan abstraksi menjadi serangkaian nilai yang dapat diperoleh melalui proses spesifikasi (Manheim & Rich, 1995). Dengan kata lain, operasionalisasi mengubah konsep menjadi sesuatu yang lebih konkret agar lebih mudah dipahami. Salah satu cara operasionalisasi yang dapat dilakukan adalah pengukuran yang didefinisikan oleh Manheim & Rich (1995) sebagai penetapan numeral untuk mewakili properti yang disarankan oleh konsep yang dijelaskan melalui operasioanalisasi. Pengukuran dapat dilakukan melalui tiga tingkat pengukuran menurut Mainheim & Rick (1995) yakni (1) nominal; (2) ordinal; dan (3) interval. Tingkat nominal terdiri atas variabel-variabel yang horizontal atau sejajar kedudukannya, seperti agama, gender, atau kewarganegaraan. Meski didalam variabel tersebut terdapat perbedaan, namun tidak ada struktur vertikal sehingga hanya dapat memberi informasi yang minimal. Dalam tingkatan ordinal, variabel dapat diurutkan atau terdapat tingkatan dalam variabel. Tingkatan ini dinilai dapat memberi lebih banyak informasi karena dapat mengkategorikan fenomena yang ada kedalam tingkatan-tingkatan (Mainheim & Rich, 1995). Sedangkan dalam tingkatan interval, atribut yang ada dalam variabel memiliki jarak yang bermakna tertentu. Tingkatan ini dinilai dapat memberi informasi terbanyak karena dapat mengkategorikan, mengurutkan, dan menjelaskan seberapa banyak properti pengukuran yang dimiliki.

Dapat disimpulkan bahwa konsep merupakan hal yang krusial dalam perkembangan ilmu pengetahuan karena merupakan penyusun teori yang digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena tertentu. Konsep sebagai suatu hal yang abstrak, dapat diperluas dan dipersempit untuk melahirkan gagasan terkait fenomena yang akan diteliti. Konsep dapat terbentuk melalui dua cara yakni konseptualisasi dan operasionalisasi. Konseptualisasi membentuk konsep dari fakta dan fenomena empiris yang ada, sedangkan operasionalisasi lebih merujuk ke proses menurunkan tingkat keabstrakan suatu konsep itu sendiri. Dalam proses operasionalisasi, terdapat pengukuran yang dapat dilakukan dengan mengklasifikasikannya menjadi tiga tingkatan yakni nominal, ordinal, dan interval. Penulis beropini bahwa penggunaan konsep yang tidak tepat dapat mengarah kepada salah persepsi dan kefatalan pada penelitian, sehingga perlu dilakukan pemahaman mendalam terkait konsep sebagai implementasi dari teori yang digunakan.

Referensi:

Collier, David & Levistsky, Stephen. 1997. “Democracy with Adjectives: Conceptual Innovation in Comparative Research” dalam World Politics, Vol. 49, No. 3, pp. 430-451

Gerring, John. 1999. “What Makes a Concept Good?: A Criterial Framework for Understanding Concept Formation in the Social Sciences” dalam Polity, Vol. 31, No. 3, pp. 357-393

Goertz, Gary. 2006. Social Science Concepts: A User’s Guide. Princeton: Princeton University Press, pp. 27-94

Manheim, Jarol B & Rich, Richard C. 1995. “From Abstract to Concrete: Operationalization and Measurement” dalam Empirical Political Analysis: Research Methods in Political Science. London: Longman Publisher, pp. 56-83

Manheim Jarol B, & Rich, Richard C. 1995. “Scaling Techniques” dalam Empirical Political Analysis: Research Methods in Political Science. London: Longman Publisher, pp. 171-183