Meski tengah berada dalam kondisi lockdown akibat pandemik virus COVID-19, masyarakat Chili  dan aparat kepolisian bentrok dalam aksi demonstrasi di Santiago pada Hari Senin lalu. Sejumlah warga melakukan aksinya dengan melempar batu, berteriak, dan membakar potongan-potongan kayu hingga memblokir jalanan di sekitar wilayah selatan Santiago. Kota yang sejatinya termasuk wilayah yang paling sejahtera di Chili tersebut telah menerapkan lockdown sejak Jumat lalu, sedangkan El Bosque – tempat demonstrasi terjadi – banyak ditinggali oleh masyarakat miskin dan telah berada dalam kondisi lockdown sejak pertengahan April. Terkait aksi protes yang terjadi, telah beredar foto-foto dokumentasi dan video di media sosial dan saluran televisi lokal yang menunjukkan ketegangan yang terjadi dalam kejadian tersebut. Terlihat para petugas polisi menembakkan gas air mata dan tembakan air untuk membubarkan kerumunan yang ada.

Menurut keterangan dari media setempat, aksi protes dilakukan di wilayah yang mengalami tingkat kemiskinan tinggi. Mereka menuntut pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan bahan pangan yang menipis di daerah El Bosque – dimana mayoritas masyarakat bekerja secara informal atau bahkan tidak sama sekali. Daerah tersebut telah memasuki program karantina dan lockdown sejak pertengahan April. Wali kota El Bosque, Sadi Melo dari partai oposisi Sosialis, mengatakan pada Radio BioBio bahwa permintaan bahan pangan telah meningkat sejak beberapa pekan lalu dan hingga kini masih dalam batas kekurangan dan saat ini masyarakat sedang mengalami situasi kelaparan yang kompleks dan kekurangan lapangan pekerjaan.

Aksi protes kemudian diharapkan dapat menarik perhatian pemerintah Chili untuk segera memperhatikan wilayah yang sedang dilanda kelaparan dan kemiskinan tersebut. Protes ini juga dilaksanakan tepat sehari setelah Presiden Sebastian Pinera mengumumkan lima bantuan dari pemerintah melalui saluran televisi nasional, yang mana salah satu di antaranya adalah pemberian distribusi sekitar 2,5 juta keranjang makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya untuk wilayah-wilayah yang paling rentan dan banyak berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah.

Dalam situasi pandemik saat ini, pemerintah Chili telah mengeluarkan sejumlah kebijakan yang kemudian berdampak pada situasi ekonomi dan sosial masyarakat. Sejak pertengahan April, pemerintah Chili telah menerapkan program karantina di lebih dari separuh wilayahnya untuk mengurangi penyebaran virus corona. Namun akibatnya, program karantina telah berimbas pada ribuan warga Chili yang sedang dilanda kemiskinan. Pemasukan mereka yang tidak seberapa kini menjadi semakin berkurang, hingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, program karantina dan lockdown juga menambah jumlah pengangguran akibat pemecatan massal yang dilakukan oleh banyak perusahaan yang tutup akibat corona. Hingga kini, kementerian kesehatan Chili melaporkan telah terdapat 46.059 kasus positif dengan 478 kematian, sehingga pemerintah menganggap program lockdown masih harus berlanjut. Namun di sisi lain, masyarakat terus berupaya untuk mendesak pemerintah agar bertanggung jawab dan menemukan solusi atas permasalahan yang timbul akibat program-program tersebut.

Lebih lanjut, aksi demonstrasi yang serupa dengan aksi di Santiago ternyata juga terjadi di sejumlah wilayah di Amerika Latin. Di Brazil, masyarakat dari favela atau daerah kumuh di Sao Paulo melakukan demonstrasi ke kantor pemerintahan untuk meminta bantuan. Aksi serupa juga terjadi di Kolombia, masyarakat menggantung pakaian berwarna merah di depan rumahnya untuk menandakan adanya anggota keluarga yang tengah kelaparan. Sementara itu di El Salvador, masyarakat telah melakukan aksi dengan memukul panci di depan gedung-gedung pemerintahan untuk protes terhadap lockdown. Dengan kata lain, isu kemiskinan, ketersediaan sumber daya yang terbatas, dan sistem sosial yang lemah di negara-negara Amerika Latin kemudian menjadi tantangan tersendiri untuk pemerintah dari negara-negara tersebut khususnya di tengah pandemik ketika program lockdown harus diterapkan agar virus tidak semakin menyebar.

Di Chili sendiri, ketidakstabilan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat telah mengalami peningkatan sejak Oktober 2019 setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga transportasi umum. Kemarahan masyarakat terhadap pemerintah juga dipicu oleh gaji yang terhitung rendah sementara harga bahan-bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari semakin meningkat dengan pesat. Kesenjangan ekonomi kemudian menjadi isu yang harus dihadapi oleh warga Chili. Terlebih, dalam situasi pandemik, aksi protes dan demonstrasi lebih sering terjadi dalam kurun waktu yang berdekatan akibat keadaan yang sudah sangat mendesak. Meski Presiden Pinera telah melakukan sejumlah kebijakan stimulus untuk mengurangi dampak buruk dalam perekonomian domestik, namun respon masyarakat dan sejumlah kritikus ekonomi dan politik merefleksikan kenyataan bahwa tindakan tersebut belum cukup untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Referensi:

BBC. 2020. “Coronavirus: Chile Protesters Clash with Police over Lockdown” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-latin-america-52717402 [diakses 20 Mei 2020]

Fuentes, Valentina. 2020. “Protests Over Food Shortages in Chile Amid Virus Lockdown” [online] tersedia dalam https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-05-19/protests-over-food-shortages-erupt-in-chile-amid-virus-lockdown [diakses 20 Mei 2020]

Newman, Lucia. 2020. “Chile COVID-19 Lockdown: Poor Santiago Residents Demand Food Aid” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/05/chile-covid-19-lockdown-poor-santiago-residents-demand-food-aid-200519075527144.html [diakses 20 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti