Di Italia, masyarakat tengah mengalami situasi yang sangat tidak biasa pasca keputusan pemerintah untuk melakukan lockdown aatau penutupan atas semua aktivitas bisnis dan komersial kecuali di bidang-bidang yang sangat esensial seperti apotek, toko bahan makanan, dan bank setidaknya dalam waktu satu bulan. Penutupan ini diperkirakan akan dihentikan pada tanggal 3 April mendatang. Hal ini dilakukan sebagai respon atas penyebaran virus corona yang semakin meningkat dan mencapai semua 20 wilayah bagian Italia, dengan sekitar lebih dari 12.000 orang telah terinfeksi dan lebih dari 800 di antaranya telah meninggal dunia. Peristiwa tersebut telah menimbulkan kekhawatiran dalam sistem kesehatan Italia yang tidak memiliki jumlah dokter dan perawat berlebih. Beberapa dokter bahkan menyatakan bahwa penting untuk dilakukan penyeleksian terhadap pasien karena permintaan yang sangat tinggi, sehingga pengobatan lebih diprioritaskan untuk para generasi muda karena memiliki kemungkinan bertahan yang lebih tinggi.

Beberapa minggu sebelumnya, Italia juga telah mengurangi bahkan menutup mobilitas dalam negeri dengan membatasi lalu lintas penerbangan yang masuk dan keluar Italia kecuali untuk alasan kesehatan dan pekerjaan, serta meliburkan sekolah-sekolah dan membatalkan acara-acara besar. Pada umumnya, aturan-aturan Italia sebagai negara demokrasi Barat, dipandang lebih bebas jika dibandingkan dengan gaya lockdown Tiongkok. Namun kini, beberapa jadwal kereta api mulai dihentikan dan para polisi berkeliling untuk memeriksa dokumen-dokumen. Sedangkan restoran dan kafe masih diperbolehkan buka meski dibatasi hanya hingga pukul enam malam. Pabrik-pabrik produksi dan manufaktur juga tetap diperbolehkan berjalan namun harus mematuhi prosedur keamanan dan memperbolehkan pekerjanya untuk mengambil hari cuti. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar menganggap outbreak ini sangat serius. Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte mengatakan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab terhadap semua penduduk Italia dan tetap akan memprioritaskan kesehatan masyarakat. Ia juga menyatakan rasa terima kasihnya dan memuji masyarakat Italia yang telah menerima keputusan ini dengan sangat baik serta bersedia untuk mematuhi peraturan-peraturan yang ada.

Christina Higgins, seorang warga negara Amerika Serikat yang tengah tinggal di Italia, telah mengunggah sebuah tulisan berjudul “The Heart of the Coronavirus Crisis” di laman Facebooknya terkait pengalamannya tinggal di Italia selama penyebaran virus corona berlangsung dan menghimbau masyarakat untuk terus waspada dan berhati-hati terhadap virus tersebut. Ia mengatakan bahwa perilaku dan tindakan dari masing-masing individu, baik dari pemerintah maupun masyarakat biasa, memiliki andil yang besar dalam pencegahan virus corona sehingga ia menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk menghambat penyebaran adalah dengan mengubah perilaku jutaan masyarakat di dunia. Saat ini di Italia, pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak keluar rumah kecuali untuk bekerja, alasan kesehatan, atau untuk membeli kebutuhan sehari-hari, serta menjaga jarak setidaknya satu meter antar individu untuk meminimalisir kemungkinan penyebaran virus di masyarakat.

Bagi masyarakat Italia sendiri, kebijakan ini cukup membingungkan, bahkan mengkhawatirkan karena terdapat banyak bisnis yang tidak dapat berjalan seperti para pemilik hotel yang hotelnya menjadi sepi meski sedang memasuki high season. Selain itu juga terdapat ketakutan bahwa jumlah penderita COVID-19 semakin meningkat hingga rumah sakit tidak dapat mengatasi dan menangani semua orang. Di wilayah Italia bagian utara, Piacenza, suasana menjadi lebih tenang dan sepi. Para penduduk lokal mengatakan bahwa kini pejalan kaki jarang terlihat dan jalanan menjadi sepi karena adanya perasaan ketidakpastian akan perlindungan dari teknologi dan keteraturan di masyarakat. Masyarakat Italia yang memiliki sejarah panjang terkait rasa ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah kini dengan penyebaran corona virus mulai berupaya untuk tidak mengedepankan kepentingan individu namun juga kepentingan bersama dengan mematuhi aturan-aturan pemerintah.

Meski demikian, kebijakan lockdown ini dapat memberi pengaruh dan resiko yang cukup besar pada perekonomian Italia, bahkan Eropa. Adanya pembatasan pariwisata, pembatalan acara-acara publik, serta penutupan sekolah, museum, dan gym kemudian menimbulkan keresahan di masyarakat terhadap bisnis di Italia. Jack Allen Reynolds, ahli ekonomi senior Eropa di Capital Economics mengatakan bahwa Italia dapat mengalami penurunan yang drastis di pertengahan pertama tahun ini dengan penurunan GDP diperkirakan sekitar 2% dari keseluruhan 2020. Sedangkan di sektor perbankan, efek spillover dari virus corona dapat berpengaruh pada stabilitas Eurozone dan supply chain antar negara-negara Eropa khususnya Jerman, mengingat keduanya memiliki keterkaitan yang tinggi antar satu sama lain.  Kementerian ekonomi Italia mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah bekerjasama dengan bank sentral untuk merumuskan kebijakan fiskal yang sesuai dan dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi Italia dan membantu perusahaan-perusahaan yang terkena dampak langsung dari lockdown tersebut. Maka dari itu, penyebaran virus corona yang diikuti dengan kebijakan lockdown dari pemerintah Italia kemudian tidak hanya dapat mempengaruhi dinamika perekonomian Italia saja, namun juga berpotensi dapat mempengaruhi Eropa sehingga dibutuhkan langkah-langkah dan strategi yang matang agar kerugian dapat diminimalisir.

Referensi:

Sandler, Rachel. 2020. “Italy Shuts Down All Stores Except Supermarkets and Pharmacies, Escalating Coronavirus Lockdown” [online] tersedia dalam https://www.forbes.com/sites/rachelsandler/2020/03/11/italy-closes-all-stores-escalating-coronavirus-lockdown/#171a48ee55d0 [diakses 12 Maret 2020]

Bell, Bethany. 2020. “Coronavirus: Confusion and Fear Sweep Through Italy Amid Lockdown” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-europe-51815911 [diakses 12 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com