Permasalahan mengenai keamanan negara-negara Baltik sejatinya bukan merupakan isu yang baru. Semenjak kemerdekaannya dari Uni Soviet pada tahun 1991, negara-negara Baltik memang berada dalam bayangan Rusia. Beberapa kali, Rusia memang melakukan aksi yang dianggap mengancam keamanan negara-negara Baltik. Salah satu contohnya adalah aksi yang dilakukan Rusia terhadap Eston Kohver pada tahun 2014 (BBC News, 2014). Aksi tersebut dianggap melewati batas kedaulatan Rusia dan masuk ke dalam wilayah Estonia. Hal tersebut menunjukkan adanya ancaman dari Rusia terhadap negara-negara Baltik. Secara tidak langsung, tingginya presentase jumlah etnis Rusia di Estonia dan Latvia juga dapat menjadi ancaman bagi masing-masing negara. Berdasar pada sensus penduduk tahun 2016, kelompok etnis asli Estonia merupakan mayoritas dengan 68,8% disusul dengan etnis Rusia dengan 25,1% (Stat.ee, 2016). Sementara itu, Latvia pada tahun 2011 terdiri dari 62,1% etnis asli Latvia dan 26,9% etnis Rusia (Csb.gov.lv, 2011). Berkaca pada konflik yang terjadi di Ukraina hingga adanya aneksasi Crimea, tidak menutup kemungkinan tingginya jumlah etnis Rusia di negara-negara tersebut dapat mengakibatkan konflik sosial maupun menjadi justifikasi bagi Rusia untuk melakukan intervensi sebagaimana yang terjadi sebelumnya.

Maka dari itu, secara rasional ketiga negara Baltik bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) pada tahun 2004. Dengan bergabungnya negara-negara Baltik ke dalam NATO, maka mereka akan mendapatkan perlindungan kolektif bersama dengan negara-negara anggotanya. Dalam hal ini, Estonia telah menunjukkan komitmennya terhadap NATO dengan telah menganggarkan anggaran militer setidaknya senilai 2% dari gross domestic product-nya (Economist, 2017). Selain itu, baik Latvia dan Lithuania juga berada dalam trajektori untuk memenuhi standar anggaran militer yang ditetapkan oleh NATO tersebut.

Namun bagaimanapun, Amerika Serikat memiliki andil yang tinggi dalam NATO termasuk dalam menjaga keamanan negara-negara Baltik dari Rusia. Selama ini, Amerika Serikat telah menunjukkan komitmennya untuk melakukan hal tersebut. Dalam masa kepemimpinan Barack Obama, Amerika Serikat memiliki keresahan atas aksi agresif Rusia di kawasan Eropa Timur (USA Today, 2014). Hal tersebut merujuk pada aneksasi Rusia di kawasan Crimea, Ukraina, yang menurut Obama sangat disayangkan dan sejatinya dapat dicegah. Tidak bergabungnya Ukraina ke NATO membuat negara-negara NATO tidak memiliki hak untuk melindungi Crimea dari Rusia. Maka dari itu, negara-negara Baltik yang telah bergabung dengan NATO diberikan jaminan atas keamanannya dari Rusia oleh Amerika Serikat pada era Barack Obama.

Pergantian kepemimpinan Amerika Serikat kemudian menimbulkan pertanyaan bagi masa depan keamanan negara-negara Baltik terhadap Rusia. Tidak hanya permasalahan pergantian rezim partai politik yang berkuasa, namun perpindahan kekuasaan dari Barack Obama ke Donald Trump memiliki pengaruh yang cukup terhadap orientasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat secara umum. Salah satu dampak yang cukup terlihat adalah terkait dengan preferensi Trump terhadap NATO. Menurut Gore (2016), Trump memiliki kecenderugnan untuk mengurangi intensitas Amerika Serikat dalam organisasi tersebut. Hal itu ditunjukkan dari keinginan Amerika Serikat untuk mengurangi jumlah kontribusinya ke dalam NATO.  Lebih dari itu, Barichella (2017) berpendapat bahwa Trump memiliki tendensi kedekatan dengan Vladimir Putin sebagai pemimpin Rusia saat ini. Maka dari itu, muncul keraguan apakah Amerika Serikat dalam kepemimpinan Trump dapat melindungi kawasan Baltik dari Rusia yang disebut memiliki kedekatan dengan Trump.

Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa Amerika Serikat di era Trump tidak akan banyak mengubah kondisi NATO di kawasan Baltik. Penulis berpendapat bahwa terlepas dari orientasi Trump sebagai pemimpin negara yang dinilai kurang mendukung anggaran berlebih di NATO, sebagai negara anggota, Amerika Serikat tetap memiliki kewajiban untuk melindungi negara-negara yang tergabung di dalamnya. Maka dari itu, orientasi pemimpin negara tidak akan banyak mengubah kondisi Amerika Serikat yang terikat dalam perjanjian NATO. Sebelumnya, Trump memang menyatakan bahwa dia tidak akan membantu negara-negara Baltik seandainya diserang oleh Rusia (CNBC, 2016). Namun, janji-janji politik Trump seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang ia lakukan dalam menjabat. Lebih lanjut, Trump juga sempat mengatakan bahwa dia merasa bahwa Amerika Serikat tidak perlu untuk mengurangi posisinya sebagai major power di NATO namun cukup mengurangi anggaran di organisasi tersebut (Gore, 2016).

Amerika Serikat juga telah setuju untuk menempatkan 6.000 personil militer beserta tank dan persenjataan lainnya di kawasan Baltik (Rigwell, 2017). Hal tersebut menunjukkan bahwa kawasan Baltik tetap mendapatkan dukungan dari NATO dan juga Amerika Serikat dalam mengamankan wilayahnya dari Rusia. Selain itu, keinginan Amerika Serikat untuk tetap bertahan di NATO dan juga menjadi major power di dalamnya juga menunjukkan akan minimnya perubahan kebijakan terkait isu keamanan di kawasan Baltik. Penulis berpendapat bahwa mempertahankan aliansi terhadap negara-negara NATO merupakan hal yang terlalu penting untuk tidak dihiraukan sehingga siapapun pemimpinnya Amerika Serikat akan tetap menjaga keamanan negara-negara anggota NATO.

Referensi:

Barichella, Arnault. (2017). The Trump Presidency: What Consequences Will This Have on Europe. European Issues, No. 417, hal. 1-11.

BBC News. (2014). Estonia angry at Russia ‘abduction’ on border – BBC News. [online] Tersedia di: http://www.bbc.com/news/world-europe-29078400 [Diakses pada 19 Mei 2017].

CNBC. (2016). Trump would not leap to defend Baltic states from Russian attack: NYT. [online] Tersedia di: http://www.cnbc.com/2016/07/21/trump-would-not-leap-to-defend-baltic-states-from-russian-attack-nyt.html [Diakses pada 19 May 2017].

Csb.gov.lv, (2011). Population Census 2011 – Key Indicators | Latvijas statistika. [online] Tersedia di: http://www.csb.gov.lv/en/statistikas-temas/population-census-2011-key-indicators-33613.html [Diakses pada 8 Mei 2017].

Economist. (2017). Military spending by NATO members. [online] Tersedia di: http://www.economist.com/blogs/graphicdetail/2017/02/daily-chart-11 [Diakses pada 19 Mei 2017].

Gore, D. (2016). What’s Trump’s Position on NATO? – FactCheck.org. [online] FactCheck.org. Tersedia di: http://www.factcheck.org/2016/05/whats-trumps-position-on-nato/ [Diakses pada 19 May 2017].

Ridgwell, H. (2017). US Signs Defense Pacts With Baltic States, but NATO Allies Wary of Trump Era. [online] VOA. Tersedia di: http://www.voanews.com/a/united-states-defense-pacts-baltic-states/3681669.html [Diakses pada 19 Mei 2017].

Stat.ee, (2016). Rahvaarv rahvuse järgi, 1. jaanuar, aasta – Eesti Statistika. [online] Tersedia di: http://www.stat.ee/34267 [Diakses pada 8 Mei 2017].

USA Today. (2014). Obama pledges to defend Baltic allies against Russia. [online] Tersedia di: https://www.usatoday.com/story/news/2014/09/03/obama-estonia-russia-baltic-states-ukraine/15009581/ [Diakses pada 19 May 2017].

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.