Pihak pemerintah Amerika Serikat dan representatif dari kelompok Taliban telah menandatangani kesepakatan atas negosiasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Qatar pada tanggal 29 Ferbruari 2020. Peristiwa penandatanganan tersebut juga dihadiri oleh para perwakilan representatif dari negara-negara lain yakni Pakistan, Qatar, Turki, Indonesia, India, Uzbekistan, dan Tajikistan. Kesepakatan tersebut diyakini dapat menjadi akhir dari perang di Afghanistan yang telah berlangsung selama lebih dari 18 tahun. Kesepakatan ini mengandung empat poin utama yakni penentuan jangka waktu 14 bulan untuk penarikan pasukan Amerika Serikat dan NATO di Afghanistan, komitmen Taliban untuk tidak menggunakan tanah Afghanistan sebagai landasan peluncuran yang dapat mengancam keamanan Amerika Serikat, adanya kepastian terkait pelaksanaan negosiasi antara pemerintah Afghanistan dan Taliban pada tanggal 10 Maret, serta dilakukannya gencatan senjata yang permanen dan komprehensif antara kedua belah pihak.

Sesaat sebelum penandatanganan tersebut dilakukan, Amerika Serikat telah mengeluarkan pernyataan terkait perintah untuk menarik kembali semua pasukannya dalam kurun waktu 14 bulan jika Taliban tetap memegang komitmennya untuk menghentikan serangan dan menjaga keamanan. Hingga tahun 2019, terdapat sekitar 14.000 pasukan Amerika Serikat dan 17.000 pasukan aliansi NATO dan negara-negara lain yang bertugas di Afghanistan. Komitmen Taliban untuk menahan serangan telah dilakukan sejak kesepakatan reduction in violence antara Taliban, Amerika Serikat, dan pemerintah Afghanistan. Hal ini kemudian menyebabkan turunnya jumlah kekerasan dan korban jiwa yang sangat drastis, sehingga dipandang sebagai sebuah kesuksesan dan langkah maju yang positif untuk mengakhiri perang.

Secara historis, perang yang terjadi di Afghanistan diawali dengan peristiwa serangan 9/11 yang terjadi di Amerika Serikat. Tersangka utama dalam penyerangan tersebut, Osama bin Laden, kemudian melarikan diri ke Afghanistan dan mencari perlindungan di bawah kuasa Taliban. Maka, tidak lama setelahnya, Amerika Serikat meluncurkan serangan udara pertamanya ke Afghanistan pada tanggal 7 Oktober dan mulai menyerang wilayah pelatihan militer Taliban dan Afghanistan. Seiring berjalannya waktu, sejumlah negara-negara lain juga bergabung dalam perang tersebut hingga berhasil menjatuhkan Taliban dari kekuasaan. Pada tahun 2004, pemerintah Afghanistan yang didukung oleh Amerika Serikat kemudian berkuasa. Namun, setelah dilumpuhkan kelompok Taliban tidak hilang begitu saja melainkan mulai membangun massa hingga mendapatkan kembali pengaruh dan kekuatannnya. Dukungan mulai didapatkan Taliban dari Pakistan dan wilayah sekitarnya, serta memperoleh uang dari hasil penjualan narkoba, hasil tambang, dan pajak. Sejak itu, Amerika Serikat dan para aliansinya telah berupaya untuk menjaga eksistensi pemerintah Afghanistan dan menghentikan pergerakan Taliban.

Perang yang tidak kunjung menemui akhir di Afghanistan tersebut kemudian mulai menjenuhkan Amerika Serikat dan negara-negara lain, serta telah memakan banyak korban dan biaya. Selama 18 tahun, Amerika Serikat telah mengorbankan 2.400 kerusakan militer di Afghanistan dan diperkirakan telah menghabiskan 137 miliar dolar. Berdasarkan laporan PBB Februari 2019, sekitar 32.000 masyarakat sipil terbunuh dan sekitar 3.500 anggota koalisi internasional gugur dalam perang. Pada tahun 2009, jumlah pasukan Amerika Serikat di Afghanistan mencapai angka 100.000 dan berhasil mendorong Taliban dari wilayah bagian selatan. Namun meski demikian, Taliban berhasil bangkit dan mengembalikan balance of power yang ada.

Di bawah kepemimpinan Donald Trump, Amerika Serikat telah berupaya untuk membuka jalan negosiasi dengan kelompok Taliban. Pada bulan September 2019, negosiasi langsung dengan para petinggi Taliban terkait isu counterterrorism pertama kali dilakukan di Doha. Namun kemudian, Amerika Serikat membatalkan pertemuan selanjutnya akibat tewasnya pasukan akibat serangan Taliban. Pembatalan tersebut memicu amarah Taliban hingga kemudian melakukan serangan-serangan lain yang semakin parah sepanjang tahun 2019. Sejumlah perang dan serangan kemudian terjadi lagi hingga pada Januari 2020, negosiasi kembali dilakukan. Trump telah menunjukkan keinginannya untuk menarik kembali semua pasukannya di Afghanistan dan mengakhiri perang sebelum pemilihan umum Amerika tahun 2020. Sejak Oktober lalu, komandan Amerika Serikat menyatakan bahwa pasukan telah banyak berkurang dan akan sepenuhnya pergi dari Afghanistan dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Peristiwa di atas kemudian menimbulkan pertanyaan terkait masa depan Afghanistan. Hilangnya dukungan pasukan Amerika Serikat dapat melemahkan pertahanan pemerintah Afghanistan sehingga dapat membuka jalan bagi Taliban untuk kembali berkuasa. Namun, kesepakatan yang telah ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Taliban menunjukkan bahwa perang telah berakhir selama kedua pihak tetap memegang komitmennya untuk tidak saling menyerang. Pemerintah Afghanistan juga telah menyatakan niatnya untuk melakukan negosiasi dengan Dewan Keamanan PBB agar mencabut Taliban dari daftar sanksi sebelum tanggal 29 Mei. Meski demikian, situasi di Afghanistan masih membutuhkan perhatian dan bantuan internasional agar dapat kembali damai dan memiliki stabilitas politik, ekonomi, dan sosial yang baik.

Referensi:

Qazi, Shereena. 2020. “Afghanistan’s Taliba, US Sign Agreement Aimed at Ending War” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/02/afghanistan-taliban-sign-deal-america-longest-war-200213063412531.html [diakses 1 Maret 2020]

Thomas, Clayton. 2020. Afghanistan: Background and US Policy in Brief. Congressional Research Service.

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com