Kamis lalu, kebocoran gas beracun terjadi di salah satu pabrik kimia di kota industrial India, Visakhapatnam.  Pabrik tersebut dioperasikan oleh LG Polymers yakni salah satu unit pembuat cairan kimia petrol terbesar yang berbasis di Seoul, Korea Selatan. Setidaknya tercatat 11 orang meninggal dunia akibat keracunan gas dengan tiga di antaranya masih anak-anak dan ratusan lainnya harus dilarikan ke rumah sakit di sekitar kota dengan jumlah penduduk 3.000 jiwa tersebut. Video yang diunggah oleh saluran televisi India menunjukkan bahwa banyak orang-orang yang terbaring lemas dan tak sadarkan diri di jalanan, tidak lama setelah gas bocor.

Menurut Srijana Gummala, salah satu anggota komisioner dari the Greater Visakhapatnam Municipal Corporation, gas yang telah diidentifikasi sebagai gas styrene tersebut mengalami kebocoran di pagi hari ketika mayoritas penduduk sedang tidur atau belum memulai pekerjaan mereka di luar. Menurut keterangan Mekapati Goutham Reddy, Menteri Industrial, Komersial, dan Teknologi Informasi India, Kebanyakan korban sedang dalam posisi menyetir kendaraan atau sedang berada di teras sekitar rumahnya, sedangkan yang lain tidak sadarkan diri ketika sedang tidur. Kamal Kishore dari the National Disaster Management Authority (NDMA) menambahkan bahwa hampir 1.000 warga telah terekspos gas dan sekitar 20-25 orang sedang dalam kondisi kritis.

Tidak lama setelah kebocoran gas terjadi, jalan di sekitar wilayah industrial tersebut dipenuhi dengan orang-orang yang berlarian, banyak di antaranya yang juga menggendong korban yang terluka dan tidak sadarkan diri. Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan petugas-petugas darurat termasuk aparat kepolisian, pemadam kebakaran, dan ambulans segera tiba di lokasi pagi itu. Selain itu, para petugas dari the National Disaster Response Force (NDRF) juga turut menyelamatkan para warga dengan menggunakan baju dan masker pelindung, berupaya untuk membawa orang-orang yang telah pingsan ke ambulans secepatnya.

Gas yang bocor diidentifikasi sebagai gas styrene yaitu cairan mudah terbakar yang digunakan untuk membuat berbagai produk industrial antara lain polisterin, fiberglass, karet, dan lateks. Pimpinan wilayah Andhra Pradesh, Jagan Mohan Reddy, mengatakan dalam sebuah siaran televisi India pada hari Kamis bahwa kebocoran disebabkan oleh cairan styrene yang disimpan dalam waktu yang lama akibat program lockdown dan penutupan pabrik akibat pandemik COVID-19 sejak 25 Maret lalu. Setelah program lockdown dilonggarkan, pabrik kembali beroperasi dan menyebabkan larutan kimia tersebut bereaksi. Namun, hingga saat ini para ahli dan petugas pabrik masih berupaya mencari faktor-faktor krusial lain yang menyebabkan kebocoran yang terjadi agar tidak menjatuhkan lebih banyak korban masyarakat.

Lebih lanjut, meski telah dikatakan bahwa situasi telah berada dibawah kendali, pada hari Jumat pagi ini, mereka mengevakuasi lebih dari 1.000 warga yang bertempat tinggal di sekitar pabrik. Evakuasi dilakukan dengan memperlebar jalur hingga mencapai radius lima kilometer atau tiga mil dari sumber kebocoran. Salah satu anggota pemadam kebakaran, Surendra Anand, mengatakan bahwa saat ini situasi kembali tegang dan evakuasi harus dilakukan. Kegiatan evakuasi ini kemudian menimbulkan pertanyaan terkait adanya kebocoran lanjutan pada pabrik tersebut. Namun, pihak LG Chem membantah hal ini dan mengatakan bahwa evakuasi hanya dilakukan sebagai langkah pencegahan saja karena terdapat kekhawatiran bahwa suhu udara dalam tank gas dapat mengalami kenaikan. Selain evakuasi, mereka juga telah melakukan prosedur yang dibutuhkan yakni memasukkan air ke tank.

Sejatinya, India memang merupakan negara dengan jejak historis kerusakan industrial terparah di dunia, khususnya setelah kebocoran gas terjadi di salah satu pabrik pestisida di Bhopal pada Desember tahun 1984. Pada peristiwa tersebut, sekitar 3.500 orang meninggal dan diikuti oleh ribuan lainnya dalam tahun-tahun berikutnya. Menurut data statistik yang dikeluarkan pemerintah, setidaknya 100.000 warga yang tinggal di sekitar pabrik tersebut telah terkena dampak gas meski bertahun-tahun setelahnya. Kebanyakan korban kemudian mengidap penyakit kronis, menderita gangguan pernapasan dan ginjal, mengalami ketidakstabilan hormon, penyakit jiwa, bahkan kanker.

Referensi:

Sud, Vedika, et al. 2020. “Toxic Gas Leak at Indian Chemical Plant Kills at Least 11 and Hospitalizes Hundreds” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/05/07/asia/india-gas-leak-death-intl-hnk/index.html [diakses 8 Mei 2020]

Al-Jazeera. 2020. “More Evacuated from around India Chemical Plant after Gas Leak” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/05/deadly-gas-leak-india-chemical-plant-hundreds-hospitalised-200507035742356.html [diakses 8 Mei 2020]