Media kenegaraan Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), merilis berita kedatangan Kim Jong Un pada acara pembukaan pabrik pupuk di Kota Sunchon, pada Jumat lalu. Mereka juga mengunggah sejumlah foto yang menunjukkan Presiden Kim sedang tersenyum sembari memotong pita peresmian. Foto lain menunjukkan dirinya tersenyum di bawah spanduk bertuliskan “Sunchon Phosphatic Fertilizer Factory: Completion Ceremony: May 1, 2020”.

Dikabarkan ribuan masyarakat Korea Utara dengan gembira menyambut kehadiran Kim Jong Un. Mereka berkumpul dan menggunakan masker, kemudian melepas balon-balon seraya berteriak mendukung Kim. Setelah acara pemotongan pita selesai, Kim melakukan tur berkeliling pabrik dengan terlihat ditemani oleh petugas-petugas senior dari Korean Worker’s Party (KWP) serta adik perempuannya, Kim Yo-Jong. Berdasarkan foto-foto yang beredar, Presiden Kim tidak terlihat tidak nyaman atau kurang sehat, ia juga tidak menggunakan tongkat.

Kehadiran Kim Jong Un dalam acara tersebut merupakan penampakannya di depan publik untuk yang pertama kali setelah ia dikabarkan “menghilang” dari media selama hampir satu bulan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia baru saja melakukan operasi jantung dan membutuhkan waktu pemulihan, bahkan terdapat pula rumor bahwa ia sakit parah dan meninggal dunia. Namun tulisan KCNA pada Sabtu lalu terbukti membantah berita-berita tersebut, meski tetap tidak menyebutkan secara pasti alasan dibalik absennya Kim.

Sebelumnya, Kim Jong Un terakhir kali terlihat pada 11 April ketika ia menghadiri pertemuan dengan the politburo dari KWP. Dalam pertemuan tersebut, mereka mendiskusikan langkah pencegahan virus corona dan menunjuk Kim Yo-Jong untuk menjadi anggota Political Bureau dari kelompok inti dalam partai – jabatan yang cukup penting untuknya. Namun kemudian, publik mulai mempertanyakan keberadaannya ketika Presiden Kim tidak hadir dalam acara “Day of the Sun” pada tanggal 15 April untuk memperingati hari kematian kakeknya, Kim Il-sung – bapak penemu Korea Utara. Selama ia menjabat sebagai presiden, Kim belum pernah absen dalam hari yang disebut sebagai hari peringatan terpenting dalam kalender politik Korea Utara tersebut. Sehari sebelumnya, Kim juga tidak hadir dalam acara pelepasan misil jarak pendek meski umumnya ia selalu hadir dalam percobaan nuklir yang dilakukannya.

Rumor kemudian mulai menguasai media, mengklaim bahwa Kim Jong Un sedang mengalami kondisi kesehatan yang buruk dan berada dalam bahaya besar. Hal ini didukung dengan berita bahwa Tiongkok telah mengirimkan ahli medis ke Pyongyang untuk menyelamatkannya. Agensi media Korea Selatan, Daily NK, menuliskan bahwa Kim melakukan prosedur cardiovascular di Rumah Sakit Hyangsan – dekat Pyongyang – pada tanggal 12 April dan kemudian masuk pada masa pemulihan di villa miliknya di dekat Mount Myohyang. Mereka juga mengatakan bahwa kesehatan Kim memang sudah mulai menurun sejak Agustus lalu, disebabkan oleh banyak merokok, obesitas, dan bekerja terlalu keras. Sejumlah media Amerika Serikat juga menuliskan bahwa Kim memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in sendiri mengatakan bahwa Seoul tidak mendeteksi adanya kejanggalan atau reaksi darurat dari anggota partai, militer, maupun pemerintahan Korea Utara, sehingga ia percaya bahwa Kim masih sanggup untuk menjalankan perannya namun harus menetap di lokasi di luar Pyongyang yang tidak menentu. KCNA sendiri juga menuliskan bahwa Kim tetap menjalankan rutinitas sehari-harinya diluar publik, seperti mengirimkan salam diplomatik untuk Suriah, Kuba, dan Afrika Selatan, juga mengirimkan ucapan terima kasih untuk para pekerja fasilitas pariwisata di Wonsan.

Sementara itu, Menteri Unifikasi Korea Selatan, Kim Yeon-chul, menyatakan bahwa terdapat kemungkinan Kim tengah melakukan langkah lanjutan akibat terinfeksi virus COVID-19. Sejauh ini, Korea Utara belum melaporkan adanya satu kasus pun di wilayahnya, meski secara geografis berbatasan langsung dengan awal penyebaran pandemi, Tiongkok. Hal ini banyak menimbulkan skeptisme dari para ahli, termasuk Harry Kazianis, seorang direktur senior di the Center for National Interest, yang mengatakan bahwa penjelasan paling masuk akal untuk ketidakhadiran Kim adalah kemungkinan besar ia sedang mengambil langkah-langkah pencegahan untuk memastikan kesehatannya atau ia telah terkena dampak virus itu sendiri.

Menilik lebih dalam, ketidakhadiran Kim Jong Un di media telah menimbulkan kekhawatiran dari negara-negara di dunia karena jika ia wafat, maka muncul pertanyaan terkait siapa yang akan menjadi penerusnya dan kekacauan yang dapat terjadi. Kemungkinan besar jabatannya akan diserahkan pada adiknya, Kim Yo-jong, namun hal ini sulit untuk diterima oleh para tetua politik di Korea Utara yang menganggap bahwa Kim Yo-jong masih terlalu muda, belum terbukti mampu, dan tidak memiliki latar belakang militer. Para ahli mengatakan bahwa Korea Selatan harus mempersiapkan diri atas kekacauan yang dapat terjadi seperti gelombang pengungsi dan peluncuran misil nuklir. Leif-Eric Easley, seorang profesor di Ewha University berpendapat bahwa instabilitas Korea Utara dapat berakibat sangat buruk sehingga Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang membutuhkan koordinasi dan rencana yang matang untuk menghadapi hal ini.

Referensi:

KIM TONG-HYUNG Associated Press. 2020. “N Korea’s Kim Jong Un Appears in Public Amid Health Rumors” [online] tersedia dalam https://abcnews.go.com/International/wireStory/nkoreas-kim-jong-appears-public-amid-health-rumors-70464115 [diakses 2 Mei 2020]

McCurry, Justin. 2020. “Kim Jong-un Reappears in North Korea After Weeks of Speculation – Reports” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/may/02/kim-jong-un-reappears-in-north-korea-after-weeks-of-speculation-reports [diakses 2 Mei 2020]

Sang-Hun, Choe. 2020. “Kim Jong-un Resurfaces, State Media Says, After Weeks of Health Rumors” [online] tersedia dalam https://www.nytimes.com/2020/05/01/world/asia/kim-jong-un-resurfaces.html [diakses 2 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti